Dr. Uswatun Marhamah, berfoto bersama suami saat sedang bepergian. Foto ist.
EDUKASIA.ID - Banyak orang tua berharap anaknya segera mendapatkan pekerjaan mapan setelah lulus kuliah. Namun, Dr. Uswatun Marhamah, M.Pd. memiliki cara pandang yang berbeda.
Ketua STAI Walisembilan Semarang (SETIA WS) itu justru bangga ketika salah satu anaknya pernah berjualan gorengan. Anak-anaknya juga sempat menjadi pengemudi ojek online. Satu anak lainnya pernah bekerja sebagai sopir mobil boks ekspedisi.
Pilihan-pilihan itu mungkin terdengar tidak biasa. Apalagi ayah mereka adalah seorang guru besar, Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., yang kini menjabat Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang.
Uswatun menilai, pekerjaan tidak pernah diukur dari gengsi. Ia lebih melihat pengalaman yang diperoleh anak-anaknya ketika harus berinteraksi dengan orang lain, menghadapi kesulitan, menyelesaikan pekerjaan, dan belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Menurutnya, pekerjaan juga tidak semata-mata dinilai dari besarnya penghasilan yang diterima. Ada nilai lain yang sering luput dari perhatian banyak orang.
"Kerja itu bukan hanya soal berapa materi atau penghasilan yang diterima. Ada nilai ibadah. Ada nilai silaturahim. Itu yang sering kita lupa," ujarnya.
Karena itu, ia selalu mengingatkan anak-anaknya agar tidak memandang pekerjaan hanya dari sisi ekonomi. Setiap pekerjaan, menurutnya, membuka kesempatan untuk belajar, melayani orang lain, memperluas relasi, sekaligus menjalankan amanah.
"Makanya sering terjadi orang saling menjatuhkan sesama rekan kerja karena lupa bahwa dalam bekerja itu ada unsur ibadah dan silaturahim. Selain tanggung jawab dan amanah yang memang sudah pasti harus dijalankan," tambahnya.
Dari cara pandang itulah lahir prinsip yang terus dipegangnya hingga sekarang.
"Saya punya prinsip, setelah lulus S1 anak harus mandiri," ujarnya.
Prinsip itu bukan sesuatu yang muncul dalam semalam. Cara pandang tersebut tumbuh dari perjalanan hidup yang panjang, sejak masa remaja di pesantren, membangun rumah tangga dari bawah, hingga mengasuh anak berkebutuhan khusus selama bertahun-tahun.
Uswatun menilai, pekerjaan tidak pernah diukur dari gengsi. Ia lebih melihat pengalaman yang diperoleh anak-anaknya ketika harus berinteraksi dengan orang lain, menghadapi kesulitan, menyelesaikan pekerjaan, dan belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Menurutnya, pekerjaan juga tidak semata-mata dinilai dari besarnya penghasilan yang diterima. Ada nilai lain yang sering luput dari perhatian banyak orang.
"Kerja itu bukan hanya soal berapa materi atau penghasilan yang diterima. Ada nilai ibadah. Ada nilai silaturahim. Itu yang sering kita lupa," ujarnya.
Karena itu, ia selalu mengingatkan anak-anaknya agar tidak memandang pekerjaan hanya dari sisi ekonomi. Setiap pekerjaan, menurutnya, membuka kesempatan untuk belajar, melayani orang lain, memperluas relasi, sekaligus menjalankan amanah.
"Makanya sering terjadi orang saling menjatuhkan sesama rekan kerja karena lupa bahwa dalam bekerja itu ada unsur ibadah dan silaturahim. Selain tanggung jawab dan amanah yang memang sudah pasti harus dijalankan," tambahnya.
Dari cara pandang itulah lahir prinsip yang terus dipegangnya hingga sekarang.
"Saya punya prinsip, setelah lulus S1 anak harus mandiri," ujarnya.
Prinsip itu bukan sesuatu yang muncul dalam semalam. Cara pandang tersebut tumbuh dari perjalanan hidup yang panjang, sejak masa remaja di pesantren, membangun rumah tangga dari bawah, hingga mengasuh anak berkebutuhan khusus selama bertahun-tahun.
Kiriman yang Belum Datang
Uswatun lahir dan besar di Blora. Ia merupakan anak tengah dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang kepala sekolah negeri yang dikenal disiplin dalam mendidik anak-anak, sedangkan ibunya seorang pedagang yang dikenal dermawan dan senang membantu orang lain.
Ketika memasuki jenjang Aliyah, ia memilih melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Lasem, Rembang. Hidup jauh dari keluarga pada usia remaja membuatnya belajar mandiri lebih awal dibanding banyak teman seusianya.
Ada satu pengalaman yang masih diingatnya sampai sekarang. Saat itu kiriman dari rumah belum datang, sementara kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi seperti biasa.
