Sidoarjo, EDUKASIA.ID - Beredar klaim di media sosial yang menyebut satu kali bertanya kepada ChatGPT setara dengan menghabiskan sebotol air mineral berukuran 500 mililiter.
Benarkah setiap pertanyaan yang dikirim ke kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membutuhkan air bersih sebanyak itu?
Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) sekaligus anggota Pusat Studi Lingkungan dan Smart City (PSLSC), Dr Uce Indahyanti MKom, menjelaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa disederhanakan menjadi satu pertanyaan sama dengan satu botol air.
“AI memang mempunyai jejak lingkungan. Tetapi untuk persoalan air, kita perlu hati-hati membaca angkanya. Jangan sampai sebuah hasil penelitian yang sebenarnya sangat kontekstual kemudian berubah menjadi kesimpulan yang berlaku untuk semua AI,” ujarnya.
Menurut Uce, penggunaan air dalam operasional AI berkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari pendinginan pusat data hingga proses penyediaan energi dan pembuatan perangkat keras.
Dalam penelitian Pengfei Li, Jianyi Yang, Mohammad A Islam, dan Shaolei Ren, penggunaan ChatGPT-3 diperkirakan membutuhkan sekitar 500 mililiter air untuk menghasilkan 10 hingga 50 respons berukuran sedang. Jumlahnya bergantung pada lokasi dan waktu model dijalankan.
Namun, angka tersebut merupakan estimasi dalam kondisi tertentu, bukan ukuran pasti untuk setiap pertanyaan yang diajukan kepada AI.
“Ini yang sering hilang ketika sebuah angka menjadi viral. Itu pun estimasi pada model dan kondisi tertentu. Jadi saya kira kurang tepat kalau angka itu ditempelkan begitu saja pada setiap pertanyaan yang kita kirim ke AI sekarang,” jelasnya.
Uce menegaskan, tidak ada satu angka yang bisa digunakan untuk menggambarkan konsumsi air setiap prompt pada seluruh model AI. Kebutuhan air dapat berbeda berdasarkan teknologi yang digunakan dan kondisi operasional pusat data.
Saat beroperasi, perangkat tersebut menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendinginan agar dapat bekerja dengan baik.
Meski begitu, jejak air AI tidak hanya berasal dari pendinginan server. Artikel tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Water Research pada 2026 menjelaskan tiga komponen yang berkaitan dengan jejak air AI.
Ketiganya meliputi penggunaan air secara langsung di pusat data, penggunaan air secara tidak langsung dalam pembangkitan listrik, serta air yang berkaitan dengan proses manufaktur semikonduktor.
“Karena itu, angka mengenai konsumsi air AI tidak seharusnya langsung diterima begitu saja tanpa melihat bagaimana angka tersebut dihitung” jelasnya.
Dengan demikian, pembahasan mengenai jejak air AI perlu mempertimbangkan keseluruhan proses yang menopang operasional teknologi tersebut.
Meski klaim satu pertanyaan setara sebotol air perlu dipahami secara hati-hati, kebutuhan air untuk menjalankan AI dalam skala besar tetap menjadi perhatian.
Dalam penelitian Li dan koleganya, pelatihan GPT-3 di pusat data Microsoft di Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan sekitar 700 ribu liter konsumsi air langsung di lokasi.
Penelitian yang sama juga memproyeksikan pengambilan air yang berkaitan dengan kebutuhan AI secara global dapat mencapai 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik pada 2027.
Namun, Uce mengingatkan bahwa pengambilan air atau water withdrawal berbeda dengan konsumsi air atau water consumption.
“Sebagian air yang diambil dapat dikembalikan ke sumbernya. Jadi istilahnya juga perlu kita pahami dengan tepat,” tuturnya.
Angka 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik tersebut merupakan proyeksi, bukan jumlah air yang telah terbukti digunakan AI saat ini.
“Kalau penelitian menyebut proyeksi, ya kita sampaikan sebagai proyeksi. Jangan diubah menjadi seolah-olah itu angka penggunaan air yang sudah terjadi,” tuturnya.
