Dr. KH. Ahmad Maghfurin, M.Ag, Pengasuh Ma’had UIN Walisongo, membahas literasi kitab suci melalui karya berbahasa Arab tentang Taurat dan Al-Qur’an. Foto ist.
Semarang. EDUKASIA.ID - Pentingnya literasi kitab suci menjadi salah satu gagasan yang dibahas Dr. KH. Ahmad Maghfurin, M.Ag., Pengasuh Ma’had Jamiah Walisongo, melalui karya berbahasa Arab yang membahas Taurat dan Al-Qur’an melalui pendekatan komparatif, dengan perhatian pada aspek mashdariyah atau sumber dan tadwin atau kodifikasi.
Pembahasan buku berjudul التوراة والقرآن: دراسة مقارنة في المصدرية والتدوين (At-Taurah wa al-Qur’an: Dirasah Muqaranah fi al-Mashdariyyah wa at-Tadwin) tersebut, tak hanya melihat isi teks, tetapi juga sejarah sumber, proses penulisan, serta tradisi penjagaan kitab suci.
“Melalui dua pintu ini, pembaca diajak melihat bahwa memahami kitab suci memerlukan ilmu, ketelitian, dan tanggung jawab intelektual,” jelas Maghfurin, Senin 10 Agustus 2026.
Dalam perspektif tersebut, memahami kitab suci tidak cukup hanya dengan mengetahui isi teks. Ada pula proses yang perlu ditelusuri, termasuk bagaimana teks sampai kepada umat, sejarah penulisan, otoritas wahyu, transmisi, serta cara umat beragama menjaga kitab sucinya dari masa ke masa.
Tidak Berhenti pada Hafalan
Maghfurin juga mengaitkan kajian tersebut dengan kebutuhan penguatan tradisi keilmuan di kalangan santri. Menurutnya, hafalan tetap memiliki posisi penting, tetapi perlu disertai kemampuan memahami konteks, menelusuri sumber, membandingkan pendapat, dan menyusun argumen secara jernih.
“Dalam kajian Taurat dan Al-Qur’an, saya mengarahkan pembaca untuk tidak sekadar bertanya ‘apa isi teks’, tetapi juga ‘bagaimana teks itu sampai kepada umat’,” bebernya.
Hal itu membuka ruang pembelajaran yang lebih luas mengenai sejarah teks dan transmisi pengetahuan keagamaan. Pendekatan semacam ini juga berkaitan dengan upaya membangun kedewasaan intelektual santri dalam memahami sumber-sumber keagamaan.
Santri, dalam pandangan tersebut, tidak hanya diposisikan sebagai pembaca teks. Mereka juga perlu memiliki kemampuan memahami dasar pengetahuan dan menjelaskan persoalan keagamaan dengan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tantangan Literasi di Ruang Digital
Kebutuhan terhadap kemampuan tersebut semakin relevan di tengah perkembangan teknologi. Informasi keagamaan kini mudah ditemukan melalui berbagai platform digital dalam bentuk tafsir, ceramah, potongan dalil, maupun opini.
Namun, informasi yang beredar tidak selalu disajikan secara utuh. Karena itu, kemampuan memeriksa sumber dan memahami konteks menjadi bagian penting dalam literasi keagamaan.
“Santri masa depan akan menghadapi ruang digital yang dipenuhi tafsir cepat, ceramah pendek, potongan dalil, dan opini keagamaan yang sering tidak lengkap,” ungkap Maghfurin.
Literasi kitab suci dalam konteks ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks Arab atau memahami terjemahan. Literasi juga mencakup kemampuan mengenali sejarah, metode, dan otoritas keilmuan yang berkaitan dengan sebuah teks.
Kemampuan tersebut menjadi penting agar santri dapat memilah informasi keagamaan yang diterima, memeriksa sumbernya, serta memahami persoalan secara lebih utuh.
Perbandingan Agama sebagai Ruang Pembelajaran
Kajian Taurat dan Al-Qur’an dalam karya tersebut juga ditempatkan dalam kerangka perbandingan agama. Pendekatan ini dapat menjadi ruang pembelajaran untuk memahami perbedaan tradisi kitab suci dengan tetap menggunakan metode ilmiah dan sikap hormat.
Menurut Maghfurin, kajian perbandingan agama tidak harus berhenti pada upaya melihat perbedaan. Kajian tersebut juga dapat menjadi sarana memahami tradisi keagamaan secara lebih mendalam.
“Buku ‘Taurat dan Al-Qur’an’ juga memperlihatkan bahwa kajian perbandingan agama dapat menjadi jalan edukatif. Selama dilakukan dengan metode ilmiah dan sikap hormat, kajian seperti ini membantu santri memahami perbedaan tanpa kehilangan identitas keislamannya,” tukas Maghfurin.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran kitab suci dapat mencakup penguasaan teks sekaligus kemampuan membaca sumber, memahami konteks sejarah, dan menyusun argumentasi.
Bagi lingkungan pendidikan Islam, kemampuan tersebut menjadi bagian dari kebutuhan untuk menyiapkan santri yang mampu menghadapi perkembangan informasi keagamaan secara kritis, teliti, dan tetap berpijak pada adab ilmiah.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.