Nadhifah (tengah) berfoto bersama promotor, kopromotor, dan tim penguji usai dinyatakan lulus dalam ujian promosi doktor di UIN Walisongo Semarang, Jumat 26 Juni 2026. Foto ist.
Semarang, EDUKASIA.ID - Setiap pondok pesantren tahfidz memiliki kekhasan dalam mencetak para penghafal Al-Qur'an. Ada yang dikenal sangat kuat menjaga sanad dan kualitas bacaan, ada yang mengembangkan sistem pembelajaran modern berbasis karakter, sementara yang lain berhasil membangun lingkungan belajar yang inklusif bagi santri yatim dan dhuafa.
Berangkat dari keberagaman tersebut, akademisi sekaligus pemerhati pendidikan Al-Qur'an, Nadhifah, berupaya merumuskan satu model pembelajaran yang memadukan keunggulan dari berbagai pendekatan itu.
Penelitian dosen FUHUM UIN Walisongo yang juga penghafal Qur'an tersebut mengantarkannya meraih gelar doktor pada Program Studi Prodi S3 Studi Islam Konsentrasi Pembelajaran Ilmu Al-Qur'an UIN Walisongo Semarang.
Nadhifah mempertahankan disertasinya dalam ujian promosi doktor yang digelar di Ruang Promosi Doktor Lantai 3 Kampus 1 UIN Walisongo, Jumat 26 Juni 2026.
Ia mengangkat disertasi berjudul "Model Pembelajaran Efektif-Integratif Tahfidz Al-Qur'an (Studi di Pondok Pesantren Yanbu'ul Qur'an Kudus, Daarul Qur'an Ungaran, dan Rijalul Qur'an Gunungpati Semarang)."
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan studi multi-kasus dengan mengkaji tiga pesantren tahfidz yang memiliki karakter berbeda. Ketiganya dipilih karena dinilai mewakili tipologi pembelajaran tahfidz yang berkembang di Indonesia, mulai dari pesantren salaf, pesantren modern, hingga pesantren berbasis pemberdayaan sosial.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Nadhifah menemukan bahwa tidak ada satu pun pesantren yang paling unggul dalam seluruh aspek pembelajaran. Justru, masing-masing memiliki keunggulan komparatif yang dapat dipadukan menjadi sebuah model pembelajaran yang lebih utuh.
"Setiap pesantren memiliki keunggulan komparatif yang saling melengkapi. Yanbu'ul Qur'an menekankan otoritas sanad dan akurasi fonetik melalui metode talaqqi dan musyafahah yang ketat," ujar Nadhifah, sebagaiaman tertuang dalam abstraksi diesrtasinya.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat kualitas bacaan, tajwid, dan hafalan santri benar-benar terjaga. Santri tidak hanya dituntut mampu menghafal, tetapi juga mempertahankan ketepatan bacaan sesuai standar sanad yang berlaku.
Berbeda dengan itu, Pondok Pesantren Daarul Qur'an Ungaran mengembangkan sistem pembelajaran yang lebih modern. Selain pembelajaran tahfidz, pesantren tersebut mengintegrasikan pendidikan karakter, kepemimpinan, serta kemandirian melalui sistem pembinaan dan pemantauan perkembangan hafalan yang terstruktur.
"Daarul Qur'an mengembangkan efisiensi sistemik melalui manajemen pembelajaran modern, pembentukan karakter, kepemimpinan, serta pemanfaatan sistem monitoring perkembangan hafalan santri," lanjutnya.
Sementara itu, Pondok Pesantren Rijalul Qur'an Gunungpati menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif. Pesantren ini membangun lingkungan Qur'ani yang kondusif bagi seluruh santri, termasuk mereka yang berasal dari kalangan yatim dan dhuafa.
"Rijalul Qur'an menonjol melalui integrasi aspek nutrisi, optimalisasi waktu ibadah seperti qiyamullail dan mudarasah, serta pendekatan inklusif bagi santri yatim dan dhuafa," imbuhnya.
Melalui sintesis ketiga model tersebut, Nadhifah merumuskan Model Pembelajaran Efektif-Integratif Tahfidz Al-Qur'an. Model ini menggabungkan kekuatan sanad dan kualitas bacaan, sistem manajemen pembelajaran modern, pembentukan karakter, lingkungan Qur'ani yang kondusif, hingga pendampingan hafalan secara berkelanjutan.
Menurutnya, hasil penelitian tersebut tidak hanya menjadi temuan akademik, tetapi juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pesantren, madrasah, sekolah Islam, maupun lembaga pendidikan Al-Qur'an dalam mengembangkan pembelajaran tahfidz yang lebih efektif sesuai tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi pesantren.
Ujian promosi doktor dipimpin Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. selaku ketua sidang dengan Dr. H. Ismail, M.Ag. sebagai sekretaris.
Promotor disertasi adalah Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M. Ag. (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), didampingi kopromotor Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag.
Adapun tim penguji terdiri atas Prof. Said Agil Husin almunawwar (penguji eksternal dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Prof. Dr. H. Abdul Ghofur, M.Ag., Prof. Dr. Tholkhatul Khoir, M.Ag., serta Prof. Dr. H. Ali Imron, M.Ag.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.