Ngaji Tafsir Al-Ibriz pekan ini membahas Surah Luqman ayat 20–27, tentang nikmat Allah, luasnya ilmu-Nya, keutamaan mengaji, dan pentingnya mengisi umur dengan amal baik. Foto Pondok Perak.
Jombang. EDUKASIA.ID – Allah SWT telah menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk kemaslahatan manusia serta melimpahkan nikmat-Nya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Namun, manusia kerap lebih mudah melihat kekurangan daripada mensyukuri karunia yang telah diterima.
Pesan tersebut disampaikan KH Ahmad Masduqi Abdurrahman Al-Hafidz dalam pengajian rutin Tafsir Al-Ibriz di Pondok Pesantren Putra Putri Roudhotu Tahfidzil Qur'an atau Pondok Perak, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jumat, 24 Juli 2026.
Dalam pengajian yang disiarkan melalui kanal YouTube Pondok Perak itu, Kiai Masduqi mengulas Surah Luqman ayat 20–27 menggunakan kitab Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa.
Kiai berusia 85 tahun tersebut membahas luasnya nikmat Allah, larangan mengikuti kebiasaan tanpa dasar ilmu, pentingnya menyerahkan diri kepada Allah, hingga tidak terbatasnya ilmu dan kalimat-kalimat-Nya.
Nikmat Allah Lahir dan Batin
Mengawali pembahasan Surah Luqman ayat 20, Kiai Masduqi menjelaskan bahwa Allah telah menundukkan segala yang ada di langit dan bumi untuk kepentingan manusia.
Allah juga menyempurnakan nikmat-Nya, baik yang tampak maupun yang tidak terlihat.
Nikmat lahir dapat dirasakan melalui kesehatan, makanan, pakaian, serta anggota tubuh yang berfungsi dengan baik. Sementara nikmat batin antara lain berupa keimanan, ketenangan hati, akal, dan kemampuan memahami kebenaran.
Namun, sebagian manusia masih kerap merasa kurang terhadap apa yang telah diberikan Allah.
Di sela penjelasannya, Kiai Masduqi menyentil kebiasaan manusia yang kurang puas terhadap bentuk fisiknya.
"Wis diwei ngene kurang ngene... Wis diwei alis apik-apik dicukur, diekna ambek angus (Sudah diberi bentuk seperti ini masih merasa kurang. Sudah diberi alis bagus-bagus malah dicukur, lalu digambar menggunakan pensil alis)," tutur Kiai Masduqi.
Melalui guyonan tersebut, beliau mengingatkan bahwa setiap anggota tubuh diciptakan dengan fungsi masing-masing.
"Padahal niki mpu hebat, upama gak ana alise niki, nek udan banyu mlebu mata (Padahal ciptaan ini sudah sangat hebat. Umpama tidak ada alis, saat hujan air bisa langsung masuk ke mata)," sambungnya.
Keberadaan alis, menurut penjelasan Kiai Masduqi, bukan sekadar bagian dari penampilan. Alis juga memiliki fungsi melindungi mata dari aliran air dan kotoran.
Penjelasan sederhana itu menjadi pengingat agar manusia tidak hanya melihat kekurangan fisik, tetapi juga memahami manfaat dari setiap bagian tubuh yang dianugerahkan Allah.
Jangan Mengikuti Tradisi Tanpa Ilmu
Memasuki Surah Luqman ayat 21, Kiai Masduqi mengulas sikap sebagian manusia yang menolak petunjuk Allah karena lebih memilih mengikuti kebiasaan nenek moyang.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketika manusia diajak mengikuti wahyu Allah, sebagian di antara mereka justru memilih mempertahankan ajaran yang diwarisi dari para pendahulunya.
Kebiasaan masa lalu tidak otomatis menjadi ukuran kebenaran. Tradisi yang mengandung kebaikan dapat dijaga, sedangkan kebiasaan yang bertentangan dengan petunjuk Allah tidak boleh dipertahankan hanya karena telah dilakukan secara turun-temurun.
