H. M. Sirojuddin Munir bersama gurunya, KH Ahmad Muthohar. Restu dan nasihat sang guru mengantarkannya menjalani kuliah tanpa meninggalkan tradisi pesantren. Foto ist.
EDUKASIA.ID - Memutuskan kuliah bukan berarti H. M. Sirojuddin Munir meninggalkan tradisi yang telah membesarkannya. Sebelum berangkat ke UIN Walisongo Semarang, ia lebih dahulu berpamitan kepada almarhum KH Ahmad Muthohar, pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, sekaligus guru yang sangat dihormatinya.
Pria yang kini dimanahi sebagai Kepala Tim Kerjasama, Kelembagaan, dan Humas di UIN Walisongo Semarang itu datang untuk meminta restu. Namun sang kiai justru menyambutnya dengan sebuah pertanyaan yang hingga kini masih ia ingat.
"Kamu kok kuliah, apa tidak mondok?" tanya KH Ahmad Muthohar.
Pertanyaan itu tidak membuatnya mengurungkan niat melanjutkan pendidikan. Sebaliknya, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa kuliah tidak boleh memutus hubungan dengan pesantren.
"Seliramu oleh kuliah, tapi tetep karo mondok (kamu boleh kuliah, tetapi tetap dengan di pesantren," lanjut Kyai Muthohar.
Karena itu, sejak menjadi mahasiswa, Munir memilih tetap tinggal di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Tugurejo hingga menyelesaikan studi sarjananya pada 1999.
Menjalani kuliah sambil mondok bukan perkara mudah. Seperti banyak mahasiswa pada masanya, Munir juga harus memikirkan biaya hidup sekaligus mempersiapkan masa depan. Bedanya, ia memilih menjalaninya dengan tetap berpijak pada dunia yang telah akrab sejak kecil: pendidikan dan Al-Qur'an.
Sejak memasuki semester akhir, Munir mulai mengajar di Madrasah Aliyah dan SMA. Aktivitas itu bukan sekadar mencari tambahan penghasilan, tetapi juga menjadi ruang belajar baginya untuk memahami dunia pendidikan dari dekat.
Di hadapan para siswa, ia tidak hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab dan kesabaran.Di waktu yang hampir bersamaan, ia juga bekerja sebagai penulis khat di sebuah percetakan.
Kemampuan menulis kaligrafi telah ia tekuni sejak lama, hingga akhirnya mengantarkannya mewakili Kota Semarang dalam Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 1998 pada cabang Khattil Qur'an. Dari ajang tersebut, ia berhasil meraih Juara III.
Pengalaman itu semakin mendekatkannya dengan dunia Al-Qur'an. Baginya, kaligrafi bukan sekadar seni menulis huruf Arab, melainkan bagian dari penghormatan terhadap kitab suci yang telah menjadi teman belajar sejak kecil.
Semangat itulah yang kemudian melahirkan satu langkah penting dalam hidupnya. Masih pada tahun 1998, bersama beberapa pegiat Al-Qur'an di kampungnya, Munir mendirikan TPQ Al-Iman di Kelurahan Rowosari, Tembalang. Gagasannya sederhana. Saat itu, masih banyak anak-anak di lingkungan sekitar yang belum memiliki tempat belajar membaca Al-Qur'an secara teratur.
Lebih dari dua puluh lima tahun telah berlalu. Di tengah berbagai perubahan yang terjadi, TPQ tersebut tetap berdiri dan terus mengajarkan Al-Qur'an kepada generasi muda. Bagi Munir, keberlangsungan lembaga itu menjadi salah satu kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan jabatan ataupun penghargaan.
Perjalanan hidupnya juga diwarnai kisah sederhana yang hingga kini masih sering ia kenang. Sebagai anak petani, ia sebenarnya kerap diminta membantu orang tuanya bekerja di sawah ketika pulang ke rumah.
Namun karena sebagian besar waktunya dihabiskan di pesantren, kemampuannya bertani tidak pernah benar-benar terasah.
Suatu hari, ayahnya melontarkan sebuah seloroh.
"Disuruh bantu bertani sambil dibimbing kok masih tidak bisa. Apa kamu mau jadi orang kantoran?" ujarnya menirukan sang ayah.
Saat itu, kalimat tersebut hanya terdengar sebagai gurauan seorang ayah kepada anaknya. Tidak ada yang menyangka, bertahun-tahun kemudian, ucapan itu justru menjadi kenyataan.