"Ibu belum kirim, belum ke pondok dan saya dua hari itu sempat makannya dikasih teman. Saya minum air keran bisa, minum air sumur saya bisa. Jadi itu membentuk karakter yang sangat kuat, saya enggak manja," ungkapnya, sambil terdiam sejenak.
Peristiwa itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Uswatun, masa-masa tersebut menjadi latihan hidup. Ia belajar bertahan tanpa banyak mengeluh dan terbiasa mencari jalan keluar ketika keadaan tidak sesuai harapan.
Dari kehidupan pesantren pula muncul prinsip yang masih dipegangnya hingga hari ini.
"Saya enggak mau minta, saya enggak mau. Di situlah mungkin ada karakter keras saya yang artinya jangan menjual kesedihan agar dikasihani orang," ujar Uswatun lantang.
Kalimat itu masih sering ia ulang. Bukan karena merasa paling kuat, melainkan karena ia percaya setiap orang perlu berusaha menyelesaikan persoalannya sendiri sebelum berharap bantuan orang lain.
Mengajar Privat Saat Hamil
Uswatun menikah saat masih menempuh kuliah semester lima. Bersama Fatah Syukur, ia membangun rumah tangga dari kondisi yang sederhana. Saat itu kehidupan mereka jauh dari gambaran keluarga akademisi yang dikenal publik sekarang.
Kebutuhan rumah tangga terus berjalan, sementara penghasilan keluarga masih terbatas. Karena itu, Uswatun ikut membantu dengan mengajar les privat Pendidikan Agama Islam dari rumah ke rumah.
Aktivitas tersebut tetap dijalaninya meski sedang hamil besar.
"Dari lima, enam rumah gitu dengan hamil gede, ngajar privat dari rumah ke rumah," tukasnya.
Setiap hari ia berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya untuk menemui murid. Setelah itu, ia kembali menjalankan aktivitas rumah tangga seperti biasa.
Saat mengenang masa tersebut, Uswatun tidak terdengar sedang menceritakan kesulitan. Justru ada rasa syukur yang kuat dalam ceritanya.
"Saya menikmati proses itu," imbuhnya.
Baginya, bekerja bukan sekadar mencari penghasilan. Ada pengalaman dan pelajaran yang menyertai setiap langkah. Karena itulah, ketika kelak memiliki anak, ia tidak pernah ingin mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa semua kebutuhan akan selalu disediakan orang tua.
Menurutnya, setiap orang perlu merasakan bagaimana berjuang, bekerja, dan menghargai hasil yang diperoleh dengan usaha sendiri.
Pelajaran Besar Bernama Ziya
Di antara berbagai fase kehidupan yang pernah dijalani, kelahiran anak ketiganya, Ziya, menjadi titik yang paling banyak mengubah dirinya.
Ziya lahir dengan kebutuhan khusus. Sebagai orang tua, Uswatun dan suami berusaha mencari berbagai informasi, berkonsultasi dengan tenaga medis, mencoba berbagai terapi, dan memberikan pendampingan terbaik untuk putranya.
Namun di balik berbagai ikhtiar itu, ada pergulatan batin yang juga harus dijalani.
"Sombongnya manusia itu gini, merasa sudah baik, merasa sudah patuh sama Allah," ujarnya lirih.
Kalimat itu muncul ketika ia mengenang masa-masa awal menerima kondisi sang anak. Masa ketika banyak pertanyaan muncul, tetapi tidak semuanya memiliki jawaban yang mudah ditemukan.
Pada periode tersebut, ia dan suami memiliki kebiasaan yang cukup unik. Mereka sering datang ke Masjid Agung Demak pada malam hari. Anak-anak ikut dibawa. Di mobil terdapat kasur lipat sederhana untuk tempat mereka beristirahat.
Sementara anak-anak tidur, keduanya menghabiskan waktu dengan salat, berzikir, dan berdoa.
"Semalam kita di sana. Ya salat, zikir, embuh sembarang. Pokoknya di masjid," tuturnya.
Ada satu doa yang terus ia ulang.
"Ya Allah, aku tahu semuanya ada hikmahnya. Tapi aku enggak tahu kenapa aku diberi anak yang berkebutuhan khusus. Hikmahnya apa? Tolong tunjukkan!" kenangnya, sambil berkaca-kaca.
Jawaban tidak datang dalam sehari. Tidak juga dalam seminggu. Namun perlahan, cara pandangnya berubah.
Sebuah nasihat dari seorang guru yang dihormatinya masih diingat hingga sekarang.
"Ya wis diopeni minangka takdim ibu karo Pangeran (ya sudah dirawat, sebagai takdzim pada Tuhan)," ungkapnya menirukan sang guru.
Kalimat itu tidak serta merta menghapus semua kegelisahan yang ada. Namun perlahan ia mulai berhenti mempertanyakan mengapa peristiwa itu terjadi dan memilih fokus menjalani perannya sebagai ibu.
