Muhammad Yusuf Pratama. Foto Kemenag.
Semarang, EDUKASIA.ID - Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Muhammad Yusuf Pratama, mencatatkan prestasi di tingkat internasional.
Saat masih duduk di Semester V, ia berhasil menerbitkan artikel ilmiah pada jurnal bereputasi Scopus Q2.
Artikel berjudul Aestheticizing Coexistence: Public Perceptions of the Istiqlal-Cathedral Tunnel on Social Media dipublikasikan di Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Volume 33 Nomor 2 Tahun 2025 dengan DOI 10.19105/karsa.v33i2.20836.
Tak berhenti di situ, pada Semester VI Yusuf kembali menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q1.
Artikelnya yang berjudul Recontextualizing Hadith on Image Prohibition to Assess AI-generated Images through Fazlur Rahman's Double Movement diterbitkan di Journal of Visual Theology (Rusia) Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026 tanpa dikenai biaya publikasi (Free APC).
Kedua publikasi tersebut kini telah tercatat pada profil Scopus milik Yusuf dengan Author ID: 60341187500.
Kedua publikasi tersebut kini telah tercatat pada profil Scopus milik Yusuf dengan Author ID: 60341187500.
Capaian itu juga didukung kolaborasi bersama sejumlah akademisi yang memiliki rekam jejak publikasi di berbagai jurnal internasional bereputasi.
Dalam artikel yang dimuat di Karsa, Yusuf bersama tim mengangkat fenomena Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta.
Penelitian itu mengulas bagaimana media sosial membentuk persepsi publik terhadap ruang keagamaan sebagai simbol toleransi di Indonesia.
Melalui analisis media sosial, penelitian tersebut menemukan bahwa ruang publik tidak hanya dipandang sebagai infrastruktur fisik, tetapi juga menjadi sarana membangun narasi persaudaraan lintas agama.
"Narasi digital yang berkembang memperkuat citra Indonesia sebagai masyarakat yang mampu merawat keberagaman melalui ruang publik bersama," jelas Yusuf, ditulis Rabu 8 Juli 2026.
Sementara itu, artikel keduanya membahas perkembangan Artificial Intelligence (AI), khususnya mengenai penggunaan AI untuk menghasilkan gambar. Dalam kajian tersebut, Yusuf menelaah kembali hadis tentang larangan membuat gambar menggunakan pendekatan Double Movement Fazlur Rahman agar dapat dipahami sesuai perkembangan teknologi modern.
Menurut Yusuf, gambar yang dihasilkan AI memiliki karakter berbeda dengan praktik menggambar yang menjadi objek pembahasan klasik dalam hadis. AI juga tidak memiliki kehendak, niat, maupun kapasitas moral sehingga tidak dapat diposisikan sebagai subjek hukum.
"Karena itu, tanggung jawab etis dan hukum sepenuhnya berada pada manusia sebagai pengguna teknologi, khususnya melalui niat, tujuan penggunaan, serta dampak sosial yang ditimbulkan," terang Yusuf.
"Pendekatan ini menawarkan kerangka etik Islam yang tetap berpijak pada maqāṣid al-syarī‘ah sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi digital," tambahnya.
Yusuf berharap hasil penelitiannya dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan Islam sekaligus menjawab berbagai persoalan kontemporer di tingkat global.
"Semoga artikel saya menghadirkan kontribusi ilmiah yang tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan Islam, tetapi juga memberikan perspektif baru dalam menjawab persoalan sosial, keberagaman, hingga perkembangan kecerdasan buatan di era digital," pungkas Yusuf.
Dalam artikel yang dimuat di Karsa, Yusuf bersama tim mengangkat fenomena Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta.
Penelitian itu mengulas bagaimana media sosial membentuk persepsi publik terhadap ruang keagamaan sebagai simbol toleransi di Indonesia.
Melalui analisis media sosial, penelitian tersebut menemukan bahwa ruang publik tidak hanya dipandang sebagai infrastruktur fisik, tetapi juga menjadi sarana membangun narasi persaudaraan lintas agama.
"Narasi digital yang berkembang memperkuat citra Indonesia sebagai masyarakat yang mampu merawat keberagaman melalui ruang publik bersama," jelas Yusuf, ditulis Rabu 8 Juli 2026.
Sementara itu, artikel keduanya membahas perkembangan Artificial Intelligence (AI), khususnya mengenai penggunaan AI untuk menghasilkan gambar. Dalam kajian tersebut, Yusuf menelaah kembali hadis tentang larangan membuat gambar menggunakan pendekatan Double Movement Fazlur Rahman agar dapat dipahami sesuai perkembangan teknologi modern.
Menurut Yusuf, gambar yang dihasilkan AI memiliki karakter berbeda dengan praktik menggambar yang menjadi objek pembahasan klasik dalam hadis. AI juga tidak memiliki kehendak, niat, maupun kapasitas moral sehingga tidak dapat diposisikan sebagai subjek hukum.
"Karena itu, tanggung jawab etis dan hukum sepenuhnya berada pada manusia sebagai pengguna teknologi, khususnya melalui niat, tujuan penggunaan, serta dampak sosial yang ditimbulkan," terang Yusuf.
"Pendekatan ini menawarkan kerangka etik Islam yang tetap berpijak pada maqāṣid al-syarī‘ah sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi digital," tambahnya.
Yusuf berharap hasil penelitiannya dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan Islam sekaligus menjawab berbagai persoalan kontemporer di tingkat global.
"Semoga artikel saya menghadirkan kontribusi ilmiah yang tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan Islam, tetapi juga memberikan perspektif baru dalam menjawab persoalan sosial, keberagaman, hingga perkembangan kecerdasan buatan di era digital," pungkas Yusuf.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.