Beasiswa Santri Jateng Antar Khafidz Kuliah di China

Arifah
0


Akhmad Khafidz Al Mubarok, santri asal Kudus, Jawa Tengah. Foto Pemprov Jateng.

SEMARANG, EDUKASIA.ID – Akhmad Khafidz Al Mubarok, santri asal Kudus, Jawa Tengah, berhasil melanjutkan pendidikan tinggi di China.

Mahasiswa tahun pertama jurusan Computer Science and Technology di Dalian University of Technology itu berangkat dari keinginan sederhana belajar bahasa Mandarin saat duduk di kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Khafidz merupakan santri Pondok Tahfidz Yanbu'ul Quran Menawan, Kabupaten Kudus. Kesempatannya kuliah di luar negeri tak lepas dari ketekunan belajar, dukungan keluarga dan lingkungan pesantren, serta beasiswa santri dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP).

Beasiswa tersebut turut meringankan biaya pendidikan yang harus ditanggung keluarganya. Khafidz pun menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Jateng atas kesempatan yang diberikan.

“Terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang telah menyelenggarakan program beasiswa santri,” ucapnya, saat dihubungi dari Kota Semarang, Rabu, 22 Oktober 2026.

Perjalanan Khafidz menuju China bermula dari percakapan telepon dengan ayahnya. Saat itu, sang ayah menyarankan agar dia belajar bahasa Mandarin karena kemampuan tersebut dinilai bisa membuka peluang lebih luas untuk masa depan dan pengembangan karier.

Khafidz kemudian belajar secara mandiri, mulai dari menulis, membaca, memahami nada pengucapan, hingga menghafal kosakata. Tantangannya tidak ringan. Di pesantren, bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa yang diwajibkan, sementara akses penggunaan gawai juga terbatas.

Tanpa guru pendamping, dia mengandalkan materi belajar yang tersedia. Beruntung, Khafidz memiliki teman dengan minat serupa. Keduanya belajar bersama dan saling membantu memahami bahasa Mandarin.

Kesempatan belajar lebih terarah datang ketika Khafidz duduk di kelas XII. LP Ma'arif NU Jawa Tengah menawarinya mengikuti program persiapan kuliah ke China bersama sejumlah pelajar lain dari Jawa Tengah.

Dalam program itu, mereka mendapat bimbingan bahasa Mandarin dari pengajar kompeten, termasuk penutur asli. Kemampuan menyimak dan memahami bahasa Mandarin pun meningkat. Khafidz dan beberapa peserta lainnya berhasil lulus ujian sertifikasi bahasa Mandarin sebagai salah satu bekal kuliah di China.

Di tengah persiapan tersebut, Khafidz mendapat informasi tentang beasiswa santri Jawa Tengah yang dikelola LFSP. Dia kemudian mempelajari persyaratan dan mengikuti proses seleksi hingga dinyatakan lolos.

Kabar kelulusan itu disampaikan oleh ibunya. Khafidz mengaku bersyukur karena beasiswa tersebut membantu mengurangi beban biaya pendidikan.

“Beasiswa Santri Jawa Tengah memudahkan saya dan teman-teman penerima lainnya dalam mengurangi beban finansial, yang harus ditanggung oleh diri sendiri dan orang tua,” tuturnya.

Dukungan keluarga, para ustaz, dan teman-teman pesantren juga menjadi penyemangatnya saat menghadapi kesulitan.

Kini, Khafidz harus beradaptasi dengan kehidupan sebagai mahasiswa internasional. Jika di pesantren dia terbiasa beraktivitas bersama teman-teman dan menjalankan ibadah berjamaah, di China dia dituntut lebih mandiri dalam mengatur keseharian.

Kuliah di luar negeri juga memberinya kesempatan mengenal mahasiswa dari berbagai negara, memahami perbedaan pola pikir dan budaya, serta mengembangkan kemampuan di luar perkuliahan. Salah satunya melalui klub yang berkaitan dengan robotika.

Bagi Khafidz, pengalaman tersebut bukan sekadar jalan untuk memperoleh gelar akademik. Dia juga belajar membangun kemandirian, memperluas jaringan, dan menghargai perbedaan.

Dia berharap ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di China kelak dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kisah serupa datang dari Happy Aisyi Madina, penerima beasiswa santri Jawa Tengah yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Aisyi menyebut beasiswa tersebut sebagai amanah besar sekaligus kesempatan berharga untuk melanjutkan pendidikan dan meringankan beban finansial keluarganya.

“Terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seluruh pengurus Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren Jawa Tengah, atas kesempatan yang sangat berharga dan amanah besar yang telah diberikan kepada saya,” ungkap Aisyi.

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, Aisyi bertekad kembali ke Jawa Tengah untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Dia ingin memanfaatkan kesempatan pendidikan tersebut untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus mempersiapkan pengabdian di masa mendatang.

Pada momentum Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026, Aisyi juga mengajak para santri di seluruh Indonesia agar tidak takut bermimpi besar dan berani mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

Dia meyakini, selama cita-cita yang diperjuangkan berada di jalan yang diridai Allah SWT, setiap usaha harus dijalani dengan keyakinan dan kesungguhan.

Terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi yang berkontribusi di berbagai bidang. Jawa Tengah saat ini memiliki sedikitnya 5.400 pondok pesantren dengan sekitar 555 ribu santri.

Menurutnya, potensi tersebut merupakan modal sosial yang perlu diperkuat. Pesantren diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mampu mendorong santri menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan lain.

Pemprov Jateng telah menginisiasi program Pesantren Obah sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap pesantren. Melalui program tersebut, pemerintah daerah juga menyediakan beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren.

Pada 2026, Pemprov Jateng menyiapkan anggaran Rp 6,8 miliar untuk beasiswa pendidikan di dalam dan luar negeri. Program ini menarik 942 pendaftar, dengan 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, Yaman, dan China.

Selain itu, beberapa hari sebelumnya, sebanyak 424 santri yang menempuh pendidikan di Ma'had Aly juga menerima beasiswa. Bantuan pendidikan turut diberikan kepada santri penggerak, yakni santri yang aktif dalam organisasi intra maupun ekstra kampus dan masih tinggal di pesantren.

Ahmad Luthfi berharap santri mampu mengembangkan kompetensi di luar bidang agama dan memiliki kepedulian sosial. Dengan begitu, mereka dapat ikut menjawab berbagai tantangan zaman.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top