Ibu dan Promotor Wafat, Muchlis Tetap Tuntaskan Disertasi dan Raih Gelar Doktor

Redaksi
0
Kehilangan orang-orang terdekat tak menghentikan langkah Muchlis menyelesaikan studi doktor. Foto ist.

Semarang, EDUKASIA.ID - Ruang ujian promosi doktor di Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Sabtu 27 Juni 2026, dipenuhi ucapan selamat setelah Muchlis, pria asal Madura, dinyatakan lulus.

Bagi dosen Institut Agama Islam Miftahul Ulum (IAIMU) Pamekasan itu, keberhasilan tersebut bukan sekadar akhir dari perjalanan akademik, tetapi juga menjadi penanda bahwa pesan kedua orang tuanya akhirnya ia tuntaskan: terus belajar.

Perjalanan menuju gelar doktor tidak sepenuhnya berjalan mulus. Ayah Muchlis meninggal dunia pada 2021, bertepatan saat ia memulai karier sebagai dosen.

Tiga tahun kemudian, ketika proses disertasinya memasuki ujian proposal, sang ibu menyusul berpulang. Setelah naskah disertasinya mendapat persetujuan akhir, promotornya juga meninggal dunia sebelum sempat menyaksikan ujian promosi.

Muchlis yang lahir dan tumbuh di keluarga sederhana di Pamekasan, Madura, menyebut ayah dan ibunya tidak pernah menikmati pendidikan hingga lulus sekolah dasar.

Namun, di tengah keterbatasan itu, keduanya selalu menanamkan keyakinan bahwa pendidikan merupakan bekal paling berharga bagi anak-anaknya.

"Almarhum bapak dan almarhumah ibu tidak lulus SD. Mereka tidak pernah menyuruh saya bekerja dan membantunya produksi genting dari tanah liat. Yang selalu mereka minta hanya belajar," ujar Muchlis sembari menatap ke atas, menahan haru.

Pesan sederhana itu terus diingatnya selama menempuh pendidikan. Baginya, menyelesaikan studi doktor bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik, tetapi juga menunaikan harapan orang tua yang sejak kecil lebih sering mendorongnya membuka buku daripada memikirkan pekerjaan.

Beruntung, sarjana dari STAI Miftahul Ulum Pamekasan dan magister di IAIN Madura itu mendapatkan kesempatan menjalani pendidikan doktor melalui program beasiswa LPDP-BIB Kementerian Agama RI, setelah bersaing dengan ribuan kompetitor lain.

Dalam ujian promosi doktor, Muchlis mempertahankan disertasi yang sangat unik, berjudul "Resiliensi Perkawinan Jarak Jauh: Studi Fenomenologi Keluarga Buruh Migran Madura".

"Tema itu saya pilih karena banyak keluarga di Madura harus menjalani kehidupan rumah tangga dengan pasangan yang bekerja di luar daerah maupun luar negeri," tukasnya.

Kondisi tersebut menghadirkan tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga hubungan suami istri, pengasuhan anak, hingga keberlangsungan keluarga.

Menggunakan pendekatan fenomenologi, Muchlis mewawancarai keluarga buruh migran yang berasal dari empat kabupaten di Madura.

Penelitian dilakukan untuk memahami pengalaman mereka mempertahankan keutuhan rumah tangga ketika harus hidup berjauhan dalam waktu yang lama.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ketahanan perkawinan tidak lahir karena keluarga terbebas dari persoalan.

Justru menurut Muchlis, berbagai tantangan, seperti kerinduan, perubahan pembagian peran dalam rumah tangga, pengasuhan anak, hingga tekanan sosial, dihadapi melalui proses penyesuaian yang terus berlangsung.

Menurutnya, komunikasi yang terbuka menjadi fondasi penting dalam menjaga hubungan pasangan. Namun, komunikasi saja tidak cukup.

"Kepercayaan dan komitmen sangat menentukan kemampuan keluarga bertahan menghadapi perkawinan jarak jauh," beber Sekretaris PAC GP Ansor Palengaan itu.

Selain itu, faktor yang berpengaruh adalah kemampuan beradaptasi serta kesediaan pasangan untuk saling memahami kondisi masing-masing.

Penelitian itu juga menemukan kuatnya peran keluarga besar yang termanifestasi pada sistem kekerabatan Taneyan Lanjhang dalam kehidupan masyarakat Madura. Ketika salah satu pasangan bekerja di perantauan, orang tua, saudara, paman, bibi, hingga kakek dan nenek ikut mengambil bagian dalam pengasuhan anak, memberikan dukungan emosional, membantu kebutuhan sehari-hari, menjadi penengah ketika terjadi konflik, bahkan menjaga kontrol sosial agar hubungan keluarga tetap terpelihara.

Selain dukungan keluarga, Muchlis menemukan bahwa nilai budaya Madura turut membentuk ketahanan keluarga.

"Nilai Tèngka mendorong pasangan menjaga kesetiaan, menghormati keluarga pasangan, membiasakan tabayun ketika muncul persoalan, menjaga nama baik keluarga, serta memandang perkawinan sebagai amanah yang harus dipertahankan," imbuhnya.

Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, kemudian berpadu dengan ajaran Islam yang menekankan kesabaran, tanggung jawab, dan komitmen dalam membangun rumah tangga.

Berdasarkan seluruh temuan tersebut, Muchlis mengembangkan konsep Collective Cultural Resilience, yakni model resiliensi yang menempatkan budaya lokal dan sistem kekerabatan sebagai bagian penting dalam menjaga keutuhan keluarga buruh migran.

Menurutnya, resiliensi keluarga tidak hanya dibangun oleh suami dan istri, tetapi juga diperkuat oleh nilai budaya, agama, dan dukungan sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Selama menempuh studi, Muchlis juga aktif menulis artikel ilmiah di jurnal nasional dan internasional bereputasi, termasuk jurnal terindeks Scopus, serta menerbitkan buku tentang hukum perkawinan Islam dan pendidikan pesantren.

Produktivitas akademik tersebut menjadi bagian dari ikhtiarnya mengembangkan kajian hukum keluarga Islam dari perspektif masyarakat Madura.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat memberi sumbangan bagi pengembangan kajian keluarga Islam sekaligus menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan keluarga buruh migran di Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top