Kiai Masduqi mengingatkan pentingnya ilmu sebagai dasar dalam menjalankan ajaran agama. Tanpa ilmu, seseorang dapat mempertahankan kebiasaan yang keliru dan menolak kebenaran karena fanatisme terhadap tradisi.
Berserah Diri dan Tetap Berbuat Baik
Pada Surah Luqman ayat 22, Kiai Masduqi menjelaskan tentang orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah sembari terus berbuat kebaikan.
Sikap tersebut digambarkan dengan kalimat yuslim wajhahu ilallahi wa huwal muhsin, yakni menyerahkan diri kepada Allah dan tetap menjadi orang yang berbuat baik.
Orang yang memiliki sikap demikian disebut telah berpegang pada al-'urwatul wutsqa atau pegangan yang paling kokoh.
Kepasrahan kepada Allah bukan berarti meninggalkan ikhtiar. Seorang muslim tetap diperintahkan berusaha, menjalankan kebaikan, dan menaati perintah-Nya.
Pada ayat berikutnya, Al-Qur'an juga menegaskan bahwa kekufuran manusia tidak akan merugikan Allah SWT.
Seluruh manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah. Setiap perbuatan yang dilakukan selama hidup akan diberitahukan dan dimintai pertanggungjawaban.
Pengakuan kepada Allah Harus Diikuti Ketaatan
Saat mengulas Surah Luqman ayat 25–26, Kiai Masduqi menerangkan bahwa orang-orang yang mengingkari Allah pun akan mengakui bahwa pencipta langit dan bumi adalah Allah.
Namun, pengakuan tersebut tidak cukup apabila hanya berhenti di lisan. Keimanan harus diwujudkan melalui ibadah, ketaatan, dan kesediaan mengikuti petunjuk Allah.
Seluruh yang ada di langit dan bumi merupakan milik Allah. Dia memiliki sifat Al-Ghaniyyu, Maha Kaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya.
Allah juga memiliki sifat Al-Hamid, Maha Terpuji. Ketaatan seluruh manusia tidak menambah keagungan-Nya, sedangkan kemaksiatan manusia tidak mengurangi kekuasaan-Nya.
Sebaliknya, manusialah yang membutuhkan rahmat, pertolongan, dan ampunan Allah SWT.
Ilmu Allah Tidak Akan Habis Ditulis
Pembahasan dilanjutkan dengan Surah Luqman ayat 27 yang menggambarkan keluasan ilmu dan kalimat-kalimat Allah.
Dalam ayat tersebut dijelaskan, seandainya seluruh pohon di bumi dijadikan pena dan lautan dijadikan tinta, kemudian ditambah tujuh lautan lagi, kalimat-kalimat Allah tidak akan selesai ditulis.
Perumpamaan itu menunjukkan bahwa ilmu Allah tidak memiliki batas. Kemampuan manusia dalam memahami ilmu, menciptakan alat, serta mengembangkan teknologi hanyalah sebagian kecil dari pengetahuan yang dianugerahkan-Nya.
Kiai Masduqi kemudian mengaitkannya dengan perubahan alat tulis dari masa ke masa.
"Biyen dunya gung maju, pulpen gawe dhewe... nulis nganggo aren carang dilincipi (Dahulu dunia belum maju, alat tulis dibuat sendiri. Orang menulis menggunakan pelepah aren yang diruncingkan)," jelasnya.
Seiring perkembangan zaman, alat yang digunakan manusia untuk menulis juga terus berubah.
"Saiki dunya maju pulpene wis dadi, malah gak nganggo pulpen, tulisan sing HP (Sekarang dunia sudah maju, pulpen tinggal digunakan. Bahkan orang tidak lagi memakai pulpen, tetapi menulis melalui HP)," lanjut Kiai Masduqi.
Perkembangan dari alat tulis sederhana hingga teknologi digital menunjukkan kemampuan manusia dalam mengembangkan ilmu.
