Kisah Direktur RS Roemani dr. Sarwoko, Jadi Dokter demi Tunaikan Mimpi Ayah

Redaksi
0
Kisah inspiratif dr. Sarwoko menunaikan harapan sang ayah menjadi dokter hingga mengabdikan hidupnya di dunia pelayanan kesehatan. Foto ist. 

Semarang. EDUKASIA.ID – Di balik kiprahnya sebagai Direktur Pelayanan Medik RS Roemani Muhammadiyah Semarang, dr. Sarwoko Oetomo, MMR, FISQua menyimpan kisah sederhana yang menjadi titik awal perjalanan hidupnya.

Sarwoko tidak tumbuh dengan cita-cita besar ingin menjadi dokter. Justru, jalan hidup itu berawal dari sebuah harapan sang ayah yang menginginkan setidaknya satu dari lima anaknya kelak mengenakan jas putih.

Harapan sederhana itulah yang kemudian mengantarkan Sarwoko mengabdikan lebih dari tiga dekade hidupnya di dunia pelayanan kesehatan.

Mimpi Sang Ayah


Di tengah lima bersaudara yang menempuh jalan hidup berbeda, Sarwoko menjadi satu-satunya yang memilih dunia kedokteran. Pilihan itu bukan semata-mata lahir dari keinginan pribadinya, melainkan karena sebuah harapan yang telah lama dipendam sang ayah.

Kalimat sederhana itu terus diingat Sarwoko, bahkan setelah ia dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis di bidang kesehatan. Baginya, menjadi dokter bukan hanya profesi, tetapi juga cara membalas harapan orang tua.

"Saya masih ingat Bapak saya bilang, 'Kok Bapak pengin ono anakku siji dadi dokter.' Jadi memang keinginan Bapak, anaknya satu menjadi dokter," kenangnya.

Meski lahir di Surakarta pada 15 Januari 1964, hampir seluruh perjalanan hidup Sarwoko berlangsung di Kota Semarang. Ia bahkan berseloroh hanya "numpang lahir" di Kota Bengawan.

Saat itu ibunya sedang pulang ke rumah keluarga dalam kondisi hamil tua dan berencana kembali ke Semarang keesokan harinya. Namun dini hari itu Sarwoko lahir lebih cepat dari perkiraan.

Sarwoko tumbuh besar di Semarang hingga menempuh pendidikan sejak SD Gergaji Semarang, SMP Negeri 1 Semarang, SMA Negeri 1 Semarang, sampai akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula).

Lelaki murah senyum itu bukan berasal dari keluarga dokter. Ayahnya merupakan pegawai sipil di lingkungan Kodam yang juga aktif mengembangkan Yayasan IKIP Veteran, yang kini menjadi Universitas Ivet. Sementara ibunya berlatar belakang pendidikan guru.

Meski memiliki latar belakang profesi yang berbeda, kedua orang tuanya sepakat bahwa pendidikan merupakan bekal terbaik bagi anak-anak mereka.

Lima bersaudara itu kemudian menempuh bidang masing-masing, dua menjadi insinyur, dua lainnya berkecimpung di bidang ekonomi, sedangkan Sarwoko memenuhi harapan ayahnya menjadi dokter.

"Kakak saya pertama insinyur, kedua juga insinyur, ketiga perempuan sarjana ekonomi, saya dokter, adik saya ekonomi," tutur dr Sarwoko yang pernah menjadi Anggota Majelis Kehormatan Kode Etik Rumah Sakit ( Makersi ) Jawa Tengah itu.

Menjadi Dokter di Era yang Tidak Mudah


Menjadi mahasiswa kedokteran pada dekade 1980-an bukan perkara mudah. Berbeda dengan sistem pendidikan sekarang, saat itu mahasiswa harus melewati dua tahapan ujian, yakni ujian lokal di kampus dan ujian negara.

Artinya, seseorang belum bisa menyandang gelar dokter meski telah lulus dari perguruan tinggi. Mereka masih harus melewati ujian negara yang terkenal ketat sebelum benar-benar diakui sebagai dokter.

"Pada saya itu lama. Karena ujiannya dua kali, ujian lokal sama ujian negara. Kalau sekarang langsung ujian lokal saja sudah diakui negara. Saya waktu itu setelah lulus dokter lokal masih harus ujian negara lagi," jelasnya.

Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil pada 1994. Namun kebahagiaan tersebut tidak sepenuhnya utuh. Saat dinyatakan lulus, ayahnya sedang terbaring sakit keras.

Sarwoko masih sempat menyampaikan kabar kelulusannya sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang sejak awal menginginkan seorang anak menjadi dokter.

Beberapa bulan kemudian, sebelum prosesi pelantikan dokter dilaksanakan, sang ayah berpulang.