Menurut Uce, pembedaan antara data aktual, estimasi, dan proyeksi penting agar informasi mengenai dampak lingkungan teknologi tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Microsoft, misalnya, memperkenalkan desain pusat data baru pada Agustus 2024 yang ditujukan untuk beban kerja AI dengan sistem pendinginan tertutup atau closed-loop.
Melalui sistem tersebut, air bersirkulasi di dalam sistem pendinginan sehingga tidak terus-menerus diuapkan untuk mendinginkan perangkat.
Microsoft menyebut desain itu ditujukan untuk menghindari penggunaan lebih dari 125 juta liter air per tahun pada setiap pusat data untuk proses pendinginan.
“Namun, istilah zero water for cooling bukan berarti fasilitas tersebut sama sekali tidak membutuhkan air. Air tetap digunakan untuk kebutuhan lain seperti toilet dan dapur,” terang DR Uce.
Selain Microsoft, Google juga menjalankan program pengelolaan sumber daya air atau water stewardship.
Dalam laporan lingkungan 2026, Google menyebut proyek-proyeknya telah melakukan replenishment sekitar 7,7 miliar galon air sepanjang 2025. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 78 persen konsumsi air tawar perusahaan pada tahun itu.
Uce mengingatkan bahwa replenishment tidak berarti air yang sudah digunakan langsung dikembalikan ke pusat data.
“Bukan berarti air yang sudah digunakan kemudian begitu saja dikembalikan ke data center,” ujarnya.
Program replenishment berkaitan dengan berbagai upaya untuk memulihkan atau meningkatkan ketersediaan air bagi daerah aliran air dan masyarakat.
Menurut Uce, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa upaya mengurangi jejak air AI juga mencakup peningkatan efisiensi teknologi dan pengelolaan sumber daya.
“Jadi saya kira kurang tepat kalau kita melihat persoalan ini hanya dari satu sisi, seolah-olah semakin banyak AI pasti semakin buruk,” katanya.
Ia menilai dampak lingkungan tetap perlu diwaspadai, tetapi perkembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pusat data juga perlu diperhatikan.
Uce menilai persoalan jejak air AI tidak seharusnya membuat masyarakat menghentikan penggunaan teknologi tersebut secara wajar.
“Kesimpulannya, bukan penggunaan AI secara wajar oleh individu harus dihentikan karena persoalan air,” terang dosen yang bergabung dalam Pusat Studi Lingkungan dan Smart City (PSLSC) Umsida itu.
Menurutnya, perhatian lebih besar perlu diberikan pada pengelolaan infrastruktur AI dalam skala besar. Hal ini mencakup teknologi pendinginan, sumber energi dan air, efisiensi komputasi, hingga pemilihan lokasi pusat data.
Meski begitu, pengguna tetap dapat berkontribusi dengan memanfaatkan teknologi secara bijak.
“Menurut saya prinsipnya sederhana. Gunakan AI seperlunya dan sebesar manfaatnya. Satu prompt yang jelas dan tepat sasaran mungkin lebih baik daripada berkali-kali bertanya karena sejak awal kita sendiri belum jelas apa yang ingin kita tanyakan,” jelas Dr Uce.
Ia menambahkan, pemahaman mengenai dampak lingkungan teknologi seharusnya mendorong masyarakat menjadi pengguna yang lebih kritis, bukan justru takut memanfaatkan AI.
“AI tetap teknologi yang sangat bermanfaat. Tidak perlu setiap kali memakai AI kita merasa bersalah karena membayangkan ada air yang habis,” pesannya.
Uce mengingatkan bahwa layanan digital tetap bergantung pada sumber daya fisik, termasuk listrik, air, perangkat keras, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar memilih untuk menggunakan atau meninggalkan AI, melainkan memastikan manfaat teknologi terus berkembang tanpa mengabaikan sumber daya yang dibutuhkan.
“Teknologinya semakin pintar. Semoga kita yang menggunakannya juga semakin bijak,” pungkasnya.
Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) sekaligus anggota Pusat Studi Lingkungan dan Smart City (PSLSC), Dr Uce Indahyanti MKom, menjelaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa disederhanakan menjadi satu pertanyaan sama dengan satu botol air.
