Menyaksikan Langsung Proses Lukisan Pasir di Sela Muktamar NU

Moh. Miftahul Arief
0
Pengunjung mengamati koleksi lukisan pasir karya seniman M. Akhiyak. Foto muktamar.nu.id.

Jombang. EDUKASIA.ID - Di sela pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, masyarakat dapat mengunjungi open studio lukisan pasir milik seniman Jombang, M. Akhiyak, takjauh dari lokasi Muktamar.

Muktamirin maupun penggembira Muktamar bisa menyaksikan secara langsung proses mengolah pasir menjadi karya seni, di Perumahan Griya Mojokrapak Indah Blok D Nomor 6, Dusun Plumbon, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang.

Melalui konsep open studio, pengunjung tidak hanya melihat lukisan pasir yang telah selesai dikerjakan. Mereka juga diajak mengenal proses kreatif yang berlangsung di balik sebuah karya, mulai dari menemukan gagasan, memilih material, menyusun komposisi, hingga menyelesaikan detail-detail kecil yang membentuk sebuah lukisan.

Akhiyak merupakan seniman yang mengembangkan lukisan dengan media pasir. Karyanya juga telah tercatat dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dengan nomor pencatatan 00757133 yang memberikan perlindungan selama 50 tahun.

Di ruang kerjanya, pengunjung dapat melihat bagaimana pasir yang selama ini lebih dikenal sebagai material alam dan bahan bangunan diolah menjadi media seni yang memiliki bentuk, warna, tekstur, dan cerita.

Berbagai jenis pasir dipilih sesuai karakter masing-masing untuk membangun detail dan kesan visual pada karya.

Menurut Akhiyak, penggunaan pasir sebagai media lukis memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan cat yang dapat dicampur untuk menghasilkan warna tertentu, pasir memiliki karakter alami yang tidak selalu seragam.

Setiap jenis pasir memiliki warna, ukuran butiran, tingkat kehalusan, tekstur, hingga karakter permukaan yang berbeda. Perbedaan itu justru menjadi bagian penting dalam menciptakan identitas sebuah karya.

“Lukisan pasir memiliki karakter yang berbeda dengan lukisan pada umumnya. Pasir bukan hanya menjadi media, tetapi juga memberikan tekstur, warna, dan kesan alami pada setiap karya,” ujarnya, Senin 24 Agustus 2026.

Dalam proses pembuatannya, ketelitian menjadi salah satu kunci utama. Butiran pasir harus dipilih dan ditempatkan secara cermat agar dapat membentuk bidang, garis, bayangan, maupun detail objek yang diinginkan.

Susunan butiran pasir juga menentukan kesan visual yang muncul. Pasir dengan tekstur berbeda dapat memberikan efek permukaan yang kasar, halus, padat, maupun berlapis. Sementara perbedaan warna alami pasir dimanfaatkan untuk membangun kontras dan kedalaman pada gambar.

Karena itu, proses membuat lukisan pasir tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Kesalahan dalam menempatkan material dapat memengaruhi bentuk dan komposisi keseluruhan karya.

“Setiap bagian harus diperhitungkan. Kita tidak hanya membuat gambar, tetapi juga harus memahami karakter material yang digunakan,” jelasnya.

Ketertarikan Akhiyak terhadap pasir sebagai media seni berawal dari keinginannya mengeksplorasi material sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Material yang selama ini dianggap biasa, menurutnya, memiliki potensi artistik yang besar ketika dipadukan dengan kreativitas dan ketekunan.

“Bagi saya, pasir adalah media yang sangat kaya. Dari material yang sederhana, kita bisa menciptakan karya yang memiliki nilai seni, pesan, dan identitas budaya,” katanya.

Selain menjadi ruang apresiasi seni, open studio tersebut juga menghadirkan nilai edukasi. Pengunjung dapat memahami bahwa sebuah karya seni lahir melalui proses panjang yang membutuhkan ide, perencanaan, eksperimen, hingga ketelitian dalam pengerjaannya.

Nilai pendidikan itu sejalan dengan profesi Akhiyak sebagai guru Seni Budaya di MAN 3 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Pengalamannya sebagai pendidik turut memengaruhi cara pandangnya dalam mengembangkan seni.

Menurutnya, pendidikan seni tidak cukup hanya diberikan melalui teori. Siswa perlu mendapatkan pengalaman langsung dalam mengamati, mengeksplorasi material, mencoba teknik, membuat kesalahan, dan menemukan bentuk karya mereka sendiri.

“Sebagai guru Seni Budaya, saya ingin siswa tidak hanya mengenal seni dari buku, tetapi juga mengalami langsung proses berkarya. Mereka perlu memahami bahwa lingkungan sekitar dapat menjadi sumber inspirasi,” katanya.

Lukisan pasir menjadi salah satu media yang digunakannya untuk mengenalkan konsep komposisi, warna, tekstur, ketelitian, sekaligus kreativitas kepada siswa. Pendekatan tersebut juga membangun kesadaran bahwa seni tidak selalu membutuhkan material yang mahal. Bahan-bahan yang ditemukan di sekitar dapat menjadi sumber ide selama mampu diolah secara kreatif.

Akhiyak berharap lukisan pasir dapat terus berkembang dan menjadi salah satu bagian dari identitas seni Jombang. Menurutnya, daerah yang dikenal kuat dengan tradisi pesantren tersebut juga memiliki kekayaan seni dan budaya yang layak diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Momentum Muktamar ke-35 NU menjadi kesempatan bagi para pelaku seni untuk mempertemukan karya lokal dengan masyarakat dari berbagai daerah yang datang ke Jombang.

“Jombang memiliki banyak potensi seni dan budaya. Muktamar ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahwa Jombang tidak hanya dikenal sebagai kota pesantren, tetapi juga memiliki seniman dan karya kreatif yang layak diapresiasi,” ungkapnya.

Melalui open studio ini, pengunjung tidak hanya dapat melihat koleksi lukisan pasir, tetapi juga menyaksikan demonstrasi pembuatannya secara langsung.

Pengalaman tersebut menghadirkan perspektif baru bahwa material sederhana seperti pasir pun dapat memiliki nilai estetika tinggi ketika diolah melalui proses kreatif yang terencana.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top