Program Sekolah Kemitraan gratis. Foto Pemrov Jateng.
Semarang. EDUKASIA.ID - Mimpi melanjutkan sekolah sempat terasa berat bagi sejumlah siswa dari keluarga kurang mampu di Brebes.
Namun Program Sekolah Kemitraan gratis dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuat mereka kini bisa kembali menata masa depan.
Salah satunya dirasakan Bunga Mawar. Anak petani itu mengaku hampir memutuskan berhenti sekolah setelah lulus karena kondisi ekonomi keluarga.
“Saya sempat bilang ke orang tua mau berhenti sekolah aja, karena keadaan ekonomi tidak memungkinkan,” ujarnya.
Bunga bahkan sudah berencana ikut bekerja bersama kakaknya. Namun rencana itu berubah setelah dirinya mendapat kabar diterima di Program Sekolah Kemitraan gratis.
"Saya senang sekali waktu ditelepon dapat sekolah gratis. Kalau tidak ada program ini, mungkin saya tidak bisa melanjutkan sekolah," katanya.
Program yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen itu juga membantu Valentina, siswi asal Desa Grinting, Brebes.
Anak petani tersebut sebelumnya sempat merasa tidak mungkin bisa melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya keluarga.
“Perasaan saya senang banget karena bisa lanjut sekolah lagi. Dulu saya kirain nggak bakal bisa sekolah, karena ekonomi keluarga kurang mampu,” kata Valentina ditemui di sekolahnya, Rabu, 13 Mei 2026.
Kini Valentina bersekolah gratis di SMK Mitra Karya Mandiri, Ketanggungan, Brebes, sebagai siswi kelas 10 jurusan Analis Kesehatan.
Dia mengaku sempat menangis saat mendengar pidato Ahmad Luthfi ketika berkunjung ke sekolahnya beberapa waktu lalu.
“Pas Pak Gubernur cerita tentang orang tua, saya jadi keingat orang tua saya juga,” tuturnya.
Melalui program tersebut, seluruh kebutuhan pendidikan siswa ditanggung selama tiga tahun. Mulai dari SPP, seragam, sepatu, perlengkapan sekolah hingga biaya PKL dan kunjungan industri diberikan tanpa biaya.
“Semuanya gratis. Dan kami tidak dibedakan sama siswa lain,” katanya.
Cerita serupa juga dialami Diah Alifah Setia. Siswi kelas 10 jurusan Asisten Keperawatan itu mengaku kemungkinan besar dirinya tidak dapat melanjutkan sekolah tanpa bantuan program tersebut.
“Kalau tidak ada bantuan ini, mungkin saya tidak bisa melanjutkan sekolah,” kata Diah.
Diah yang tinggal bersama ayahnya mengatakan program sekolah gratis itu sangat membantu kondisi ekonomi keluarganya.
“Senang karena bisa meringankan ekonomi orang tua,” ujarnya.
Dia juga memastikan seluruh fasilitas pendidikan diberikan secara cuma-cuma.
“Semuanya gratis, tidak ada pemungutan biaya sama sekali,” katanya.
Kepala SMK Mitra Karya Mandiri Brebes, Siti Lestari, mengatakan Program Sekolah Kemitraan sangat membantu siswa dari keluarga miskin, termasuk anak yatim piatu dan kategori miskin ekstrem.
“Masih banyak siswa miskin yang membutuhkan biaya pendidikan. Dengan adanya program Sekolah Kemitraan ini sangat membantu anak-anak, di sini ada anak yatim piatu sampai miskin ekstrem yang membutuhkan biaya pendidikan. Program ini benar-benar membantu,” katanya.
Menurutnya, seluruh kebutuhan pendidikan siswa penerima manfaat ditanggung sekolah melalui program tersebut.
“Saya sempat bilang ke orang tua mau berhenti sekolah aja, karena keadaan ekonomi tidak memungkinkan,” ujarnya.
