Siswa MI Miftahul Akhlaqiyah memadati area Market Day saat memilih dan membeli aneka jajanan yang dijual teman-teman mereka dalam rangkaian classmeeting, Senin-Rabu 15-17 Juni 2026 . Foto ist.
Semarang. EDUKASIA.ID – Menjelang siang, beberapa siswa tampak tersenyum lebar di depan stan mereka. Makanan dan pernik dagangan yang sejak pagi ditata rapi mulai habis satu per satu. Di sudut lain, ada yang sibuk menghitung lembaran uang hasil penjualan, sementara temannya masih berkeliling menawarkan dagangan yang tersisa.
Pemandangan itu mewarnai kegiatan Market Day, Senin-Rabu 15-17 Juni 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian classmeeting di MI Miftahul Akhlaqiyah (MIMA) Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang. Kegiatan dilaksanakan dalam dua gelombang, melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 5.
Bagi anak-anak, kegiatan tersebut mungkin terlihat seperti bermain jualan. Namun di balik ramainya transaksi, tersimpan proses belajar yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
Pada gelombang pertama pada Senin, siswa kelas 1 dan 2 mendapat kesempatan menjadi penjual. Dengan pendampingan guru dan orang tua, mereka menjajakan berbagai makanan, minuman, hingga aksesori sederhana hasil kreasi sendiri.
Sebagian masih malu-malu saat menawarkan barang dagangan. Namun tidak sedikit yang justru aktif memanggil calon pembeli yang lewat di depan stan mereka.
Ada yang berusaha menghafal harga, ada yang sibuk menghitung uang kembalian, dan ada pula yang dengan bangga menunjukkan produk yang dijual kepada teman-temannya.
Dua hari berselang, suasana serupa kembali terlihat saat siswa kelas 3, 4, dan 5 mengambil giliran. Bedanya, mereka tampak lebih siap. Stan ditata lebih menarik, produk yang dijual lebih beragam, dan strategi pemasarannya pun mulai terlihat.
Beberapa siswa membentuk tim kecil. Ada yang bertugas menjaga stan, ada yang menjadi kasir, dan ada yang berkeliling menawarkan dagangan kepada calon pembeli.
Persaingan antarkelas berlangsung dalam suasana yang menyenangkan. Masing-masing berusaha menarik perhatian pembeli dengan cara kreatif tanpa meninggalkan semangat kebersamaan yang menjadi ciri kegiatan tersebut.
Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah, H. Rif'an Ulil Huda, menilai Market Day menjadi sarana belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.
“Anak-anak belajar banyak hal sekaligus. Mereka belajar berkomunikasi, belajar menghitung, belajar bertanggung jawab, dan belajar bekerja sama dengan teman-temannya,” ujarnya, Jumat 19 Juni 2026.
Menurut Rif'an, pengalaman semacam ini penting karena memberi ruang bagi siswa untuk mempraktikkan pengetahuan yang selama ini dipelajari di kelas.
Bukan hanya pelajaran matematika saat menghitung uang atau keuntungan, tetapi juga nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab ketika menjalankan tugas masing-masing.
Menariknya, pada pelaksanaan gelombang kedua, keterlibatan orang tua dan guru terlihat semakin berkurang. Siswa kelas atas mulai mampu mengelola stan secara mandiri, mulai dari menyiapkan barang dagangan hingga menghitung hasil penjualan.
Menjelang kegiatan berakhir, banyak stan telah kehabisan produk. Anak-anak kemudian berkumpul bersama wali kelas untuk menghitung hasil penjualan sambil saling bercerita tentang pengalaman mereka selama berjualan.
Pemandangan itu mewarnai kegiatan Market Day, Senin-Rabu 15-17 Juni 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian classmeeting di MI Miftahul Akhlaqiyah (MIMA) Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang. Kegiatan dilaksanakan dalam dua gelombang, melibatkan siswa kelas 1 hingga kelas 5.
Bagi anak-anak, kegiatan tersebut mungkin terlihat seperti bermain jualan. Namun di balik ramainya transaksi, tersimpan proses belajar yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
Pada gelombang pertama pada Senin, siswa kelas 1 dan 2 mendapat kesempatan menjadi penjual. Dengan pendampingan guru dan orang tua, mereka menjajakan berbagai makanan, minuman, hingga aksesori sederhana hasil kreasi sendiri.
Sebagian masih malu-malu saat menawarkan barang dagangan. Namun tidak sedikit yang justru aktif memanggil calon pembeli yang lewat di depan stan mereka.
Ada yang berusaha menghafal harga, ada yang sibuk menghitung uang kembalian, dan ada pula yang dengan bangga menunjukkan produk yang dijual kepada teman-temannya.
Dua hari berselang, suasana serupa kembali terlihat saat siswa kelas 3, 4, dan 5 mengambil giliran. Bedanya, mereka tampak lebih siap. Stan ditata lebih menarik, produk yang dijual lebih beragam, dan strategi pemasarannya pun mulai terlihat.
Beberapa siswa membentuk tim kecil. Ada yang bertugas menjaga stan, ada yang menjadi kasir, dan ada yang berkeliling menawarkan dagangan kepada calon pembeli.
Persaingan antarkelas berlangsung dalam suasana yang menyenangkan. Masing-masing berusaha menarik perhatian pembeli dengan cara kreatif tanpa meninggalkan semangat kebersamaan yang menjadi ciri kegiatan tersebut.
Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah, H. Rif'an Ulil Huda, menilai Market Day menjadi sarana belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak.
“Anak-anak belajar banyak hal sekaligus. Mereka belajar berkomunikasi, belajar menghitung, belajar bertanggung jawab, dan belajar bekerja sama dengan teman-temannya,” ujarnya, Jumat 19 Juni 2026.
Menurut Rif'an, pengalaman semacam ini penting karena memberi ruang bagi siswa untuk mempraktikkan pengetahuan yang selama ini dipelajari di kelas.
Bukan hanya pelajaran matematika saat menghitung uang atau keuntungan, tetapi juga nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab ketika menjalankan tugas masing-masing.
Menariknya, pada pelaksanaan gelombang kedua, keterlibatan orang tua dan guru terlihat semakin berkurang. Siswa kelas atas mulai mampu mengelola stan secara mandiri, mulai dari menyiapkan barang dagangan hingga menghitung hasil penjualan.
Menjelang kegiatan berakhir, banyak stan telah kehabisan produk. Anak-anak kemudian berkumpul bersama wali kelas untuk menghitung hasil penjualan sambil saling bercerita tentang pengalaman mereka selama berjualan.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.