Rupiah Turun Lagi, Ini Tips Kelola Keuangan agar Tak Boncos

Arifah
0

Rupiah. Foto BI.

Surabaya. EDUKASIA.ID - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026 sore, mata uang Garuda ditutup di level Rp17.698 per dolar AS atau turun 71 poin dibanding perdagangan sebelumnya.

Situasi ini mulai membuat masyarakat waswas. Pelemahan rupiah dinilai berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok hingga menambah beban pengeluaran rumah tangga.

Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya Budi Wahyu Mahardhika pun membagikan sejumlah langkah yang bisa dilakukan masyarakat agar kondisi keuangan keluarga tetap aman di tengah tekanan ekonomi.

Menurut Budi, masyarakat perlu mulai menekan utang konsumtif dan lebih bijak dalam mengambil cicilan.

“Hindari cicilan untuk barang yang tidak penting. Cicilan memang terasa ringan saat suku bunga rendah, tetapi akan menjadi beban ketika suku bunga naik dan akhirnya mengorbankan kebutuhan yang lebih penting,” ujar Dosen Manajemen tersebut pada, Selasa 19 Mei 2026.

Ia menyebut masyarakat sebaiknya mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Pembelian yang belum terlalu penting juga disarankan untuk ditunda sementara waktu.

Selain itu, Budi meminta masyarakat mulai membangun dana darurat secara bertahap. Menurutnya, kebiasaan menyisihkan uang secara rutin jauh lebih penting dibanding menunggu memiliki penghasilan besar.

“Fokus pada kebiasaan menabung rutin, meskipun kecil. Jangan menunggu krisis untuk mulai menyiapkan perlindungan finansial,” tambahnya.

Ia mencontohkan, dana darurat bisa dimulai dari nominal kecil seperti Rp100 ribu setiap minggu agar perlahan terbentuk perlindungan keuangan keluarga.

Budi juga menyoroti pentingnya mengevaluasi ulang anggaran rumah tangga. Ia menilai banyak pengeluaran kecil yang sering tidak terasa justru menjadi sumber kebocoran keuangan.

Karena itu, masyarakat disarankan mulai mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, seperti terlalu sering nongkrong atau membeli kopi di kafe. Memasak sendiri di rumah dinilai bisa menjadi pilihan lebih hemat.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, Budi juga mengingatkan pentingnya memiliki pemasukan tambahan. Ketergantungan pada satu sumber penghasilan disebut membuat masyarakat lebih rentan ketika terjadi PHK atau perlambatan ekonomi.

“Masyarakat bisa mulai dari langkah sederhana seperti membuka usaha kecil, pekerjaan lepas, atau jasa tambahan sambil belajar menyusun anggaran, memahami bunga utang, dan investasi dasar,” jelasnya.

Tak kalah penting, ia meminta masyarakat mulai melindungi nilai tabungan dengan diversifikasi aset. Menurutnya, simpanan tidak sebaiknya seluruhnya disimpan dalam bentuk tunai rupiah.

Budi menyarankan masyarakat mempertimbangkan instrumen yang relatif aman dan likuid seperti emas, deposito, maupun obligasi.

Ia juga menambahkan dukungan sosial dan komunitas tetap dibutuhkan agar masyarakat bisa saling membantu saat menghadapi tekanan ekonomi.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top