Nila Umi Salamah, mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris UNY, berdiskusi dengan siswa dalam pembelajaran berbasis budaya lokal di Yogyakarta. Foto ist.
Yogyakarta. EDUKASIA.ID - Arus budaya global yang semakin masif melalui media sosial dan teknologi digital membuat generasi muda semakin akrab dengan berbagai tren, bahasa, dan budaya dari berbagai negara.
Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mendorong siswa untuk tetap mengenal dan menghargai budaya lokal melalui pembelajaran Bahasa Inggris.
Upaya itu dilakukan melalui Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) yang mengangkat implementasi pedagogi multikultural dalam pembelajaran Bahasa Inggris berorientasi pembelajaran mendalam (deep learning) untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap budaya lokal di era digital.
Penelitian tersebut melibatkan sejumlah sekolah di Yogyakarta, yakni SMP Negeri 2 Kalasan, SMP Negeri 1 Imogiri, dan SMP Negeri 6 Yogyakarta.
Melalui riset ini, Bahasa Inggris tidak hanya dipandang sebagai sarana komunikasi global. Bahasa Inggris juga dimanfaatkan sebagai media untuk mengenalkan budaya lokal yang dekat dengan kehidupan siswa.
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Inggris UNY, Nila Umi Salamah, mengatakan pembelajaran Bahasa Inggris dan pelestarian budaya lokal tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang bertentangan.
“Belajar Bahasa Inggris bukan berarti siswa harus meninggalkan budaya mereka sendiri. Justru Bahasa Inggris dapat menjadi salah satu cara bagi siswa untuk mengenalkan budaya lokal kepada orang lain,” ujarnya, Senin 24 Agustus 2026.
Menurut Nila, perkembangan media sosial dan teknologi digital membuka peluang bagi siswa untuk memperkenalkan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas.
Kemampuan berbahasa Inggris dapat menjadi bekal agar siswa tidak hanya menjadi konsumen budaya global. Sebaliknya, mereka juga mampu menceritakan dan merepresentasikan budaya daerahnya sendiri.
Melalui pendekatan multikultural, budaya lokal dihadirkan dalam berbagai konteks pembelajaran yang dekat dengan keseharian siswa.
Materi pembelajaran dapat diambil dari makanan tradisional, kesenian daerah, tradisi masyarakat, lingkungan sekitar, hingga sejarah lokal.
Dengan cara itu, siswa belajar menggunakan Bahasa Inggris untuk mendeskripsikan, memahami, dan mengomunikasikan hal-hal yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep deep learning yang menekankan pembelajaran bermakna dan kontekstual.
Materi pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan kosakata maupun tata bahasa, tetapi juga mendorong siswa memahami lingkungan sosial dan budaya yang menjadi bagian dari identitas mereka.
Bagi Nila, keterlibatan dalam riset kolaboratif tersebut memberikan pengalaman berharga tentang luasnya peran pembelajaran bahasa dalam dunia pendidikan.
“Pengalaman ini membuat saya semakin melihat bahwa pembelajaran Bahasa Inggris bisa menjadi ruang untuk mempertemukan kemampuan berkomunikasi secara global dengan identitas lokal siswa,” katanya.
Ia menilai tantangan pendidikan Bahasa Inggris di era digital saat ini bukan semata-mata mencetak siswa yang mampu berkomunikasi dengan masyarakat global.
Lebih dari itu, siswa perlu memiliki ruang untuk membawa identitas dan budaya lokal ketika berinteraksi dengan dunia internasional.
Melalui riset tersebut, mahasiswa juga menunjukkan peran aktif dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan yang berkembang di masyarakat.
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu alternatif pembelajaran yang membantu siswa mengenal dunia tanpa kehilangan akar budaya yang dimilikinya.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.