Temu Alumni dan Haul KH Zaenal Asyikin digelar Ahad, 16 Agustus 2026 di PPRT Semarang. Persiapan acara disebut mencapai 99 persen. Foto Arief/EDUKASIA.ID
Semarang. EDUKASIA.ID - Persiapan Temu Alumni dan Haul KH Zaenal Asyikin di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (PPRT) Tugurejo, Semarang, disebut telah mencapai 99 persen. Kegiatan yang mempertemukan keluarga besar pesantren tersebut akan digelar Minggu, 16 Agustus 2026.
Ketua Ikatan Alumni PPRT (IKA PPRT), Moh. Abdul Faqih, mengatakan persiapan kegiatan yang dirangkai dengan Haul ke-18 KH Zaenal Asyikin dan Haul ke-2 KH Mustaghfirin itu hampir seluruhnya rampung.
"Alhamdulillah, persiapannya sudah bisa dikatakan 99 persen. Tinggal datang saja," ungkap Abdul Faqih, Senin, 10 Agustus 2026.
Pria yang akrab disapa Sebeh itu mengatakan persiapan melibatkan alumni lintas angkatan. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari khidmah kepada para guru yang telah memberikan bekal keilmuan kepada para santri.
"Ini momentum menyambung sanad, mempererat silaturahmi, dan mengenang keteladanan Romo Yai KH Zaenal Asyikin serta KH Mustaghfirin," ujarnya.
Temu alumni ini sekaligus menjadi kesempatan bagi para lulusan PPRT untuk kembali ke pesantren setelah menjalani aktivitas dan kiprah masing-masing di berbagai daerah.
Abdul Faqih mengatakan ikatan alumni dengan pesantren tidak berhenti setelah para santri menyelesaikan masa belajar. Nilai-nilai yang diperoleh selama berada di pesantren diharapkan tetap terjaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
"Pesantren telah memberi bekal ilmu dan akhlak kepada kami. Melalui haul ini kami ingin menjaga ikatan itu tetap hidup sekaligus mengenalkannya kepada generasi santri berikutnya," kata Abdul Faqih.
Mengenang Kesederhanaan KH Zaenal Asyikin
Selain menjadi momentum silaturahmi, haul menjadi kesempatan untuk mengenang keteladanan KH Zaenal Asyikin. Sosok almarhum dikenal di kalangan keluarga besar PPRT sebagai kiai yang menjalani kehidupan dengan sederhana.
Salah satu kisah tentang kesederhanaan tersebut pernah disampaikan alumni PPRT, Arief. Ketika masih berjualan pulsa di pondok, Arief pernah didatangi KH Zaenal Asyikin yang hendak membeli pulsa.
Karena merasa sungkan, Arief sempat bermaksud memberikan pulsa tersebut secara cuma-cuma. Namun, KH Zaenal Asyikin menolaknya.
"Kamu itu berdagang, jangan begitu," kata KH Zaenal Asyikin, sebagaimana dituturkan Arief dalam tulisan EDUKASIA.ID.
Kesederhanaan itu juga tercermin dalam keseharian KH Zaenal Asyikin. Ia tetap menjalankan aktivitas sebagai petani tambak. Dalam sejumlah kisah yang dihimpun EDUKASIA.ID, ia biasa pergi ke tambak dengan mengenakan celana training, membawa sarung dan memakai caping, serta mengayuh perahunya sendiri.
PPRT sendiri menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan keagamaan di Tugurejo. Pesantren tersebut mulai dibangun pada 1983 dan pada awalnya disiapkan sebagai asrama SMP Hasanuddin 6 Tugurejo. Setelah bangunan selesai pada 24 Mei 1984, sejumlah mahasiswa UIN Walisongo kemudian memilih tinggal dan belajar di pesantren tersebut.
Pada masa awal berdirinya, PPRT memiliki sekitar 25 santri. Mereka belajar di bawah bimbingan KH Zaenal Asyikin, KH Mustaghfirin, dan KH Abdul Kholik dengan sejumlah kajian kitab, antara lain Tafsir Jalalain, Riyadussalihin, Bulughul Marom, Taqrib, dan Kifayatul Ahyar.
Kini, alumni PPRT telah tersebar di berbagai daerah dengan beragam latar belakang profesi. Temu alumni yang digelar bersamaan dengan haul menjadi salah satu cara menjaga hubungan antara para alumni dan pesantren.
Ahad, 16 Agustus 2026, keluarga besar PPRT akan kembali berkumpul di pesantren. Selain menjadi momentum mendoakan para masyayikh, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi alumni untuk kembali menyambung silaturahmi dan mengenang keteladanan para pendiri serta pengasuh pesantren.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.