Pondok Pesantren Ni’am Al Fahmi di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Foto ist.
Semarang. EDUKASIA.ID – Melanjutkan kuliah tidak harus membuat mahasiswi meninggalkan kebiasaan mengaji dan tradisi yang telah dibangun selama belajar di pesantren.
Pondok Pesantren Ni’am Al Fahmi di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, menawarkan tempat tinggal sekaligus lingkungan belajar agama bagi mahasiswi. Lokasinya relatif dekat dari Kampus Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Pesantren putri yang berada di Jalan Bukit Beringin Timur IX E 181, Kelurahan Gondoriyo, itu berjarak sekitar 1,9 kilometer dari Kampus PGSD UNNES. Perjalanan menuju pesantren dapat ditempuh sekitar lima menit dengan kendaraan, bergantung kondisi lalu lintas.
Pengasuh Pondok Pesantren Ni’am Al Fahmi, Ustadz H. Ali Maskur, MH. mengatakan, pesantren tersebut menyasar mahasiswi yang ingin menjalani perkuliahan tanpa meninggalkan pendidikan agama.
Menurutnya, pesantren terbuka bagi mahasiswi yang sebelumnya pernah mondok maupun mereka yang belum memiliki pengalaman belajar di pesantren.
“Mahasiswi yang memiliki latar belakang pesantren dapat tetap melanjutkan tradisi mengaji ketika kuliah. Sementara yang belum pernah mondok bisa belajar dan memantapkan ilmu agama,” kata Ali Maskur.
Keberadaan pesantren mahasiswa, lanjutnya, juga diharapkan membantu mahasiswi menghadapi lingkungan pergaulan yang semakin luas selama menjalani pendidikan tinggi.
Berikut lima alasan Pondok Pesantren Ni’am Al Fahmi dapat menjadi pilihan tempat tinggal bagi mahasiswi PGSD UNNES, UIN Walisongo, dan perguruan tinggi di sekitarnya.
1. Berjarak Sekitar Lima Menit dari PGSD UNNES
Lokasi menjadi salah satu pertimbangan mahasiswa ketika memilih tempat tinggal selama kuliah.
Ponpes Ni’am Al Fahmi berjarak sekitar 1,9 kilometer dari Kampus PGSD UNNES di Ngaliyan. Jarak tersebut dapat ditempuh sekitar lima menit menggunakan kendaraan dalam kondisi lalu lintas normal.
Lokasi yang relatif dekat memudahkan santriwati mengikuti perkuliahan tanpa membutuhkan waktu perjalanan yang panjang. Mereka juga dapat lebih leluasa membagi waktu antara kegiatan akademik dan aktivitas pesantren.
2. Tetap Bisa Menjalankan Tradisi Pesantren
Ponpes Ni’am Al Fahmi dapat menjadi pilihan bagi lulusan pesantren yang ingin mempertahankan kebiasaan mengaji ketika memasuki dunia perkuliahan.
Kegiatan perkuliahan yang padat terkadang membuat kebiasaan membaca Al-Qur’an, mengaji, dan mengikuti pembelajaran agama mulai berkurang. Tinggal di pesantren memberikan lingkungan yang mendukung agar tradisi tersebut tetap berjalan.
Ali Maskur menilai pendidikan agama tidak semestinya berhenti setelah seseorang lulus dari madrasah aliyah atau pesantren.
“Ketika menjadi mahasiswa, tradisi pesantren tetap perlu dilanjutkan. Kuliah berjalan, tetapi mengaji dan belajar agama juga tidak ditinggalkan,” ujarnya.
3. Terbuka bagi Mahasiswi yang Belum Pernah Mondok
Ponpes Ni’am Al Fahmi tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswi berlatar belakang pesantren.
Mahasiswi yang sebelumnya belum pernah mondok juga dapat bergabung dan mengikuti proses pembelajaran secara bertahap. Mereka dapat mulai membangun kebiasaan mengaji, beribadah, serta mempelajari dasar-dasar keagamaan.
Menurut Ali Maskur, masa perkuliahan menjadi salah satu fase penting bagi mahasiswa untuk memperkuat pemahaman agama.
“Bagi yang belum pernah mondok, pesantren bisa menjadi tempat untuk memantapkan ilmu agama sekaligus membangun kebiasaan yang baik selama menjadi mahasiswa,” katanya.
4. Membantu Menjaga Diri dalam Pergaulan Kampus
Memasuki perguruan tinggi membuat mahasiswa bertemu dengan lingkungan, pergaulan, dan pengalaman yang lebih luas.
Kondisi tersebut membutuhkan bekal agama serta kemampuan memilih lingkungan yang mendukung perkembangan diri. Pesantren diharapkan dapat menjadi ruang pendampingan bagi mahasiswi di tengah aktivitas kampus.
Ali Maskur mengatakan, pengaruh dari luar menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan mahasiswa. Karena itu, mahasiswi membutuhkan lingkungan yang membantu mereka menjaga nilai dan kebiasaan positif.
Tinggal di pesantren bukan berarti membatasi aktivitas perkuliahan. Santriwati tetap dapat mengikuti kegiatan akademik dan organisasi, tetapi memiliki lingkungan tempat tinggal yang lebih terarah.
5. Terjangkau dari UIN Walisongo dan Kampus Sekitar
Selain dekat dengan Kampus PGSD UNNES, Ponpes Ni’am Al Fahmi juga dapat dijangkau mahasiswi UIN Walisongo Semarang serta perguruan tinggi lain di kawasan Ngaliyan.
Keberadaan sejumlah kampus di wilayah tersebut membuat pesantren mahasiswa menjadi alternatif tempat tinggal selain indekos.
Santriwati dapat menjalankan kegiatan perkuliahan sekaligus belajar hidup bersama dalam lingkungan pesantren. Mereka juga dapat bertemu dengan mahasiswa dari latar belakang kampus dan program studi yang beragam.
Dengan lokasi yang relatif dekat dari kampus, Ponpes Ni’am Al Fahmi dapat dipertimbangkan oleh calon mahasiswi yang sedang mencari tempat tinggal di kawasan Ngaliyan.
Pesantren tersebut menawarkan lingkungan bagi mahasiswi yang ingin tetap mengaji, mempertahankan tradisi pesantren, maupun mulai mempelajari agama secara lebih terarah selama menjalani perkuliahan.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.