"Sejak saat itu, saya tidak pernah meninggalkan anak ini meskipun itu cuma makan mi ayam di pinggir jalan. Saya selalu bawa anak ini ke mana pun saya pergi," kenangnya.
Selama 17 tahun, Ziya hadir dalam kehidupan keluarga mereka hingga berpulang pada 2017. Saat mengenang putranya, Uswatun masih menyimpan banyak cerita kecil yang melekat kuat dalam ingatannya.
Dari anak ketiganya itulah ia merasa belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah, terutama tentang kesabaran, penerimaan, dan memandang orang lain dengan lebih empatik.
Lahirnya "Kurikulum Cinta"
Pengalaman mendampingi Ziya ternyata terbawa ke ruang kelas.
Sebelum menjadi pimpinan perguruan tinggi, Uswatun pernah menjadi guru bimbingan konseling dan dosen. Dalam kesehariannya, ia bertemu mahasiswa dengan latar belakang yang sangat beragam. Ada yang kesulitan membayar kuliah, ada yang menghadapi persoalan keluarga, ada pula yang berjuang melawan rasa rendah diri.
Menurutnya, tidak semua persoalan bisa diselesaikan hanya dengan aturan dan target akademik.
Karena itu, ia memiliki satu konsep yang terus dipegang hingga hari ini.
"Saya punya konsep bahwa mengajar itu harus penuh cinta," bebernya.
Baginya, mahasiswa tidak hanya membutuhkan ilmu pengetahuan. Mereka juga membutuhkan perhatian dan rasa dihargai.
"Anak-anak ini tidak butuh kok 'kamu harus gini, harus begitu'. Tapi anak-anak ini butuh sentuhan, butuh cinta, butuh perhatian," beber ibu empat putra ini.
Dari situlah lahir gagasan yang sering ia sebut sebagai "kurikulum cinta", jauh sebelum istilah pendidikan yang berpihak kepada peserta didik ramai diperbincangkan. Bukan kurikulum yang tertulis dalam buku panduan, melainkan cara pandang bahwa pendidikan harus berangkat dari hubungan antarmanusia.
Menurutnya, mahasiswa yang merasa dihargai akan lebih mudah berkembang dibanding mereka yang hanya diperlakukan sebagai angka dalam sistem akademik.
Kemandirian Dimulai dari Rumah
Apa yang diajarkannya kepada mahasiswa lebih dulu dipraktikkan di rumah.
Uswatun tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah bagi anak-anaknya. Ia ingin mereka memahami bahwa kehidupan tidak bisa selalu bergantung pada orang tua.
Karena itu, sejak masih kuliah mereka didorong mencari pengalaman sendiri. Salah satu anaknya pernah berjualan gorengan. Setelah lulus, anak tersebut memilih menjadi pengemudi ojek online sebelum akhirnya bekerja di salah satu bank.
Putra lainnya sempat menjadi sopir mobil boks ekspedisi. Pekerjaan itu sempat membuat Uswatun khawatir sebagai seorang ibu. Namun ia tidak pernah melarang.
Menurutnya, pengalaman bekerja mengajarkan banyak hal yang tidak ditemukan di bangku kuliah. Anak belajar melayani pelanggan, menghadapi penolakan, menyelesaikan masalah, hingga menghargai hasil kerja sendiri.
Kini putra yang dulu menjadi sopir ekspedisi telah berkarier sebagai aparatur sipil negara (ASN).
Namun ketika bercerita tentang anak-anaknya, Uswatun lebih sering mengenang prosesnya dibanding hasil akhirnya.
"Yang penting mau berusaha dulu. Jangan takut mulai dari bawah!" tegasnya.
Membawa Pengalaman Hidup ke Kampus
Pada Juli 2026, Uswatun resmi dilantik sebagai Ketua STAI Walisembilan Semarang periode 2026-2030.
Dalam arah kepemimpinannya, ia menegaskan komitmen untuk memperkuat tata kelola perguruan tinggi yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Ia juga berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, memperkuat budaya akademik, serta meningkatkan kualitas dosen dan tenaga kependidikan.
Sosok yang selalu ceria itu juga berupaya memperluas jejaring kerja sama, serta menyiapkan transformasi SETIA WS menuju Institut Agama Islam Walisembilan Semarang.
Uswatun yang pernah merasakan susahnya berjuang, juga memberi perhatian pada akses pendidikan bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Berbagai program dukungan pendidikan dan beasiswa terus didorong agar semakin banyak anak muda memiliki kesempatan melanjutkan studi.
"Kampus tak cukup hanya meluluskan mahasiswa, jangan! Kampus juga harus menjadi ruang yang memberi kesempatan bagi mereka untuk bertumbuh," pungkasnya.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.