Beasiswa Doktor Talenta Riset dan Inovasi (DTRI). Foto LPDP.
Jakarta. EDUKASIA.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memperkuat upaya mencetak peneliti muda melalui berbagai program pendidikan berbasis riset.
Langkah ini diharapkan mampu menambah jumlah peneliti bergelar doktor sekaligus memperkuat kapasitas riset nasional.
Salah satu program yang disiapkan ialah Beasiswa Doktor Talenta Riset dan Inovasi (DTRI), hasil kolaborasi BRIN dan LPDP.
Program beasiswa penuh ini ditujukan bagi lulusan sarjana maupun magister yang ingin menempuh pendidikan doktor di bidang-bidang prioritas nasional.
Selain memperoleh pembiayaan pendidikan, penerima beasiswa juga akan terlibat dalam berbagai proyek riset BRIN.
Dengan begitu, penelitian yang dilakukan diharapkan sejalan dengan kebutuhan pembangunan nasional sekaligus mendukung pengembangan ilmu pengetahuan.
Direktur Manajemen Talenta BRIN, Ajeng Arum Sari, mengatakan pengembangan talenta riset dibangun melalui ekosistem yang berkelanjutan. Program yang disiapkan tidak hanya mencakup pendidikan doktor, tetapi juga magang mahasiswa, pendidikan magister berbasis riset, program pascadoktoral, hingga kolaborasi riset internasional.
“Pengembangan talenta riset dirancang sebagai ekosistem yang berkelanjutan, mulai dari program magang mahasiswa, pendidikan magister dan doktor berbasis riset (degree by research), hingga program pascadoktoral, joint research visit, dan visiting researcher,” ujar Ajeng dalam Webinar Forum Sains Laut Dalam (#5) Menuju Misi Laut Dalam 2045, Jumat 10 Juli 2026.
Menurut Ajeng, rangkaian program tersebut disusun agar calon peneliti memiliki jalur pengembangan karier yang jelas sejak bangku kuliah hingga menjadi peneliti profesional.
Ajeng menjelaskan seleksi DTRI mengacu pada ketentuan LPDP, mulai dari persyaratan akademik, batas usia, hingga kemampuan bahasa Inggris. Seleksi dilakukan melalui tahapan administrasi dan substansi. Sementara pelamar yang telah memiliki Letter of Acceptance (LoA) tanpa syarat dapat mengikuti mekanisme seleksi yang lebih sederhana.
Selain DTRI, BRIN juga menjalankan program Doctor by Research (DBR) yang didukung LPDP. Program tersebut bermitra dengan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), serta sejumlah universitas di Inggris, Australia, Prancis, dan Belanda.
BRIN juga membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi lainnya untuk memperkuat riset di bidang strategis, seperti kemaritiman, biodiversitas, teknologi nuklir, antariksa, aeronautika, elektronika, hingga informatika.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Laut Dalam BRIN, A'an Johan Wahyudi, menilai penguatan sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam meningkatkan kapasitas riset kelautan Indonesia, selain pembangunan infrastruktur laboratorium dan perluasan jejaring kolaborasi internasional.
"Untuk meningkatkan kapasitas penelitian kelautan di Indonesia serta memperkuat jejaring kolaborasi riset internasional, selain menyiapkan infrastruktur laboratorium, yang tidak kalah penting adalah menyiapkan generasi periset yang profesional dan andal," ujar A'an saat membuka Webinar Forum Sains Laut Dalam (#5) Menuju Misi Laut Dalam 2045.
Menurut A'an, pengembangan talenta peneliti menjadi bagian penting dalam menghubungkan perkembangan sains global dengan kebutuhan di tingkat regional sekaligus memperkuat kapasitas riset dan pemutakhiran ilmu pengetahuan mengenai biodiversitas laut.
Ia berharap para peneliti, khususnya di lingkungan Pusat Riset Laut Dalam BRIN, memanfaatkan berbagai peluang pendidikan yang disediakan BRIN dan LPDP untuk meningkatkan kompetensi serta memperluas kolaborasi riset.
Melalui kolaborasi tersebut, BRIN berharap semakin banyak mahasiswa dan peneliti muda memanfaatkan berbagai skema pendanaan sebagai pintu masuk membangun karier riset. Upaya ini menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan jumlah doktor, memperkuat regenerasi peneliti, dan mempercepat lahirnya inovasi bagi pembangunan Indonesia.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.