Oleh : Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo, Prof Dr H Fatah Syukur MAg,
EDUKASIA.ID - Perubahan zaman yang berlangsung cepat menghadirkan tantangan baru dalam pola pengasuhan dan pendidikan anak. Orang tua tidak hanya dituntut memenuhi kebutuhan materi atau pendidikan formal, tetapi juga membangun fondasi akidah, akhlak, dan spiritualitas agar anak tumbuh menjadi generasi yang kuat secara intelektual sekaligus matang secara moral.
Dalam perspektif Islam, anak merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga, dididik, dan diarahkan dengan penuh tanggung jawab. Pendidikan keluarga menjadi fondasi utama pembentukan karakter, sebab nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini akan menentukan arah kehidupan anak di masa depan.
Berangkat dari pentingnya peran keluarga tersebut, pembahasan mengenai mendidik putra-putri dengan baik dan benar menjadi relevan untuk direnungkan bersama, terutama di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini.
Anak merupakan amanah dari Allah SWT yang harus mendapatkan perhatian dari orang tuanya secara serius, terutama dalam hal pendidikan mereka, agar kelak menjadi anak saleh dan salehah.
Nilai-nilai agama dan budi pekerti luhur perlu ditanamkan sedini mungkin agar mereka tumbuh menjadi generasi berkualitas dan berakhlak mulia, yang sanggup menghadapi tantangan kehidupan pada zamannya. Sebab, mereka akan hidup pada masa yang berbeda dengan generasi sebelumnya..
Sebuah haditas Nabi Muhamamd memberi sinyal:
Artinya : "Didiklah atau ajarilah anak-anakmu, karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu."
Saat ini perlu ada keprihatinan terhadap munculnya berbagai kasus yang menimpa generasi muda. Pada usia yang masih belia, bahkan masih dalam kategori anak-anak, muncul perilaku yang tidak lagi dapat dikategorikan sebagai kenakalan biasa, tetapi mulai mengarah pada tindakan kriminal. Padahal mereka adalah generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa.
Realitas tersebut perlu disikapi secara serius. Jika diabaikan, bukan tidak mungkin kasus serupa akan semakin meluas di lingkungan sekitar. Karena itu, perlu kembali pada konsep ajaran Islam yang memandang anak sebagai amanah atau titipan Allah SWT yang harus dijaga dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh, terutama dalam aspek pendidikan.
Tantangan mendidik anak pada masa sekarang begitu besar. Mendidik anak ibarat menggiring domba di tengah kawanan serigala; sedikit lengah, maka domba akan mudah dimangsa.
Pada usia yang belum stabil dan masih dalam proses pembentukan karakter, anak sangat mudah dipengaruhi teman sebaya dan lingkungan. Mereka cenderung mencari alternatif yang dijumpai di sekelilingnya, terkadang tanpa mempertimbangkan nilai moral. Karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam menghadirkan figur yang akan menjadi teladan bagi anak.
Sebagai orang tua, kakak, atau senior, perlu menghadirkan alternatif terbaik agar kepribadian anak juga tumbuh dengan baik. Dalam hal ini, orang tua memiliki peranan yang besar sekaligus menentukan. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya : "Setiap anak yang lahir, lahir dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani." (HR Bukhari)
Dalam pendidikan anak, para ulama menyebut kewajiban pertama orang tua adalah menanamkan akidah dan tauhid. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengenalkan anak kepada Allah SWT serta mengajarkan nilai-nilai ketuhanan.
Hal itu tidak selalu dilakukan melalui pelajaran formal, tetapi dapat ditanamkan dalam budaya dan kebiasaan sehari-hari. Misalnya mengajarkan bacaan basmalah, hamdalah, doa-doa ringan sebelum dan sesudah beraktivitas, serta memberi contoh dalam praktik keseharian.
Selain nilai ketuhanan, pendidikan yang harus ditanamkan sejak dini adalah kesadaran terhadap kewajiban kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya : "Suruhlah anak-anakmu mengerjakan salat ketika mereka berusia tujuh tahun. Jika pada usia sepuluh tahun mereka tidak melaksanakannya, maka berilah peringatan tegas (tanpa membahayakan), serta pisahkan tempat tidur mereka." (HR Al-Hakim)
Hadis tersebut menjelaskan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan ibadah anak. Sebelum mencapai usia tujuh tahun, anak perlu dibimbing mengenai hal-hal yang berkaitan dengan salat, seperti tata cara wudhu, memahami najis dan hadas, serta pembiasaan ibadah lainnya.
Hal lain yang tidak kalah penting dalam pendidikan anak adalah keteladanan orang tua dan lingkungan sekitar. Anak cenderung meniru perilaku yang dilihat di lingkungannya, sementara pada usia dini mereka belum sepenuhnya memahami batas baik dan buruk. Karena itu, perhatian terhadap etika dan moral agama menjadi penting.
Pada prinsipnya terdapat beberapa hak anak yang menjadi kewajiban orang tua: memberi nama yang baik, menanamkan akidah dan akhlak, mengajarkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, hingga membimbing anak menuju kehidupan dewasa yang bertanggung jawab.