Bunga bahkan sudah berencana ikut bekerja bersama kakaknya. Namun rencana itu berubah setelah dirinya mendapat kabar diterima di Program Sekolah Kemitraan gratis.
"Saya senang sekali waktu ditelepon dapat sekolah gratis. Kalau tidak ada program ini, mungkin saya tidak bisa melanjutkan sekolah," katanya.
Program yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen itu juga membantu Valentina, siswi asal Desa Grinting, Brebes.
Anak petani tersebut sebelumnya sempat merasa tidak mungkin bisa melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya keluarga.
“Perasaan saya senang banget karena bisa lanjut sekolah lagi. Dulu saya kirain nggak bakal bisa sekolah, karena ekonomi keluarga kurang mampu,” kata Valentina ditemui di sekolahnya, Rabu, 13 Mei 2026.
Kini Valentina bersekolah gratis di SMK Mitra Karya Mandiri, Ketanggungan, Brebes, sebagai siswi kelas 10 jurusan Analis Kesehatan.
Dia mengaku sempat menangis saat mendengar pidato Ahmad Luthfi ketika berkunjung ke sekolahnya beberapa waktu lalu.
“Pas Pak Gubernur cerita tentang orang tua, saya jadi keingat orang tua saya juga,” tuturnya.
Melalui program tersebut, seluruh kebutuhan pendidikan siswa ditanggung selama tiga tahun. Mulai dari SPP, seragam, sepatu, perlengkapan sekolah hingga biaya PKL dan kunjungan industri diberikan tanpa biaya.
“Semuanya gratis. Dan kami tidak dibedakan sama siswa lain,” katanya.
Cerita serupa juga dialami Diah Alifah Setia. Siswi kelas 10 jurusan Asisten Keperawatan itu mengaku kemungkinan besar dirinya tidak dapat melanjutkan sekolah tanpa bantuan program tersebut.
“Kalau tidak ada bantuan ini, mungkin saya tidak bisa melanjutkan sekolah,” kata Diah.
Diah yang tinggal bersama ayahnya mengatakan program sekolah gratis itu sangat membantu kondisi ekonomi keluarganya.
“Senang karena bisa meringankan ekonomi orang tua,” ujarnya.
Dia juga memastikan seluruh fasilitas pendidikan diberikan secara cuma-cuma.
“Semuanya gratis, tidak ada pemungutan biaya sama sekali,” katanya.
Kepala SMK Mitra Karya Mandiri Brebes, Siti Lestari, mengatakan Program Sekolah Kemitraan sangat membantu siswa dari keluarga miskin, termasuk anak yatim piatu dan kategori miskin ekstrem.
“Masih banyak siswa miskin yang membutuhkan biaya pendidikan. Dengan adanya program Sekolah Kemitraan ini sangat membantu anak-anak, di sini ada anak yatim piatu sampai miskin ekstrem yang membutuhkan biaya pendidikan. Program ini benar-benar membantu,” katanya.
Menurutnya, seluruh kebutuhan pendidikan siswa penerima manfaat ditanggung sekolah melalui program tersebut.
“Mulai daftar ulang, seragam, SPP, sampai PKL dan kunjungan industri, semuanya gratis,” jelasnya.
Saat ini terdapat 36 siswa penerima manfaat di sekolah tersebut. Siti berharap program itu terus berlanjut dan kuotanya ditambah agar lebih banyak anak kurang mampu bisa bersekolah.
“Harapan program kami ini terus berjalan dan kuotanya ditambah supaya makin banyak anak bisa sekolah,” ujar Siti.
Sementara itu, ayah Valentina, Abdurohim, mengaku tidak akan mampu membiayai sekolah anaknya tanpa adanya program sekolah gratis tersebut.
“Kalau tidak ada program sekolah gratis ini, saya tidak mampu menyekolahkan anak saya,” kata Rohim.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.