Namun, seluruh kemajuan itu tetap hanya bagian kecil dari keluasan ilmu Allah SWT. Karena itu, ilmu pengetahuan seharusnya membuat manusia semakin menyadari kebesaran Allah, bukan melahirkan kesombongan.
Menjaga Kesepadanan dalam Rumah Tangga
Di sela pembahasan tafsir, Kiai Masduqi turut memberikan nasihat mengenai kehidupan rumah tangga. Beliau menekankan pentingnya mempertimbangkan kesepadanan atau kufu' ketika memilih pasangan.
"Mulane nek ngolekna bojo anak dialekana sing kufu' (Karena itu, ketika mencarikan pasangan untuk anak, carikanlah yang sepadan)," pesan Kiai Masduqi.
Kesepadanan tersebut dapat menyangkut usia, pemahaman agama, kesiapan, maupun kemampuan menjalani tanggung jawab rumah tangga.
Nasihat tersebut disampaikan dalam konteks pentingnya keharmonisan dan kesesuaian antara pasangan. Dalam praktiknya, pernikahan juga harus memenuhi ketentuan agama dan aturan perundang-undangan yang berlaku.
Umur Panjang Harus Diisi Amal Baik
Kiai Masduqi juga mengingatkan jemaah agar tidak hanya memohon umur panjang, tetapi mampu mengisinya dengan amal saleh.
Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW tentang manusia terbaik.
خير الناس من طال عمره وحسن عمله
Kiai Masduqi kemudian menjelaskan makna hadis tersebut menggunakan bahasa Jawa.
"Apik-apike manungsa iku sing dijawakna umure duwe amal apik (Sebaik-baik manusia adalah orang yang dipanjangkan umurnya dan memiliki amal yang baik)," jelasnya.
Umur panjang, dengan demikian, tidak hanya dinilai dari banyaknya usia. Nilainya terletak pada kebaikan, pengabdian, dan manfaat yang diberikan selama hidup.
Karena itu, kesempatan untuk beribadah, menghadiri majelis ilmu, membantu sesama, dan memperbaiki diri harus dimanfaatkan sebagai bekal menghadap Allah SWT.
Kiai Masduqi turut menyampaikan keutamaan orang yang melangkahkan kaki untuk mengikuti pengajian.
"Ganjarane wong ngaji niki... diwei ganjaran aja ek lunga kaji ping 10.000 (Pahala orang yang mengaji ini sangat besar, diibaratkan tidak sebanding meskipun dengan berangkat haji berkali-kali)," tuturnya.
Ungkapan tersebut disampaikan untuk memotivasi jemaah agar tidak meremehkan kesempatan menghadiri majelis ilmu.
"Mulane sing saged ngaji alhamdulillah (Karena itu, bagi yang dapat hadir mengaji hendaknya bersyukur)," sambungnya.
Majelis ilmu menjadi ruang bagi umat Islam untuk memahami ajaran agama, memperbaiki amal, serta menjaga hubungan dengan para ulama dan sesama jemaah.
Dalam pengajian tersebut, Kiai Masduqi juga menyinggung keutamaan banyaknya jemaah yang menyalati jenazah seorang muslim.
"Wong mati iku nek disembahi wong 40 disepura Gusti Allah (Orang yang meninggal, apabila disalati oleh 40 orang, akan mendapat ampunan dari Allah)," jelasnya.
Karena itu, beliau mengingatkan agar pelaksanaan salat jenazah tidak dilakukan secara terburu-buru apabila masih memungkinkan menunggu kehadiran jemaah.
"Mulane nek nyembahyang wong mati aja kesusu-susu (Karena itu, ketika menyalati orang meninggal jangan terburu-buru)," pesannya.
Nasihat tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kepedulian umat Islam terhadap jenazah sesama muslim, mulai dari mengurus, menyalati, hingga mengantarkannya ke tempat pemakaman.
Selain membahas ayat-ayat Surah Luqman, Kiai Masduqi mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan hati.
