Prof Muhyar: Islam Indonesia Bisa Jadi Kekuatan Perdamaian Dunia

Moh. Miftahul Arief
0
Prof Muhyar Fanani dalam International Seminar on Indonesian Islam and Global Affairs bertema “Indonesian Islam as a Soft Power to Achieve Global Peace,” di gedung rektorat UIN Walisongo, Senin 10 Agustus 2026. Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID – Islam Indonesia dinilai punya modal untuk ikut membawa pesan perdamaian ke tingkat global. Pengalaman hidup dalam keberagaman, tradisi keagamaan yang moderat, serta kekayaan budaya menjadi kekuatan yang bisa dikembangkan untuk memperluas pengaruh Indonesia di dunia.

Pandangan itu disampaikan Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., dalam International Seminar on Indonesian Islam and Global Affairs bertema “Indonesian Islam as a Soft Power to Achieve Global Peace,” di gedung rektorat UIN Walisongo, Senin 10 Agustus 2026.

Menurut Muhyar, Islam Indonesia tidak tumbuh dalam ruang yang terpisah dari kehidupan masyarakat. Perkembangannya berlangsung melalui perjumpaan antara ajaran Islam, budaya lokal, dan nilai kebangsaan.

“Islam Indonesia bukan sekadar fenomena keagamaan, tetapi juga hasil perjalanan sejarah dan kebudayaan yang membentuk masyarakat yang menghargai harmoni, keberagaman, dan kehidupan damai,” ujar Muhyar.

Professor asal Ngawi itu melihat pengalaman tersebut menjadi salah satu modal yang bisa dibawa Indonesia ketika berbicara tentang perdamaian dunia.

Nilai moderasi, toleransi, keseimbangan, serta penerimaan terhadap Pancasila, menurut Muhyar, telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Tradisi dakwah Walisongo juga menjadi contoh bagaimana Islam berkembang dengan pendekatan yang mampu berinteraksi dengan budaya masyarakat. Di sisi lain, Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menegaskan kehidupan bersama di tengah perbedaan.

Potensi Besar, Belum Dikelola Maksimal


Muhyar menilai posisi Indonesia cukup strategis. Dengan jumlah penduduk Muslim yang besar, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman kehidupan Islam yang damai kepada masyarakat internasional.

Persoalannya, potensi tersebut belum sepenuhnya dikelola menjadi kekuatan yang terarah.

Menurut Muhyar, Indonesia masih membutuhkan strategi nasional yang sistematis dan berkelanjutan. Kekayaan budaya dan pengalaman masyarakat tidak cukup jika hanya dikenal di dalam negeri.

“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, tetapi membutuhkan strategi kelembagaan yang kuat agar nilai-nilai Indonesia dapat dikenal dan diterima masyarakat global,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pengaruh sebuah negara tidak hanya dibangun melalui ekonomi atau kekuatan militer. Budaya, nilai, tradisi, hingga diplomasi juga dapat membuat sebuah negara memiliki daya tarik dan pengaruh di mata dunia.

Korea Selatan, misalnya, berhasil memperluas pengaruhnya melalui film, musik, dan industri kreatif. Jepang juga dikenal mampu memperkenalkan budaya dan identitasnya ke berbagai negara.

Indonesia memiliki kekayaan yang tidak kalah besar. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut dikemas dan dikelola sehingga bisa menjangkau masyarakat global.

Tiga Langkah yang Ditawarkan


Untuk memperkuat peran Islam Indonesia dalam perdamaian dunia, Muhyar menawarkan tiga langkah.

Pertama, memperkuat nilai-nilai Islam dan Pancasila dalam kehidupan masyarakat.

Kedua, membawa nilai-nilai Pancasila ke tingkat internasional sebagai salah satu gagasan dalam membangun perdamaian dunia.

Ketiga, memperkuat industri kreatif Indonesia agar nilai dan budaya nasional bisa lebih mudah dikenal masyarakat internasional.

Dalam hal ini, Muhyar mengusulkan pembentukan Indonesian Creative Content Agency (ICCA).

Lembaga tersebut nantinya dapat mengembangkan berbagai produk kreatif, seperti film, musik, seni pertunjukan, kuliner, fesyen, dan budaya populer.

Menurutnya, produk budaya tidak hanya dapat menjadi hiburan atau komoditas ekonomi. Di dalamnya juga bisa disampaikan nilai toleransi, kemanusiaan, dan perdamaian.

Indonesia sendiri, lanjut Muhyar, bukan tanpa pengalaman dalam diplomasi perdamaian.

Konferensi Asia Afrika 1955, pidato Presiden Soekarno di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1960, serta keterlibatan pasukan perdamaian Garuda di berbagai negara menjadi bagian dari perjalanan Indonesia dalam memainkan peran di tingkat internasional.

Pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat kembali peran Indonesia dalam isu perdamaian global.

Muhyar kemudian menekankan bahwa pengalaman Indonesia dalam hidup bersama di tengah perbedaan merupakan sesuatu yang relevan untuk dibagikan kepada dunia.

“Dengan masyarakat yang terdiri atas 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa daerah, Indonesia memiliki pengalaman berharga dalam membangun kehidupan bersama yang damai. Islam Indonesia dapat menjadi kontribusi nyata bagi perdamaian global melalui nilai moderasi, toleransi, dan kemanusiaan,” pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top