Warga perumahan Bringin Lestari Semarang sukses kelola fasilitas masjid secara mandiri lewat iuran dan aksi nyata gotong royong. Foto Ist.
Semarang, EDUKASIA.ID – Rambut boleh memutih dan sisa tenaga tak lagi sekuat masa muda. Namun bagi Setyo Nuryanto dan belasan warga di Perum Bringin Lestari, Ngaliyan, Kota Semarang, peluh yang menetes di lantai masjid setiap Jumat pagi adalah cara terbaik untuk bersyukur.
Di saat sebagian orang memilih memperpanjang tidur di hari libur, para pensiunan muda dan warga produktif di sini justru sudah memegang sapu dan kain pel.
Mereka sedang menjemput berkah di Masjid Baitul Muttaqin, membuktikan bahwa sisa usia bukan alasan untuk berhenti berguna.
Aktivitas ini sudah jadi agenda rutin di masjid yang terletak di Jalan Bukit Beringin Elok tersebut.
Setiap Jumat pagi, warga sekitar selalu mengadakan kerja bakti untuk membersihkan seluruh area masjid sebelum dipakai untuk shalat Jumat.
Menariknya, penggerak aksi bersih-bersih ini didominasi oleh warga usia produktif dan para pensiunan muda.
Rata-rata mereka berada di usia kepala lima, yang merupakan usia standar pensiun karyawan pabrik atau kantoran. Kondisi fisik mereka masih bugar dan aktif dalam kegiatan sosial.
"Setiap Jumat pagi kami bersihkan masjid supaya jamaah nyaman saat ibadah. Walaupun beberapa sudah masuk usia pensiun, kami ingin tetap produktif dan berperan untuk masyarakat," kata Setyo Nur, salah satu relawan di lokasi.
Kegiatan ini bukan gerakan musiman. Warga setempat sudah konsisten merawat masjid ini sejak pertama kali digunakan untuk salat Jumat pada 17 Agustus 2018 lalu.
Perumahan biasa, masjid mewah
Perumahan Bringin Lestari sendiri bukan kawasan elite atau komplek mewah. Mayoritas warga di sini adalah pekerja urban dan pensiunan dengan penghasilan yang terukur.
Meski begitu, kepedulian mereka terhadap fasilitas ibadah cukup tinggi.
Ketua Takmir Masjid Baitul Muttaqin, Wakiman, menyebutkan bahwa gerakan kerja bakti ini berjalan organik tanpa paksaan.
Setiap pekan, ada sekitar 3 sampai 15 orang yang datang langsung ke masjid berdasarkan kesadaran masing-masing.
"Semua berjalan tanpa banyak instruksi. Sudah jadi kebiasaan dan budaya warga di sini untuk saling merawat masjid," ujar Wakiman.
Kemandirian warga juga terlihat dari cara mereka mengelola fasilitas. Tanpa mengandalkan bantuan dari luar, warga patungan menyisihkan uang dari kantong pribadi.
Dari hasil iuran mandiri tersebut, pengurus masjid baru-baru ini terbantu dengan terpasangnya lima unit AC baru di ruang utama. Pemasangan AC ini bertujuan agar jamaah bisa beribadah dengan sejuk dan nyaman.
Edukasi karakter berbasis keteladanan
Aktivitas rutin di lingkungan tempat ibadah ini secara tidak langsung menjelma sebagai ruang edukasi karakter yang riil bagi lingkungan sekitar.
Nilai-nilai sosial, kepedulian lingkungan, serta kemandirian tidak diajarkan lewat teori di dalam kelas, melainkan melalui kurikulum kehidupan yang nyata.
Konsistensi para pensiunan muda dan warga senior ini menjadi media pembelajaran informal sekaligus teladan langsung bagi generasi yang lebih muda.
Khususnya mengenai pentingnya menjaga aset publik dan merawat kebersamaan di tengah masyarakat urban.
Ibu-Ibu berperan dalam Jumat Berkah
Kekompakan warga tidak berhenti di urusan fisik bangunan saja. Di bagian lain, kelompok ibu-ibu perumahan juga aktif bergerak mengelola program "Jumat Berkah".
Modal kegiatannya murni dari uang iuran sukarela warga setempat. Uang yang terkumpul kemudian dibelanjakan bahan makanan, lalu dimasak bersama untuk menghasilkan sekitar 250 paket makanan siap saji setiap minggunya.
Paket makanan ini dibagikan gratis kepada para jamaah setelah salat Jumat selesai. Kondisi di Masjid Baitul Muttaqin Ngaliyan ini menunjukkan bahwa inisiatif sosial tidak harus menunggu dana besar dari pihak luar.
Lewat iuran rutin dan kerja bakti dari warga biasa, fasilitas ibadah dan kegiatan sosial bisa terus berjalan secara mandiri.








Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.