Hati memiliki pengaruh besar terhadap sikap dan perbuatan manusia. Apabila hati terjaga, seseorang akan lebih mudah melakukan kebaikan dan menjauhi perbuatan buruk.
Beliau mengajak jemaah membiasakan zikir Lailaha illallah, membaca tasbih, serta memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Amalan tersebut menjadi salah satu cara menjaga hati agar tidak keras dan tidak mudah dikuasai hawa nafsu maupun godaan setan.
Pengajian Tafsir Al-Ibriz di Pondok Perak tersebut ditutup dengan doa bersama agar seluruh jemaah diberi keberkahan umur, keistiqamahan dalam menuntut ilmu, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
"Apik-apike manungsa iku sing dijawakna umure duwe amal apik (Sebaik-baik manusia adalah orang yang dipanjangkan umurnya dan memiliki amal yang baik)," jelasnya.
Umur panjang, dengan demikian, tidak hanya dinilai dari banyaknya usia. Nilainya terletak pada kebaikan, pengabdian, dan manfaat yang diberikan selama hidup.
Karena itu, kesempatan untuk beribadah, menghadiri majelis ilmu, membantu sesama, dan memperbaiki diri harus dimanfaatkan sebagai bekal menghadap Allah SWT.
Besarnya Pahala Menghadiri Majelis Ilmu
Kiai Masduqi turut menyampaikan keutamaan orang yang melangkahkan kaki untuk mengikuti pengajian.
"Ganjarane wong ngaji niki... diwei ganjaran aja ek lunga kaji ping 10.000 (Pahala orang yang mengaji ini sangat besar, diibaratkan tidak sebanding meskipun dengan berangkat haji berkali-kali)," tuturnya.
Ungkapan tersebut disampaikan untuk memotivasi jemaah agar tidak meremehkan kesempatan menghadiri majelis ilmu.
"Mulane sing saged ngaji alhamdulillah (Karena itu, bagi yang dapat hadir mengaji hendaknya bersyukur)," sambungnya.
Majelis ilmu menjadi ruang bagi umat Islam untuk memahami ajaran agama, memperbaiki amal, serta menjaga hubungan dengan para ulama dan sesama jemaah.
Jangan Terburu-buru Menyalati Jenazah
Dalam pengajian tersebut, Kiai Masduqi juga menyinggung keutamaan banyaknya jemaah yang menyalati jenazah seorang muslim.
"Wong mati iku nek disembahi wong 40 disepura Gusti Allah (Orang yang meninggal, apabila disalati oleh 40 orang, akan mendapat ampunan dari Allah)," jelasnya.
Karena itu, beliau mengingatkan agar pelaksanaan salat jenazah tidak dilakukan secara terburu-buru apabila masih memungkinkan menunggu kehadiran jemaah.
"Mulane nek nyembahyang wong mati aja kesusu-susu (Karena itu, ketika menyalati orang meninggal jangan terburu-buru)," pesannya.
Nasihat tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kepedulian umat Islam terhadap jenazah sesama muslim, mulai dari mengurus, menyalati, hingga mengantarkannya ke tempat pemakaman.
Menjaga Hati dengan Zikir
Selain membahas ayat-ayat Surah Luqman, Kiai Masduqi mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan hati.
Hati memiliki pengaruh besar terhadap sikap dan perbuatan manusia. Apabila hati terjaga, seseorang akan lebih mudah melakukan kebaikan dan menjauhi perbuatan buruk.
Beliau mengajak jemaah membiasakan zikir Lailaha illallah, membaca tasbih, serta memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Amalan tersebut menjadi salah satu cara menjaga hati agar tidak keras dan tidak mudah dikuasai hawa nafsu maupun godaan setan.
Pengajian Tafsir Al-Ibriz di Pondok Perak tersebut ditutup dengan doa bersama agar seluruh jemaah diberi keberkahan umur, keistiqamahan dalam menuntut ilmu, serta diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.