Munir memang tidak menjadi petani seperti kedua orang tuanya. Ia justru meniti karier di lingkungan perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan studi sarjana di UIN Walisongo pada 1999, ia diterima sebagai calon pegawai negeri sipil di UIN Walisongo pada 2003.
Sejak saat itu, perjalanan kariernya berkembang seiring bertambahnya pengalaman. Berbagai amanah dijalani hingga akhirnya ia dipercaya memimpin Tim Kerja Sama, Kelembagaan, dan Humas UIN Walisongo Semarang.
Ia kerap mengingat kembali seloroh ayahnya dengan senyum.
"Ternyata seloroh ayah saya terjadi benar," katanya.
Meski kini berkecimpung di bidang kerja sama dan kehumasan, Munir tidak pernah memandang pekerjaannya sebatas urusan administrasi atau publikasi. Baginya, humas memiliki tanggung jawab membangun pemahaman masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Perubahan generasi menjadi tantangan yang paling ia rasakan. Mahasiswa saat ini lahir dalam lingkungan digital yang membuat cara mereka menerima informasi sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Karena itu, menurutnya, pendekatan komunikasi tidak bisa lagi dilakukan dengan pola lama.
"Substansinya tetap sama, tapi packaging-nya harus berbeda," ujarnya.
Ia bahkan mengibaratkan pekerjaan humas seperti aktivitas menjual.
"Humas itu sebenarnya seperti jualan," katanya sambil tersenyum.
Namun yang dimaksud bukan menjual nama institusi. Yang lebih penting adalah menyampaikan kepada masyarakat bahwa pendidikan harus mampu menyiapkan manusia menghadapi berbagai kemungkinan kehidupan.
H. M. Sirojuddin Munir saat di Tanah Suci, bersama istri. Foto ist.
Pandangan tersebut selaras dengan konsep unity of sciences yang menjadi ruh pengembangan keilmuan di UIN Walisongo. Menurut Munir, konsep itu berangkat dari keyakinan bahwa Al-Qur'an merupakan sumber dari seluruh ilmu pengetahuan.
Persoalannya bukan karena sumber ilmunya terbatas, melainkan kemampuan manusia menggali kekayaan yang terkandung di dalamnya.
"Qur'an itu sumber segala sumber. Apa pun ada di sana. Kita saja yang sering miskin menggali," katanya.
Karena itu, ia meyakini pengembangan perguruan tinggi tidak boleh mengorbankan disiplin ilmu keagamaan. Pembukaan program studi baru, termasuk di bidang sains dan kesehatan, harus tetap berjalan beriringan dengan penguatan fakultas-fakultas keagamaan.
"Semua harus berjalan bersama."
Keyakinan yang sama juga ia terapkan di lingkungan keluarga. Munir tidak pernah memandang pendidikan agama dan pendidikan tinggi sebagai dua pilihan yang saling meniadakan.
Anak-anaknya pun dibesarkan dengan semangat yang sama seperti yang pernah ia jalani: menggabungkan tradisi pesantren dengan pendidikan formal.
Anak pertamanya kini melanjutkan studi di UIN Walisongo. Anak pertama dan keduanya sedang menempuh jalan sebagai penghafal Al-Qur'an, sementara anak bungsunya masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Meski demikian, ia mengaku tidak pernah memaksakan pilihan kepada anak-anaknya. Menurutnya, setiap generasi memiliki cara pandang yang berbeda. Tugas orang tua adalah menanamkan nilai-nilai dasar agar mereka mampu menentukan pilihan hidupnya sendiri.
"Kita hanya memberi dasar," katanya.
Bagi Munir, pada akhirnya pendidikan bukan semata-mata tentang memperoleh gelar atau pekerjaan. Ada tanggung jawab yang lebih besar setelah seseorang memperoleh ilmu.
"Orang mencari ilmu tidak boleh egois," ujar pria penuh inspirasi itu.
Ilmu, menurutnya, harus kembali kepada masyarakat sebagai bentuk pengabdian. Prinsip itulah yang membuatnya tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, mulai dari mengembangkan TPQ, aktif di Jam'iyyatul Qurra' wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Jawa Tengah.
Munir kuga pernah berkegiatan di Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Tengah, menjadi Wakil Ketua Badan Amalan Islam UIN Walisongo, hingga memimpin Yayasan Zauqol Furqon di Rowosari, Tembalang.






Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.