“AI memang mempunyai jejak lingkungan. Tetapi untuk persoalan air, kita perlu hati-hati membaca angkanya. Jangan sampai sebuah hasil penelitian yang sebenarnya sangat kontekstual kemudian berubah menjadi kesimpulan yang berlaku untuk semua AI,” ujarnya.
Menurut Uce, penggunaan air dalam operasional AI berkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari pendinginan pusat data hingga proses penyediaan energi dan pembuatan perangkat keras.
Asal-usul Klaim Satu Botol Air
Klaim tersebut bukan sepenuhnya tanpa dasar. Ada penelitian ilmiah yang mengkaji kebutuhan air untuk menjalankan model AI, termasuk ChatGPT.Dalam penelitian Pengfei Li, Jianyi Yang, Mohammad A Islam, dan Shaolei Ren, penggunaan ChatGPT-3 diperkirakan membutuhkan sekitar 500 mililiter air untuk menghasilkan 10 hingga 50 respons berukuran sedang. Jumlahnya bergantung pada lokasi dan waktu model dijalankan.
Namun, angka tersebut merupakan estimasi dalam kondisi tertentu, bukan ukuran pasti untuk setiap pertanyaan yang diajukan kepada AI.
“Ini yang sering hilang ketika sebuah angka menjadi viral. Itu pun estimasi pada model dan kondisi tertentu. Jadi saya kira kurang tepat kalau angka itu ditempelkan begitu saja pada setiap pertanyaan yang kita kirim ke AI sekarang,” jelasnya.
Uce menegaskan, tidak ada satu angka yang bisa digunakan untuk menggambarkan konsumsi air setiap prompt pada seluruh model AI. Kebutuhan air dapat berbeda berdasarkan teknologi yang digunakan dan kondisi operasional pusat data.
Mengapa AI Membutuhkan Air?
AI memang tidak menggunakan air seperti manusia. Namun, layanan tersebut bergantung pada pusat data atau data center yang menampung server dan perangkat komputasi dalam jumlah besar.Saat beroperasi, perangkat tersebut menghasilkan panas sehingga membutuhkan sistem pendinginan agar dapat bekerja dengan baik.
Meski begitu, jejak air AI tidak hanya berasal dari pendinginan server. Artikel tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Water Research pada 2026 menjelaskan tiga komponen yang berkaitan dengan jejak air AI.
Ketiganya meliputi penggunaan air secara langsung di pusat data, penggunaan air secara tidak langsung dalam pembangkitan listrik, serta air yang berkaitan dengan proses manufaktur semikonduktor.
“Karena itu, angka mengenai konsumsi air AI tidak seharusnya langsung diterima begitu saja tanpa melihat bagaimana angka tersebut dihitung” jelasnya.
Dengan demikian, pembahasan mengenai jejak air AI perlu mempertimbangkan keseluruhan proses yang menopang operasional teknologi tersebut.
Meski klaim satu pertanyaan setara sebotol air perlu dipahami secara hati-hati, kebutuhan air untuk menjalankan AI dalam skala besar tetap menjadi perhatian.
Dalam penelitian Li dan koleganya, pelatihan GPT-3 di pusat data Microsoft di Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan sekitar 700 ribu liter konsumsi air langsung di lokasi.
Penelitian yang sama juga memproyeksikan pengambilan air yang berkaitan dengan kebutuhan AI secara global dapat mencapai 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik pada 2027.
Namun, Uce mengingatkan bahwa pengambilan air atau water withdrawal berbeda dengan konsumsi air atau water consumption.
“Sebagian air yang diambil dapat dikembalikan ke sumbernya. Jadi istilahnya juga perlu kita pahami dengan tepat,” tuturnya.
Angka 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik tersebut merupakan proyeksi, bukan jumlah air yang telah terbukti digunakan AI saat ini.
“Kalau penelitian menyebut proyeksi, ya kita sampaikan sebagai proyeksi. Jangan diubah menjadi seolah-olah itu angka penggunaan air yang sudah terjadi,” tuturnya.
