Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, Aji Sofanudin memiliki kisah inspiratif dari kecil hingga capaian kini. Foto ist.
EDUKASIA.ID - Di tengah dinamika kehidupan keagamaan Indonesia yang semakin kompleks, nama Aji Sofanudin menjadi salah satu figur yang berperan dalam pengembangan arah kebijakan tata kelola agama di Indonesia.
Aji Sofanudin, yang akrab dipanggil “Sopan” di kampung halamannya di Tegal, menempuh perjalanan panjang hingga dipercaya memimpin Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN.
Sosok murah senyum itu dikenal aktif menulis untuk kepentingan knowledge production melalui publikasi jurnal global maupun membagikan pemikirannya di media populer.
Aji mulai banyak diperbincangkan ketika pada peringatan ulang tahun ke-4 Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), 28 April 2026, ia mendapatkan anugerah penghargaan sebagai Pegawai Penerima Penghargaan Buku dengan Akses dan Sitasi Terbanyak.
Buku berjudul Inovasi dan Beragama Maslahat: Menuju Indonesia Emas 2045 dengan total akses 3.256 kali pada tahun 2025 itu dapat diunduh secara gratis melalui laman BRIN https://penerbit.brin.go.id/press/catalog/book/978.
Dilihat dari latar belakang jenjang pendidikannya, program sarjana diperoleh dari Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo (sekarang UIN Walisongo) Semarang dan lulus pada 2002.
Selepas itu, jenjang magister dengan konsentrasi Islamic Research ditempuh di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan lulus tahun 2009, serta program doktor Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Semarang yang diselesaikan pada 2016.
Yang menarik, sejak sarjana, magister, hingga doktor, seluruh jenjang pendidikan diraih dengan predikat cumlaude.
Pada program doktor, ia memperoleh predikat wisudawan terbaik, tercepat, dan termuda dengan IPK 4,0.
Perantauan asal Tegal
Aji Sofanudin lahir di Durensawit, Desa Kesuben, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, dari pasangan H Masykuri Abdullah dan Hj Laely Thoyibah.
Ayahnya dikenal sebagai perangkat desa, petani, sekaligus wirausaha, serta putra sulung H Marhamah. H Marhamah dikenal sebagai pimpinan pasukan laskar Hizbullah pada masa pendudukan Jepang.
Dari sisi keluarga, sebenarnya ia berasal dari keluarga berkecukupan. Hanya saja, sejak muda ayahnya lebih banyak bermain, terutama sepak bola dan silat. Sehingga pada awal pernikahan, kondisi ekonomi keluarga justru lebih banyak bertumpu pada sang ibu yang sejatinya berasal dari keluarga kurang beruntung.
Di desanya, jarang yang mengenal nama Aji. Ia lebih familiar dengan sebutan Sopan.
Setelah lulus dari SD Negeri Kesuben 2 Lebaksiu Tegal, ia melanjutkan pendidikan ke MTs Negeri Slawi (sekarang MTsN 2 Tegal).
Selain sekolah pagi, ia juga mengikuti sekolah sore atau madrasah diniyah di berbagai tempat seperti Ihsaniyah tempat Kiai Fachrudin, Nurul Ulum tempat Kiai Arifin Ustman, hingga melanjutkan ke kampung tetangga di Yamansari.
Setelah itu, ia hijrah atau merantau ke Kota Semarang mengikuti pamannya yang merupakan dosen Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, yakni Drs Miftah AF, MAg.
Drs Miftah AF merupakan putra Kiai Ahmad Fathoni yang cukup dikenal di Desa Durensawit Lebaksiu Tegal, di Langgar Baiturrahim.
Di Kota Semarang, Aji masuk ke sekolah Islam yang cukup elit pada zamannya, yakni SMA Sultan Agung 1 Semarang.
Dibandingkan teman-temannya yang hampir sebagian besar menggunakan sepeda motor, Aji datang ke sekolah dengan sepeda ontel.
“Alhamdulillah pada kelas XII, dibelikan motor dengan sistem arisan,” kenangnya.
Setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di IAIN Walisongo Semarang.
