Lestarikan Budaya, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Ikuti Malam Tirakatan

Arie Irfan
0
Warga dan mahasiswa KKN Posko 56 UIN Walisongo Semarang berbaur dalam rangkaian Malam Kenduri Budaya di Dusun Cerbonan, Banyubiru. Minggu 16 Agustus 2026. Foto: ist.

Banyubiru. EDUKASIA.ID - Masyarakat Dusun Cerbonan, Desa Banyubiru, Kec. Banyubiru, Kab. Semarang menggelar Malam Kenduri Budaya, sebuah tradisi tirakatan yang menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat. Kegiatan berlangsung meriah dengan arak-arakan tumpeng keliling dusun yang diikuti oleh warga dengan berbagai kostum layaknya karnaval, Minggu 16 Agustus 2026.

Rangkaian kegiatan diawali dengan arak-arakan tumpeng yang dibawa oleh warga mengelilingi dusun. Warga turut memeriahkan kegiatan dengan mengenakan berbagai macam kostum dan busana. Beragam penampilan tersebut membuat suasana sepanjang perjalanan semakin meriah dan menarik perhatian warga yang menyaksikan dari lingkungan sekitar.

Setelah mengelilingi dusun, rombongan kemudian tiba di lapangan voli yang menjadi tempat berlangsungnya acara utama. Seluruh warga berkumpul dan mengikuti rangkaian kegiatan bersama. Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia secara bersama-sama sebagai bentuk penghormatan sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan.

Setelah itu, tumpeng yang telah diarak kemudian dibagikan kepada warga untuk dinikmati bersama. Makan tumpeng menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi kenduri sebagai wujud rasa syukur sekaligus simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Warga duduk dan menikmati hidangan bersama dalam suasana yang penuh keakraban.

Akmal selaku Ketua Karang Taruna Dususn Cerbonan, menurutnya Malam Kenduri Budaya menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul dan menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

”Malam tirakatan kalau di sini disebut sebagai Kenduri Budaya karena bukan sekadar doa bersama, tetapi juga sebagai wadah untuk menjaga tradisi dan budaya yang sudah diwariskan turun-temurun,” ujar Akmal

Antusiasme masyarakat terlihat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Warga tidak hanya hadir untuk menyaksikan kegiatan, tetapi juga terlibat dalam berbagai kebutuhan acara serta mengambil bagian dalam arak-arakan dan pentas seni. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa Kenduri Budaya merupakan kegiatan yang tumbuh dari kebersamaan masyarakat.

Menurut Akmal, pelaksanaan Kenduri Budaya juga memiliki tujuan untuk memastikan tradisi dan budaya masyarakat tetap berlangsung sekaligus memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenalnya secara langsung.

“Tujuan utamanya tentu untuk menjaga keberlangsungan tradisi dan budaya yang ada di masyarakat, terus juga memberi ruang generasi muda agar ikut terlibat dan mengenal budaya daerahnya,” ungkapnya

Acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan dari warga. Penampilan tersebut menjadi bagian yang ditunggu-tunggu karena menunjukkan kreativitas dan partisipasi masyarakat dalam memeriahkan Malam Kenduri Budaya. Salah satu penampilan yang turut hadir adalah paduan suara yang melibatkan mahasiswa KKN Posko 56 UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan Karang Taruna.

Selain paduan suara, berbagai penampilan warga lainnya turut mengisi acara hingga suasana semakin semarak. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya warga yang hadir dan ikut menikmati setiap penampilan.

Harapan agar Kenduri Budaya terus dilaksanakan juga datang dari generasi muda yang mengikuti kegiatan tersebut. Keberlangsungan tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab generasi sebelumnya, tetapi juga membutuhkan keterlibatan anak muda agar budaya daerah tidak semakin tergerus oleh perkembangan zaman.

Menurut Naya, warga Cerbonan, “Harapannya semoga tradisi Kenduri Budaya ini tetap dilestarikan dan terus berlangsung ditahun-tahun berikutnya. Semoga generasi muda terus ikut berpartisipasi agar tradisi dan budaya daerah tetap terjaga serta tidak hilang oleh perkembangan zaman,” tuturnya

Sebagai penutup, mahasiswa KKN menampilkan flashmob yang disambut meriah oleh warga. Penampilan tersebut menjadi akhir dari rangkaian acara Malam Kenduri Budaya sekaligus menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan sebelum kegiatan berakhir.

Malam Kenduri Budaya tidak hanya menjadi tradisi tirakatan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan menjaga kebersamaan masyarakat. Arak-arakan tumpeng, bregodo, makan bersama, serta berbagai penampilan menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam mempertahankan tradisi sekaligus menciptakan ruang kebersamaan bagi seluruh warga.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top