Menurut Uce, pembedaan antara data aktual, estimasi, dan proyeksi penting agar informasi mengenai dampak lingkungan teknologi tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Microsoft dan Google Berupaya Mengurangi Jejak Air
Di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi AI, perusahaan teknologi juga mengembangkan berbagai upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air.Microsoft, misalnya, memperkenalkan desain pusat data baru pada Agustus 2024 yang ditujukan untuk beban kerja AI dengan sistem pendinginan tertutup atau closed-loop.
Melalui sistem tersebut, air bersirkulasi di dalam sistem pendinginan sehingga tidak terus-menerus diuapkan untuk mendinginkan perangkat.
Microsoft menyebut desain itu ditujukan untuk menghindari penggunaan lebih dari 125 juta liter air per tahun pada setiap pusat data untuk proses pendinginan.
“Namun, istilah zero water for cooling bukan berarti fasilitas tersebut sama sekali tidak membutuhkan air. Air tetap digunakan untuk kebutuhan lain seperti toilet dan dapur,” terang DR Uce.
Selain Microsoft, Google juga menjalankan program pengelolaan sumber daya air atau water stewardship.
Dalam laporan lingkungan 2026, Google menyebut proyek-proyeknya telah melakukan replenishment sekitar 7,7 miliar galon air sepanjang 2025. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 78 persen konsumsi air tawar perusahaan pada tahun itu.
Uce mengingatkan bahwa replenishment tidak berarti air yang sudah digunakan langsung dikembalikan ke pusat data.
“Bukan berarti air yang sudah digunakan kemudian begitu saja dikembalikan ke data center,” ujarnya.
Program replenishment berkaitan dengan berbagai upaya untuk memulihkan atau meningkatkan ketersediaan air bagi daerah aliran air dan masyarakat.
Menurut Uce, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa upaya mengurangi jejak air AI juga mencakup peningkatan efisiensi teknologi dan pengelolaan sumber daya.
“Jadi saya kira kurang tepat kalau kita melihat persoalan ini hanya dari satu sisi, seolah-olah semakin banyak AI pasti semakin buruk,” katanya.
Ia menilai dampak lingkungan tetap perlu diwaspadai, tetapi perkembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pusat data juga perlu diperhatikan.
Pengguna Tak Perlu Berhenti Memakai AI
Lantas, apakah masyarakat perlu mengurangi penggunaan ChatGPT atau merasa bersalah setiap kali mengajukan pertanyaan?Uce menilai persoalan jejak air AI tidak seharusnya membuat masyarakat menghentikan penggunaan teknologi tersebut secara wajar.
“Kesimpulannya, bukan penggunaan AI secara wajar oleh individu harus dihentikan karena persoalan air,” terang dosen yang bergabung dalam Pusat Studi Lingkungan dan Smart City (PSLSC) Umsida itu.
Menurutnya, perhatian lebih besar perlu diberikan pada pengelolaan infrastruktur AI dalam skala besar. Hal ini mencakup teknologi pendinginan, sumber energi dan air, efisiensi komputasi, hingga pemilihan lokasi pusat data.
Meski begitu, pengguna tetap dapat berkontribusi dengan memanfaatkan teknologi secara bijak.
“Menurut saya prinsipnya sederhana. Gunakan AI seperlunya dan sebesar manfaatnya. Satu prompt yang jelas dan tepat sasaran mungkin lebih baik daripada berkali-kali bertanya karena sejak awal kita sendiri belum jelas apa yang ingin kita tanyakan,” jelas Dr Uce.
Ia menambahkan, pemahaman mengenai dampak lingkungan teknologi seharusnya mendorong masyarakat menjadi pengguna yang lebih kritis, bukan justru takut memanfaatkan AI.
“AI tetap teknologi yang sangat bermanfaat. Tidak perlu setiap kali memakai AI kita merasa bersalah karena membayangkan ada air yang habis,” pesannya.
Uce mengingatkan bahwa layanan digital tetap bergantung pada sumber daya fisik, termasuk listrik, air, perangkat keras, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar memilih untuk menggunakan atau meninggalkan AI, melainkan memastikan manfaat teknologi terus berkembang tanpa mengabaikan sumber daya yang dibutuhkan.
“Teknologinya semakin pintar. Semoga kita yang menggunakannya juga semakin bijak,” pungkasnya.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.