Sebenarnya ia sendiri tidak ingin masuk IAIN, tetapi karena orang tuanya berharap dapat melanjutkan pendidikan ke kampus agama. Apalagi, kedua kakaknya yang juga kuliah di kampus umum, semuanya tidak selesai atau drop out. Mereka lebih memilih berdagang daripada melanjutkan kuliah.
Sosok Suka Menulis, Pendiri Rental Komputer
Selama kuliah sarjana, Aji Sofan aktif di lembaga pers mahasiswa kampus yakni LPM Edukasi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo.
Selain itu, ia juga bergabung di organisasi ekstra kampus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Tarbiyah.
Selain hobi menulis di media massa sejak mahasiswa, bersama teman kosnya Aji juga membuka usaha rental komputer atau jasa ketik untuk menambah uang saku kuliah.
Aji pernah mengajar di SD Negeri 08 Ngaliyan (sekarang SD Negeri Ngaliyan 03), serta pernah menjadi tenaga tata usaha di Akademi Akuntansi Dian Kartika.
Selain itu, ia juga aktif menjadi petugas pemilu tingkat kecamatan, yakni Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan Pedurungan KPU Kota Semarang pada agenda Pemilu dan Pilpres 2004, Pilkada Kota Semarang 2005, serta PPK Kecamatan Ngaliyan pada Pemilihan Gubernur 2008.
Karier akademik dan riset Aji Sofanudin berangkat dari ketertarikannya pada dunia penelitian.
Sejak 2005, ia menjadi peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang (BLAS). Ia pernah menjadi Ketua Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan hingga 2021.
Selain itu, ia juga aktif menjadi Ketua Koperasi Bangun Sejahtera BLAS dan pengurus Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI).
Berkarier di BRIN
Sejak 1 Januari 2022 hingga sekarang, Aji Sofanudin menjadi peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Ia pernah dipercaya menjadi Plt Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan sekaligus Plt Kepala Pusat Riset Kerukunan dan Moderasi Beragama.
Sejak 6 April 2022 hingga saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan.
Sebagai kepala pusat riset, ia tidak hanya berfokus pada publikasi akademik, tetapi juga mendorong agar hasil riset mampu memberi dampak nyata bagi pembangunan nasional.
Menurutnya, tuntutan riset saat ini tidak cukup berhenti pada produksi pengetahuan, tetapi juga harus memberikan dampak nyata sekaligus mampu menjawab persoalan riil di masyarakat.
Selama memimpin Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, capaian kerja sama dan publikasi global unit kerjanya terus meningkat.
Pada awal kepemimpinannya tahun 2022, jumlah karya tulis ilmiah global hanya dua, meningkat menjadi 14 publikasi pada 2023, 18 publikasi pada 2024, dan mencapai 33 publikasi pada 2025.
Bagi Aji, setidaknya ada tiga hal agar kepemimpinan berhasil.
Pertama, adil. Menurutnya, nilai keadilan sangat penting dalam bidang apa pun dan harus ditegakkan sejak aturan dibuat hingga implementasinya.
Kedua, satunya kata dan perbuatan.
Ia menilai pemimpin tidak boleh menjadi NATO (not action talk only) atau dalam istilah Jawa disebut jarkoni (iso ujar ora iso nglakoni), yakni bisa berkata tetapi tidak mampu melakukan apa yang diucapkan.
Ketiga, pemimpin harus mampu memberikan contoh atau keteladanan.
Menurutnya, hal ini paling sulit tetapi perlu terus diupayakan.
“Kita harus menjadi contoh, menjadi teladan,” ujarnya.
“Oleh karena itu, ketika saya mewajibkan untuk terlibat aktif dalam penelitian, saya sendiri pada tahun 2026 ini cukup banyak terlibat riset. Setidaknya ada dua judul dengan pendanaan dari Rumah Program IPSH, tiga judul penelitian dengan pendanaan RIIM LPDP, satu judul penelitian dari anggaran MoRA (Kementerian Agama). Saya juga berusaha untuk bergabung dalam kegiatan international conference dan sebagainya. Saya juga ingin membuat book chapter, dan seterusnya,” ungkapnya.
Flyer. Foto BRIN.
Selain produktif menerbitkan karya ilmiah, Aji juga rutin menyampaikan gagasannya melalui tulisan opini di media populer. Tulisannya banyak membahas isu keagamaan, pendidikan, kebijakan publik, moderasi beragama, hingga persoalan sosial kemasyarakatan dan terbit di berbagai media nasional maupun daerah.