Kenangan itu masih menjadi salah satu momen paling mengharukan dalam hidupnya. Ia bersyukur masih sempat mempersembahkan kabar kelulusan kepada sang ayah, meski tidak sempat didampingi saat resmi dilantik menjadi dokter.

"Saya sempat melapor, 'Pak, saya lulus dokter.' Alhamdulillah. Saat saya dilantik Agustus, Bapak sudah wafat. Tapi paling tidak keinginan Bapak sudah saya tunaikan," ujarnya lirih.

Doa Orang Tua yang Menjadi Pegangan


Peristiwa itu membuat Sarwoko semakin meyakini bahwa keberhasilannya bukan semata hasil kerja keras pribadi.

Ada doa orang tua yang selama ini mengiringi setiap langkahnya. Ia masih mengingat bagaimana sang ibu, hingga usia senja, hampir setiap malam bangun untuk menunaikan salat tahajud. Seusai berdoa, ibunya akan menyebut satu per satu nama anak dan cucunya.

Pemandangan sederhana itu justru menjadi pelajaran hidup yang terus dibawanya hingga sekarang.

"Saya merasa betul doa orang tua itu luar biasa. Kalau doa kita sendiri mungkin belum tentu sampai, tetapi doa orang tua itu tembus langit," ungkapnya.

Hingga ibunya wafat pada 2022 dalam usia 84 tahun, Sarwoko memilih merawatnya di rumah sendiri. Baginya, merawat orang tua bukan sekadar kewajiban seorang anak, melainkan bentuk rasa syukur atas doa yang telah mengantarkan perjalanan hidupnya.

Nilai-nilai itulah yang kemudian membentuk karakter Sarwoko sebagai pribadi yang tekun, rendah hati, dan tidak pernah setengah hati dalam menjalankan amanah.

Karakter tersebut semakin terasah ketika ia aktif memimpin berbagai organisasi sejak masih duduk di bangku sekolah. Pengalaman itulah yang kelak membuka jalan bagi Sarwoko untuk mengemban berbagai amanah kepemimpinan, mulai dari puskesmas, rumah sakit, pemerintahan, hingga organisasi profesi kedokteran.

Jiwa Organisasi Membuka Jalan Pengabdian


Sejak muda, dr. Sarwoko Oetomo tidak hanya dikenal sebagai siswa yang tekun belajar. Ia juga memiliki ketertarikan besar pada dunia organisasi. Baginya, organisasi menjadi ruang belajar untuk memimpin, berdiskusi, sekaligus memahami cara bekerja bersama banyak orang.

Pengalaman itu justru diperoleh jauh sebelum ia mengenakan jas putih sebagai dokter.

Semasa menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Semarang, Sarwoko dipercaya menjadi Ketua OSIS. Memasuki SMA Negeri 1 Semarang, ia kembali aktif sebagai Wakil Ketua OSIS.

Ketika kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), jiwa organisasinya tetap berkembang melalui Senat Mahasiswa.

Dari berbagai pengalaman tersebut, ia belajar bahwa kepemimpinan tidak dibentuk oleh jabatan, melainkan oleh kesediaan mendengar, bekerja sama, dan mengambil keputusan.

"Saya itu sejak SMP sudah Ketua OSIS. SMA saya Wakil Ketua OSIS. Waktu mahasiswa saya juga aktif di senat. Memang saya senang organisasi," tuturnya.

Memilih Manajemen, Bukan Menjadi Dokter Spesialis


Ketertarikannya terhadap organisasi ternyata ikut memengaruhi arah kariernya. Ketika banyak rekan seangkatannya memilih melanjutkan pendidikan dokter spesialis, Sarwoko justru mengambil Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR) di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Sejak awal, ia merasa lebih terpanggil membangun sistem pelayanan kesehatan daripada menekuni satu cabang ilmu kedokteran.

Menurutnya, pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya bergantung pada kemampuan dokter. Rumah sakit juga membutuhkan tata kelola yang kuat agar setiap tenaga kesehatan dapat bekerja secara optimal.

Karena itu, ia memilih mendalami ilmu manajemen agar mampu memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

"Saya memang arahnya ke manajemen. Saya orang organisasi, jadi lebih senang mengelola. Tidak ke spesialis," ujarnya.

Meniti Karier dari Puskesmas hingga Rumah Sakit


Setelah resmi menjadi dokter pada 1994, Sarwoko mengawali pengabdian sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Weleri, Kabupaten Kendal.

Sekitar satu setengah tahun kemudian, ia diterima sebagai pegawai negeri sipil dan mulai bertugas di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Semarang. Dari sinilah perjalanan panjangnya sebagai birokrat kesehatan dimulai.

Ia pernah bertugas di sejumlah puskesmas, mulai dari Gunungpati, Gayamsari, hingga dipercaya memimpin Puskesmas Karangmalang. Pengalaman demi pengalaman membuatnya semakin memahami persoalan pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat.