Mendidik anak tidak boleh hanya terbatas mengisi otaknya dengan pengetahuan, tetapi juga harus mengisi jiwanya dengan nilai-nilai spiritual dan religius. Dengan demikian, mereka tidak hanya maju secara intelektual, tetapi juga alim dan berbudi luhur.
Firman Allah SWT mengingatkan:
Artinya : "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar." (QS An-Nisa: 9)
Penting direnungkan bahwa anak saleh menjadi salah satu amal yang terus mengalir bagi orang tua setelah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Ketika manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR Muslim)
Semoga Allah menganugerahi keturunan dan generasi yang saleh dan salehah, serta memberikan rahmat dan petunjuk agar mampu mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Aamiin.
Nilai-nilai agama dan budi pekerti luhur perlu ditanamkan sedini mungkin agar mereka tumbuh menjadi generasi berkualitas dan berakhlak mulia, yang sanggup menghadapi tantangan kehidupan pada zamannya. Sebab, mereka akan hidup pada masa yang berbeda dengan generasi sebelumnya..
Sebuah haditas Nabi Muhamamd memberi sinyal:
عَلِّمُوْا أَوْلَادَكُمْ فَإِنَّهُمْ مَخْلُوْقُوْنَ لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ
Saat ini perlu ada keprihatinan terhadap munculnya berbagai kasus yang menimpa generasi muda. Pada usia yang masih belia, bahkan masih dalam kategori anak-anak, muncul perilaku yang tidak lagi dapat dikategorikan sebagai kenakalan biasa, tetapi mulai mengarah pada tindakan kriminal. Padahal mereka adalah generasi penerus yang akan menentukan masa depan bangsa.
Realitas tersebut perlu disikapi secara serius. Jika diabaikan, bukan tidak mungkin kasus serupa akan semakin meluas di lingkungan sekitar. Karena itu, perlu kembali pada konsep ajaran Islam yang memandang anak sebagai amanah atau titipan Allah SWT yang harus dijaga dan diperhatikan dengan sungguh-sungguh, terutama dalam aspek pendidikan.
Tantangan mendidik anak pada masa sekarang begitu besar. Mendidik anak ibarat menggiring domba di tengah kawanan serigala; sedikit lengah, maka domba akan mudah dimangsa.
Pada usia yang belum stabil dan masih dalam proses pembentukan karakter, anak sangat mudah dipengaruhi teman sebaya dan lingkungan. Mereka cenderung mencari alternatif yang dijumpai di sekelilingnya, terkadang tanpa mempertimbangkan nilai moral. Karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam menghadirkan figur yang akan menjadi teladan bagi anak.
Sebagai orang tua, kakak, atau senior, perlu menghadirkan alternatif terbaik agar kepribadian anak juga tumbuh dengan baik. Dalam hal ini, orang tua memiliki peranan yang besar sekaligus menentukan. Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
Dalam pendidikan anak, para ulama menyebut kewajiban pertama orang tua adalah menanamkan akidah dan tauhid. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengenalkan anak kepada Allah SWT serta mengajarkan nilai-nilai ketuhanan.
Hal itu tidak selalu dilakukan melalui pelajaran formal, tetapi dapat ditanamkan dalam budaya dan kebiasaan sehari-hari. Misalnya mengajarkan bacaan basmalah, hamdalah, doa-doa ringan sebelum dan sesudah beraktivitas, serta memberi contoh dalam praktik keseharian.
Selain nilai ketuhanan, pendidikan yang harus ditanamkan sejak dini adalah kesadaran terhadap kewajiban kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Hadis tersebut menjelaskan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan ibadah anak. Sebelum mencapai usia tujuh tahun, anak perlu dibimbing mengenai hal-hal yang berkaitan dengan salat, seperti tata cara wudhu, memahami najis dan hadas, serta pembiasaan ibadah lainnya.
Hal lain yang tidak kalah penting dalam pendidikan anak adalah keteladanan orang tua dan lingkungan sekitar. Anak cenderung meniru perilaku yang dilihat di lingkungannya, sementara pada usia dini mereka belum sepenuhnya memahami batas baik dan buruk. Karena itu, perhatian terhadap etika dan moral agama menjadi penting.
Pada prinsipnya terdapat beberapa hak anak yang menjadi kewajiban orang tua: memberi nama yang baik, menanamkan akidah dan akhlak, mengajarkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, hingga membimbing anak menuju kehidupan dewasa yang bertanggung jawab.
Mendidik anak tidak boleh hanya terbatas mengisi otaknya dengan pengetahuan, tetapi juga harus mengisi jiwanya dengan nilai-nilai spiritual dan religius. Dengan demikian, mereka tidak hanya maju secara intelektual, tetapi juga alim dan berbudi luhur.
Firman Allah SWT mengingatkan:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Penting direnungkan bahwa anak saleh menjadi salah satu amal yang terus mengalir bagi orang tua setelah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Semoga Allah menganugerahi keturunan dan generasi yang saleh dan salehah, serta memberikan rahmat dan petunjuk agar mampu mencapai kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Aamiin.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.