Kemenag Siapkan Beasiswa S2-S3 RI-Uzbekistan

Arifah
0


Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i bersama Duta Besar RI untuk Uzbekistan Siti Ruhaini Dzuhayatin di Jakarta. Foto Kemenag.

Jakarta, EDUKASIA.ID - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan beasiswa S2 dan S3 bagi mahasiswa Indonesia dan Uzbekistan. Penerima beasiswa akan diarahkan meneliti hubungan sanad keilmuan Islam kedua negara, termasuk jejak ulama dan sejarah diplomasi.

Rencana itu dibahas Wakil Menteri Agama Romo Syafi’i bersama Duta Besar RI untuk Uzbekistan Siti Ruhaini Dzuhayatin di Jakarta. Kemenag juga menyiapkan pendanaan riset kolaboratif yang melibatkan perguruan tinggi dari kedua negara.

“Kita dapat memberikan beasiswa dengan prasyarat bahwa penerima beasiswa meneliti hubungan sanad keislaman yang ada di Indonesia dengan yang ada di Uzbekistan. Dengan demikian, mahasiswa S2 dan S3 tersebut langsung melakukan riset yang menjelaskan pertalian ajaran Islam maupun sejarah diplomasi kedua negara secara rinci,” ujar Romo Syafi’i, Senin, 19 Oktober 2026.

Romo Syafi’i meminta Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam segera menyusun proposal serta tahapan kerja penelitian. Ia juga mendorong pertukaran mahasiswa dan kunjungan ulama untuk memperkuat kerja sama keilmuan.

“Susun skema tahapan-tahapannya secara akademis dan sampaikan kepada saya agar dapat segera kita putuskan dalam rapat pimpinan serta disiapkan anggarannya. Penulisan sejarah ini penting untuk menghadirkan rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah bagi generasi mendatang,” kata Romo Syafi’i.

Menurutnya, penelusuran sejarah Islam di Asia Tengah juga penting untuk menunjukkan keterkaitan ilmu agama dengan perkembangan sains, termasuk kedokteran, matematika, biologi, dan fisika.

Uzbekistan Tertarik Ekonomi Syariah Indonesia

Duta Besar RI untuk Uzbekistan Siti Ruhaini Dzuhayatin mengatakan, pihaknya membawa amanat Ketua MPR RI terkait fasilitasi beasiswa bagi mahasiswa Uzbekistan yang ingin mempelajari ekonomi syariah dan tradisi keilmuan Islam di Indonesia.

“Tujuan kami adalah menyampaikan arahan dari Ketua MPR RI kepada Bapak Wamenag terkait fasilitasi beasiswa studi ekonomi syariah di Indonesia bagi mahasiswa dari Akademi Islam Internasional Uzbekistan. Mereka sangat tertarik mempelajari perkembangan ekonomi syariah dan tradisi keilmuan Islam di Indonesia,” ungkap Dubes Indonesia untuk Uzbekistan Siti.

Kedutaan Besar RI di Tashkent juga menjembatani rencana penandatanganan nota kesepahaman atau MoU dan kuliah umum Wamenag di International Islamic Academy of Uzbekistan pada Mei mendatang.

Kerja sama ini turut menyasar penelusuran sejarah peradaban Islam di kawasan Mawarannahr, Asia Tengah. Wilayah tersebut dikenal sebagai tempat lahir sejumlah ulama dan ilmuwan Muslim, seperti Imam Bukhari, Imam Tirmidzi, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, dan Mirza Ulugh Beg.

Dana Riset Tembus Rp 2 Miliar per Proposal

Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Kapuspenma) Ruchman Basori mengatakan, Kemenag memiliki sejumlah skema pendanaan untuk mendukung kerja sama pendidikan Indonesia-Uzbekistan.

Mahasiswa Uzbekistan dapat menempuh pendidikan di Indonesia melalui Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang bekerja sama dengan LPDP. Mereka juga dapat mendaftar ke perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, termasuk UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebaliknya, Kemenag siap memfasilitasi alumni UIN, IAIN, dan STAIN untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di Uzbekistan guna memperkuat hubungan keilmuan kedua negara.

Untuk dosen dan peneliti, Kemenag menyediakan program MoRA The Air Funds berbasis dana abadi LPDP. Pendanaan yang tersedia berkisar Rp 200 juta hingga Rp 2 miliar per proposal, dengan salah satu persyaratan berupa kolaborasi bersama perguruan tinggi luar negeri.

“Program MoRA The Air Funds ini didesain untuk membiayai riset yang berdampak pada pembangunan dan perubahan masyarakat, dengan salah satu syaratnya adalah kolaborasi bersama perguruan tinggi di luar negeri. Skema ini dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan implementasi MoU perguruan tinggi kita dengan mitra di Uzbekistan,” jelas Ruchman.

Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam M. Arskal Salim menambahkan, riset bersama akademisi Uzbekistan dapat memperdalam penelitian tentang jejak ulama Asia Tengah di Nusantara.

Sejumlah tokoh yang menjadi perhatian penelitian antara lain Syekh Jamaluddin Al-Akbar atau Syekh Jumadil Kubro di Mojokerto dan Syekh Maulana Ibrahim as-Samarqandi di Tuban.

“Selama ini penelitian serupa masih berjalan satu pihak dari peneliti kita yang menelusuri kesamaan ajaran dan kitab di Jawa Timur. Jika dilakukan melalui riset payung bersama akademisi Uzbekistan dengan memanfaatkan dukungan pendanaan yang ada, jejak intelektualisme Islam ini dapat ditunjukkan secara jauh lebih komprehensif,” pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top