Jejak akademik dan karya ilmiahnya dapat ditelusuri melalui sejumlah platform publikasi seperti Google Scholar, ORCID, SINTA, ResearchGate, Academia, hingga Scopus. Rekam publikasinya mencakup artikel jurnal, prosiding, buku, policy brief, hingga tulisan opini yang terbit selama lebih dari satu dekade.
Sebagian besar riset yang ditekuni berkaitan dengan pendidikan agama dan keagamaan, pesantren, moderasi beragama, kebijakan pendidikan, serta dinamika keberagamaan masyarakat Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, fokus kajiannya juga berkembang pada etika riset, transformasi digital, pendidikan inklusif, hingga arsitektur masjid dan ruang sosial keagamaan.
Pada tahun 2025–2026, sejumlah publikasi Aji Sofanudin tercatat terbit di jurnal internasional maupun prosiding dengan beragam tema, mulai dari etika riset, pendidikan sejarah berbasis museum, arsitektur masjid, pendidikan inklusif, hingga isu psikologis di lingkungan pesantren. Di antaranya adalah:
Navigating Ethical Dilemmas in Qualitative Research with Vulnerable Groups in Indonesia
Journal of Empirical Research on Human Research Ethics, 2026
Museum-Based History Learning for Schools at the Wereldmuseum Leiden: Educational Activities and the Roles of Teachers and Museum Educators
Paramita: Historical Studies Journal, Vol. 36 No. 1 (2026
Redefining Vertical Urban Mosques as Community Hubs: Functional and Social Adaptations in the Compact City of Kuala Lumpur
Building, 2026
The Challenge of Terrorism Regeneration: What Schools Do Terrorist Offenders Select for Their Children?
Ulumuna Journal of Islamic Studies, Vol. 29, No. 1, 2025, p. 102-128
Zora A. Sukabdi, Aji Sofanudin, Munajat, Mulyana, Sigit Budiyanto
Digital Integration in Mosque Architecture: QRIS, Visitor Experience, and Cultural Heritage Preservation in Indonesia
Journal of Islamic Architecture, 2025
Stress level of Islamic junior and senior high school students in distance learning during the COVID-19 outbreak
Cogent Education, 2025
Digital Integration in Mosque Architecture: QRIS, Visitor Experience, and Cultural Heritage Preservation in Indonesia
Journal of Islamic Architecture, Vol 8, No 4 (2025)
Behind the Walls of Pesantren: A Review of Hidden Pychological and Academic Impact of Bullying in Indonesia
Journal of Southeast Asian Studies, Desember 2025
Prosiding Modified Teaching Factory (Motefa): The Best Practice of Life Skill Program in MAN 2 Kulonprogo
Springer BRIN, 2025
Prosiding Model of the Favourite Madrasah with Islamic Boarding School Based in Sleman District Case Study MI Afkaruna
Springer BRIN, 2025
Prosiding Accessibility and Challenges of Inclusive Education Curriculum Standars in Indonesia: A Systematic Literature Review
ISET UNNES 2025
Ragam publikasi tersebut menunjukkan luasnya fokus kajian yang ditekuni Aji Sofanudin, mulai dari pendidikan agama dan keagamaan, moderasi beragama, transformasi digital, pendidikan inklusif, hingga dinamika sosial masyarakat.
Meski capaian akademik dan kepemimpinannya di dunia riset terus berkembang, Aji mengaku masih menyimpan sejumlah cita-cita yang belum terwujud.
Ketika ditanya mengenai keinginan yang belum tercapai, ia mengatakan masih banyak hal yang ingin dikerjakan.
“Banyak hal saya kira belum bisa saya kerjakan. Mungkin suatu saat akan membentuk lembaga pendidikan, mengajar, dan pengin juga usaha yang menghasilkan passive income. Ya… intinya ingin memberikan kebermanfaatan yang seluas-luasnya,” katanya.
Termasuk, keinginannya untuk bisa bernyanyi.
“Suara saya sebenarnya bagus, cuma lebih bagus lagi kalau tidak nyanyi,” ujarnya sambil bercanda.






Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.