KH Ahmad Masduqi Abdurrohman Alhafidz menyalami salah seorang khatimin pada Tasyakuran Khotmil Quran ke-8 Pondok Pesantren Raudhatu Tahfidzil Quran Perak Jombang. Foto. YouTube Pondok Perak.
Jombang. EDUKASIA.ID – Pengasuh Ribath Hidayatul Qur'an Peterongan, Jombang, Dr. KH. M. Afifuddin Dimyathi Alhafidz Lc. MA atau Gus Awis mengingatkan para penghafal Al-Quran bahwa menyelesaikan hafalan bukanlah akhir dari perjuangan.
Justru sejak itulah mereka memikul tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjadi pembawa cahaya di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Gus Awis dalam Haul ke-72 almaghfurlah KH Abdurrahman Bahri dan Tasyakuran Khotmil Quran ke-8 Pondok Pesantren Raudhatu Tahfidzil Quran, Perak, Jombang, Sabtu, 4 Juli 2026.
Menurutnya, Al-Quran diturunkan Allah SWT sebagai nur (cahaya). Karena itu, setiap hafiz dan hafizah harus menjadi hamilun nur, yakni pembawa cahaya yang menghadirkan keberkahan melalui akhlak dan perilakunya.
"Para penghafal Al-Quran harus menjadi nur yamsyi finnas, cahaya yang berjalan di muka bumi. Kita harus bisa menghadirkan keberkahan dan nilai-nilai Al-Quran dalam setiap langkah kehidupan," ujar Gus Awis.
Dalam tausiyahnya, Gus Awis menjelaskan bahwa interaksi dengan Al-Quran tidak cukup hanya menghafalkan ayat-ayatnya. Ia menguraikan tiga aspek penting dalam berinteraksi dengan kitab suci tersebut.
Pertama, melalui pendengaran (as-sam'u). Menurutnya, menyimak bacaan Al-Quran bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan mukjizat yang mampu membuka pintu pemahaman batin.
Kedua, melalui penglihatan (al-bashar). Ia mencontohkan bahwa mentadaburi mushaf, termasuk memperhatikan penulisan huruf atau rasm utsmani, menyimpan rahasia keagungan Allah SWT.
Ketiga, melalui pikiran dan hati (al-fuad). Menurutnya, Al-Quran bukan sekadar untuk dihafal, tetapi juga ditadaburi agar menjadi dzikra bagi diri sendiri, bukan justru digunakan untuk menilai atau menghakimi orang lain.
Gus Awis juga memberikan pesan kepada para khatimin dan khatimat agar menjaga hafalan dengan target harian yang disiplin. Ia menegaskan bahwa Al-Quran harus memperoleh waktu terbaik dalam kehidupan seorang hafiz.
"Jangan jadikan Al-Quran sebagai pengisi waktu luang. Berikan waktu terbaikmu, buat target harian yang konsisten, dan jadikan itu janji suci sampai akhir hayat. Inilah yang akan mengantarkan pada kehidupan yang penuh keberkahan," pungkasnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatu Tahfidzil Quran, KH Ahmad Masduqi Abdurrahman Alhafidz, menekankan bahwa perjuangan membangun pesantren dan mendidik para santri merupakan proses panjang yang tidak dapat dicapai secara instan.
Pengasuh pondok tahfidz tertua di Jombang itu memberikan pesan menyentuh, ia meminta para santri agar terus bersabar dan istiqamah dalam belajar maupun menjaga hafalan Al-Quran.
"Nggal sitik-nggal sitik (sedikit demi sedikit), tidak ujug-ujug (tiba-tiba) bisa, itu tidak ada. Untuk itu saya sampaikan, semua anak-anak (santri) saya yang meneruskan perjuangan saya, mudah-mudahan mendapat imbalan dari Allah Subhanahu wa ta'ala," tegas Kyai Masduqi.
Smeentara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang, Dr. H. Muhajir, S.Pd., M.Ag, turut menyampaikan rasa takzim, hormat, dan apresiasi kepada Pondok Pesantren Raudhat Tahfidil Quran yang dinilainya istiqamah melahirkan generasi-generasi Qurani.
Menurutnya, haul bukan sekadar mengenang sosok ulama, melainkan menjadi momentum menyambung perjuangan yang telah diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Haul itu adalah momentum menyambung sanad perjuangan, meneruskan cita-cita yang telah beliau rintis," ujarnya.
Ia menilai almarhum KH Abdurrahman Bahri tidak hanya meninggalkan warisan berupa pesantren, tetapi juga mewariskan sumber daya manusia melalui para santri penghafal Al-Quran yang terus melanjutkan dakwah.
"Sebab ulama boleh berpulang, boleh wafat, tetapi cahaya ilmunya tentunya tidak boleh padam dan kewajiban kita bersama untuk meneruskan perjuangan beliau."
Pondok Pesantren Putra Putri Raudhotu Tahfidzil Qur'an atau lebih dikenal sebagai Pondok Perak merupakan salah satu pesantren tahfidz tertua di Jombang.
Pesantren ini didirikan pada 1965 oleh KH Ahmad Masduqi Abdurrohman Alhafidz, putra almaghfurlah KH Abdurrahman Bahri, yang hingga kini masih membimbing para santri.
Berawal dari sebuah musala sederhana, Pondok Perak berkembang menjadi lembaga pendidikan yang mengelola madrasah tahfidz, madrasah diniyah, hingga pendidikan formal dari jenjang TK, SD, SMP, sampai SMK.
Selama lebih dari enam dekade, pesantren ini konsisten mencetak generasi penghafal Al-Quran dari berbagai daerah dengan tetap memegang prinsip Al Muhafadzotu Alal Qodimis Sholih Wal Akhdzu Bil Jadidil Aslah, yakni menjaga tradisi yang baik sekaligus mengambil pembaruan yang lebih maslahat.
Pada Tasyakuran Khotmil Quran tahu iniu, sebanyak 50 santri mengikuti tasyakuran khatmil Quran, terdiri atas 23 santri putra dan 27 santri putri yang telah menyelesaikan hafalan Al-Quran.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.