ILUSTRASI. Mengenal AHWA atau Ahlul Halli wal Aqdi, mekanisme pemilihan Rais Aam NU yang berakar dari kitab kuning dan tradisi musyawarah ulama. Foto Magnific.
EDUKASIA.ID - JELANG Muktamar ke-35 NU di Jombang, istilah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) kembali menjadi bahan perbincangan. Nama ini kerap muncul setiap kali pembahasan mengarah pada pemilihan Rais Aam PBNU.
Tidak banyak yang tahu bahwa AHWA bukan sekadar mekanisme organisasi. Dilansir dari muktamar.nu.id, istilah ini berasal dari khazanah fikih klasik dan telah lama dikenal dalam tradisi kitab kuning di pesantren.
Berikut lima hal yang perlu diketahui tentang AHWA:
1. AHWA Berasal dari Khazanah Fikih Klasik
Ahlul Halli wal Aqdi merupakan istilah yang banyak ditemukan dalam pembahasan fikih siyasah, khususnya terkait kepemimpinan (al-imamah). Dalam literatur klasik, AHWA merujuk kepada kelompok yang memiliki kewenangan untuk menentukan dan memberikan legitimasi kepada seorang pemimpin.
Karena memiliki landasan akademik yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam, konsep ini terus menjadi rujukan di berbagai lembaga keagamaan, termasuk NU.
2. Kitab Kuning Menempatkan Ulama sebagai AHWA
Sejumlah ulama menjelaskan bahwa Ahlul Halli wal Aqdi terdiri atas para ulama dan tokoh masyarakat yang memiliki kapasitas keilmuan serta pengaruh di tengah umat.
Ibnu Muflih Al-Hambali menulis:
ولا بد من بيعة أهل الØÙ„ والعقد من العلماء ووجوه الناس
Sementara Imam Al-Dasuqi menyebut:
لأن العلماء هم أهل الØÙ„ والعقد
Pandangan inilah yang menjadi salah satu dasar penting bagi NU dalam menempatkan para kiai sebagai penjaga arah kepemimpinan organisasi.
3. AHWA Mengedepankan Musyawarah Para Kiai
Dalam praktik di NU, AHWA beranggotakan sembilan kiai khos yang diberi mandat untuk menentukan Rais Aam PBNU.
Mekanisme ini diawali dengan usulan nama dari PCNU dan PWNU. Kiai yang memperoleh dukungan terbanyak kemudian masuk dalam forum AHWA untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam.
Model tersebut dipandang sejalan dengan tradisi pesantren yang mengedepankan musyawarah dan pertimbangan keilmuan.
4. Spirit AHWA Sudah Lama Hidup di NU
Meski baru populer dalam beberapa tahun terakhir, semangat AHWA sebenarnya bukan hal baru di lingkungan NU.
Jejak mekanisme yang menempatkan ulama sebagai penentu arah kepemimpinan sudah terlihat sejak Muktamar ke-27 di Situbondo pada 1984. Tradisi itu kemudian terus berkembang seiring perjalanan organisasi.
Karena itu, AHWA lebih tepat dipahami sebagai kelanjutan dari kultur kepemimpinan ulama yang telah lama mengakar dalam tubuh NU.
5. Jombang Menjadi Tonggak Penting AHWA
AHWA resmi dibakukan dalam AD/ART NU pada Muktamar ke-33 yang digelar di Jombang pada 2015. Saat itu, sembilan anggota AHWA bermusyawarah dan menetapkan KH Ma'ruf Amin sebagai Rais Aam PBNU.
Mekanisme yang sama kembali digunakan pada Muktamar ke-34 di Lampung tahun 2021, yang menghasilkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU periode 2021-2026.
Tidak heran jika pembahasan tentang AHWA kembali menguat menjelang Muktamar ke-35, terlebih forum tertinggi NU tersebut kembali digelar di Jombang.
AHWA pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan tata cara memilih pemimpin. Konsep ini juga menunjukkan bagaimana tradisi kitab kuning dan musyawarah ulama tetap hidup dalam sistem organisasi Nahdlatul Ulama hingga hari ini.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.