Semarang. EDUKASIA.ID - Aktif organisasi kerap dianggap bikin IPK turun. Namun anggapan itu dipatahkan Safira Ila Mardhatillah.
Mahasiswi Program Magister Hukum (S2) Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang itu justru keluar sebagai wisudawan terbaik pada Wisuda Periode Mei 2026.
Penobatan tersebut diumumkan dalam prosesi wisuda yang digelar di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub, Sabtu, 23 Mei 2026.
Bukan hanya aktif kuliah, Safira juga terlibat di berbagai organisasi kampus. Ia pernah aktif di Forum Kajian Hukum Mahasiswa, Lembaga Riset dan Debat, hingga organisasi perempuan mahasiswa An-Niswa.
Selain itu, ia rutin mengikuti lomba sidang semu, debat hukum, dan esai. Menurutnya, organisasi bukan penghambat prestasi akademik jika mahasiswa mampu mengatur waktu.
“Banyak orang berpikir organisasi mengganggu akademik, padahal persoalannya ada pada manajemen waktu. Kalau waktu bisa diatur dengan baik, organisasi justru menjadi ruang belajar dan pengembangan diri,” jelasnya.
Safira mengaku sejak awal kuliah sudah menargetkan diri menjadi wisudawan terbaik. Target itu kemudian ia kejar dengan disiplin belajar dan konsisten mengelola waktu.
“Menjadi wisudawan terbaik adalah sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sejak semester awal saya berharap bisa menjadi wisudawan terbaik, lalu saya mengusahakan yang terbaik dari potensi yang saya miliki. Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan itu,” ujarnya penuh syukur.
Perempuan yang dikenal tidak suka menunda pekerjaan itu memilih menyelesaikan tugas lebih awal. Ia percaya kedisiplinan terhadap waktu menjadi salah satu kunci keberhasilannya.
“Saya terbiasa menyelesaikan tugas lebih awal, tidak menumpuk pekerjaan. Dari situ saya belajar bahwa waktu harus benar-benar dikelola dengan baik,” katanya.
Di balik capaian akademiknya, Safira juga menaruh perhatian pada isu lingkungan. Dalam tesisnya, ia mengangkat kasus korupsi tata niaga timah dan dampaknya terhadap kerusakan ekologis.
Penelitian tersebut menyoroti pentingnya menghitung kerugian lingkungan sebagai bagian dari kerugian negara dalam perkara korupsi. Menurutnya, banyak lahan bekas tambang yang dibiarkan rusak tanpa reklamasi.
“Kerugian ekologis harus diperhitungkan secara jelas dalam penyelesaian pidana korupsi agar ada keadilan bagi lingkungan dan masyarakat,” tegas Safira.
Safira menjelaskan tesisnya tidak hanya menggunakan pendekatan hukum, tetapi juga memadukan perspektif lingkungan, ekonomi, dan sosial. Pendekatan itu disebutnya sebagai implementasi konsep Unity of Sciences di UIN Walisongo.
“Pengetahuan tidak cukup dilihat dari satu sudut pandang saja. Dalam tesis saya, ada banyak pendekatan keilmuan yang saling terhubung,” jelasnya.
Perjalanan studi magister yang dijalani Safira juga tidak selalu mudah. Ia mengaku sempat hampir menyerah saat proses pengajuan judul tesis berkali-kali direvisi.
“Kadang rasanya hampir ingin menyerah, tetapi saya kembali mengingat niat awal. Saya percaya setiap ujian diberikan karena kita mampu menghadapinya,” katanya.
Dalam menghadapi masa sulit itu, Safira banyak terinspirasi dari keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi ujian hidup.
Kini setelah menyelesaikan studi magister, Safira ingin melanjutkan langkahnya di dunia akademik sebagai dosen dan peneliti.
“Belajar tidak pernah berhenti sepanjang hayat. Saya ingin tetap meneliti dan berbagi ilmu agar bisa bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.
Ia juga membagikan pesan kepada mahasiswa agar tidak mudah menyerah saat menghadapi proses panjang dalam pendidikan.
“Percaya bahwa jalan yang kita pilih adalah jalan yang sanggup kita hadapi. Kalau lelah, istirahat sejenak, apresiasi diri, lalu bangkit lagi mengejar cita-cita,” pesannya.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.