Amanah berikutnya datang ketika ia dipercaya memimpin Puskesmas Halmahera, yang saat itu dikenal sebagai salah satu puskesmas terbesar di Kota Semarang.

Penugasan tersebut sempat membuatnya terkejut. Sebab, masih banyak dokter yang lebih senior. Namun pimpinan saat itu justru memberikan kepercayaan kepadanya untuk memimpin salah satu puskesmas dengan beban pelayanan terbesar di Kota Semarang.

"Dokter senior banyak di atas saya. Tetapi waktu itu Pak Wali meminta saya ke Halmahera," kenangnya.

Kepercayaan itu menjadi titik balik perjalanan kariernya. Dari Puskesmas Halmahera, Sarwoko dipindahkan ke RSUD Kota Semarang sebagai Kepala Bidang Pelayanan Medik.

Dua tahun kemudian, ia kembali memperoleh amanah sebagai Wakil Direktur Pelayanan Medik dan menjabat posisi tersebut selama sekitar tujuh tahun. Pengalaman itu memperluas wawasannya dalam mengelola pelayanan rumah sakit sekaligus memimpin tim lintas profesi.


Dokter di Birokrasi Pemerintahan


Karier Sarwoko terus berkembang. Setelah menjabat Wakil Direktur RSUD, ia dipercaya menjadi Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Tidak lama kemudian, Wali Kota Semarang kembali memberinya amanah yang tidak biasa, yakni memimpin Bagian Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Semarang. Posisi tersebut umumnya diisi oleh pejabat dengan latar belakang pemerintahan, bukan dokter.

Sarwoko mengaku sempat heran menerima penugasan itu. Namun sebagai aparatur sipil negara, ia memilih menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Baginya, setiap amanah merupakan bentuk kepercayaan yang harus dijawab dengan kerja nyata.

"Saya dokter kok jadi Kepala Bagian Administrasi Pembangunan. Tapi saya jalani saja. Sebagai PNS, kita loyal kepada pimpinan," katanya.

Prinsip tersebut membuatnya tidak pernah terlalu sibuk memikirkan mutasi atau promosi jabatan. Ia memilih fokus bekerja sebaik mungkin di mana pun ditempatkan. Menurutnya, setiap penugasan pasti memiliki hikmah, meski terkadang tidak langsung dipahami saat itu juga.

"Saya orangnya pasrah. Saya percaya Allah sudah mengatur jalan hidup saya. Kalau ada yang tidak sesuai keinginan, pasti ada hikmahnya," ungkapnya.
Organisasi sebagai Ladang Pengabdian

Di luar tugas kedinasan, Sarwoko tetap aktif di organisasi profesi. Kiprahnya di Ikatan Dokter Indonesia (IDI) berlangsung selama bertahun-tahun.

Ia pernah dipercaya sebagai pengurus bidang organisasi, wakil sekretaris, sekretaris, wakil ketua, hingga kini menjadi Ketua Dewan Pertimbangan IDI Wilayah Jawa Tengah sekaligus anggota Dewan Pertimbangan IDI Pusat.

Perjalanan panjang tersebut membuatnya dikenal sebagai salah satu tokoh organisasi profesi kedokteran di Jawa Tengah.

Meski demikian, ia mengaku tidak lagi berambisi mengejar jabatan. Menurutnya, organisasi harus memberi ruang kepada generasi muda untuk tampil sebagai pemimpin. Sementara dirinya kini lebih memilih berperan sebagai pembina dan tempat berdiskusi bagi para penerus.

"Saya diminta maju jadi ketua lagi, tetapi saya merasa sudah cukup. Sekarang biar yang muda-muda memimpin, saya mendampingi saja," ujarnya.

Bagi Sarwoko, kepemimpinan bukan tentang lamanya seseorang berada di kursi pimpinan. Kepemimpinan yang baik justru diukur dari kemampuannya menyiapkan regenerasi agar organisasi tetap berjalan dan terus berkembang.

Nilai itulah yang terus ia pegang selama mengemban berbagai amanah, baik di pemerintahan maupun organisasi profesi.

Berbekal pengalaman panjang tersebut, pada 2023 ia memasuki babak baru pengabdiannya ketika dipercaya bergabung dengan RS Roemani Muhammadiyah Semarang sebagai Direktur Pelayanan Medik.

Babak Baru Mengabdi di RS Roemani


Setelah puluhan tahun mengabdikan diri di lingkungan Pemerintah Kota Semarang, dr. Sarwoko Oetomo memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya.

Pada 2023, ia dipercaya bergabung dengan RS Roemani Muhammadiyah Semarang sebagai Direktur Pelayanan Medik.

Bagi Sarwoko, perpindahan itu bukan sekadar berganti tempat bekerja, tetapi melanjutkan panggilan hidup yang selama ini dijalaninya, yakni menghadirkan pelayanan kesehatan yang semakin baik bagi masyarakat.

Pengalaman yang diperolehnya selama bertugas di puskesmas, rumah sakit daerah, hingga birokrasi pemerintahan menjadi bekal berharga ketika memasuki lingkungan rumah sakit swasta.

Sarwoko memahami bahwa kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan seorang dokter, tetapi juga oleh sistem yang mampu membuat seluruh tenaga kesehatan bekerja secara selaras.

Menurut nya, rumah sakit bukan sekadar tempat orang datang untuk berobat. Di balik setiap tindakan medis terdapat tanggung jawab besar untuk menjaga keselamatan pasien sekaligus memastikan pelayanan yang diberikan berlangsung cepat, tepat, aman, dan manusiawi.

Karena itu, peningkatan mutu pelayanan menjadi salah satu fokus utama yang terus ia dorong sejak bergabung di RS Roemani.

"Pelayanan kesehatan itu kerja tim. Dokter tidak bisa bekerja sendiri. Semua harus saling mendukung supaya pasien mendapat pelayanan yang terbaik," ungkapnya.

Selain menyandang gelar Magister Manajemen Rumah Sakit, Sarwoko juga mengantongi sertifikasi Fellow of the International Society for Quality in Health Care (FISQua).

Berbagai kompetensi tersebut menurtnya bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi menjadi bekal untuk terus memperkuat budaya mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit.

Standar pelayanan yang baik, ia sebut bukan hanya diukur dari kelengkapan fasilitas atau keberhasilan akreditasi, melainkan dari kepuasan dan keselamatan pasien yang dilayani.

Rumah Sakit Harus Hadir untuk Semua


Di tengah kesibukannya sebagai pimpinan rumah sakit, Sarwoko tetap memikirkan masyarakat yang kurang beruntung. Ia menyadari tidak semua orang memiliki kemampuan ekonomi untuk memperoleh pelayanan kesehatan secara optimal.

Karena itu, RS Roemani bersama Lazismu berupaya membantu pasien yang membutuhkan sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

Baginya, rumah sakit Islam tidak cukup hanya menjalankan fungsi pelayanan medis. Rumah sakit juga harus menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dengan membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Jangan sampai ada pasien yang menunda pengobatan hanya karena persoalan biaya.

"Kalau memang ada pasien yang membutuhkan bantuan, kita carikan jalan. Ada Lazismu yang bisa membantu sesuai ketentuan. Jangan sampai orang tidak berobat hanya karena persoalan biaya," katanya.

Prinsip tersebut sejalan dengan keyakinan yang selalu dipegangnya sejak pertama kali menjadi dokter. Baginya, profesi dokter bukan sekadar pekerjaan yang menghasilkan penghasilan, tetapi jalan pengabdian kepada masyarakat.

Karena itu, setiap keputusan yang diambil harus selalu berpihak pada kepentingan pasien dan kemaslahatan bersama.

Amanah, Keluarga, dan Jalan Hidup


Di balik kesibukannya memimpin pelayanan medik, Sarwoko tetap berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Dukungan keluarga, menurutnya, menjadi kekuatan yang membuat seseorang mampu menjalankan amanah dengan tenang.

Tanpa dukungan orang-orang terdekat, perjalanan panjang dalam dunia pelayanan kesehatan tentu tidak akan mudah dilalui.

Dalam berbagai kesempatan, Sarwoko juga kerap berbagi pesan kepada generasi muda. Ia mengingatkan agar tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan utama dalam bekerja. Jabatan hanyalah amanah yang datang dan pergi.

Yang lebih penting adalah menjaga integritas, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta menikmati setiap proses kehidupan.

"Kalau kita bekerja dengan sungguh-sungguh, insyaallah rezeki sudah ada yang mengatur. Jangan terlalu mengejar jabatan. Yang penting kita bekerja sebaik-baiknya," pesannya.

Ia mengaku hampir tidak pernah merencanakan jabatan-jabatan yang kemudian dipercayakan kepadanya. Mulai dari memimpin puskesmas, menjadi Wakil Direktur RSUD, Sekretaris Dinas Kesehatan, Kepala Bagian Administrasi Pembangunan, hingga akhirnya dipercaya menjadi Direktur Pelayanan Medik RS Roemani, semua dijalani sebagai amanah.

Ketika sebuah kepercayaan datang, ia berusaha melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Ketika masa tugas berakhir, ia menerimanya dengan lapang dada sebagai bagian dari perjalanan hidup.

"Saya selalu percaya, Allah sudah mengatur jalan hidup kita. Tugas kita berikhtiar dan menjalankan amanah sebaik-baiknya," ujarnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top