Buka Sekolah Jurnalistik Angkatan 28, Dekan FH Unissula dan Ketua PWI Jateng Tekankan Pentingnya Keahlian Menulis

Redaksi
0
PWI Jateng dan FH Unissula menggelar Sekolah Jurnalistik Angkatan XXVIII yang diikuti 95 mahasiswa untuk mengasah keterampilan menulis dan memahami etika jurnalistik. Foto tangkap layar.

Semarang. EDUKASIA.ID - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Tengah kembali bersama Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (FH Unissula) Semarang dengan menggelar Sekolah Jurnalistik Angkatan XXVIII.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Sabtu (10/10/2026) ini diikuti oleh 95 mahasiswa FH Unissula lintas jalur, mulai dari kelas reguler, karyawan eksekutif, hingga program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Hadir dalam pembukaan ini, Dekan FH Unissula Prof Dr Jawade Hafidz SH MH, Wakil Dekan I FH Unissula Dr Ida Musofiana SH MH, Wakil Dekan II Dr Muhammad Ngazis SH MH, Kaprodi S1 Ilmu Hukum Dr M Rizal Bagaskoro SH MH, serta Sekretaris Prodi S1 Ilmu Hukum Aditya Noviansyah SH MH.

Sementara dari pihak PWI Jateng, hadir Ketua PWI Jateng Setiawan Hendra Kelana, Ketua Dewan Kehormatan PWI Jateng sekaligus pemateri Amir Machmud NS, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Alkomari, serta jajaran pemateri kompeten lainnya seperti R Widiyartono (Ketua Badan UKW PWI Jateng) dan praktisi hukum Budi Sutomo.

Ketua PWI Jateng, Setiawan Hendra Kelana, mengungkapkan, bertahannya kegiatan Sekolah Jurnalistik FH Unissula-PWI yang mampu bertahan sejak 2016 hingga 2026 atau satu dekade, membuktikan bahwa kegiatan ini punya nilai manfaat dan senantiasa dinantikan bersama.

Dia menyebut, agenda ini bisa dimaknai sebagai kolaborasi yang baik, konsisten, dan istikamah yang telah berhasil mencetak sarjana hukum yang jago dalam menerapkan pasal-pasal, tapi juga mampu menulis, mampu mengkomunikasikan hukum ke publik melalui tulisan-tulisan yang baik, dan dicerna secara mudah oleh masyarakat.

"Hukum jika disuarakan tanpa dipublikasi tentu akan berada di ruang sunyi. Sebaliknya, jurnalistik jika tidak dilandasi pemahaman hukum yang baik, tentu berpotensi menimbulkan kerawanan. Perpaduan antara hukum dan jurnalistik adalah sesuatu yang sangat ideal," tegas pria yang akrab disapa Iwan tersebut.

Iwan menambahkan, di tengah pesatnya implementasi UU ITE, mahasiswa hukum harus hadir sebagai penjernih informasi (clarifier) di tengah masyarakat, bukan justru menjadi bagian dari penyebar kabar bohong (hoax).

Keahlian menerjemahkan bahasa hukum yang rumit menjadi tulisan ilmiah populer yang lugas dan mudah dicerna publik merupakan nilai tambah yang sangat berharga bagi lulusan FH Unissula saat kelak berkarier sebagai advokat, jaksa, hakim, maupun praktisi hukum.

"Sekolah Jurnalistik juga membentuk mahasiswa berpikir kritis sesuai fakta. Seperti halnya mencermati dinamika putusan peradilan belakangan ini, mahasiswa dapat menganalisis dan mengomunikasikannya ke publik sekaligus membangun jaringan dengan insan pers," tambah Iwan.

Memberi Dampak


Apresiasi tinggi turut disampaikan oleh Dekan FH Unissula, Prof Dr Jawade Hafidz SH MH yang membuka acara itu. Dalam sambutannya, dia menegaskan bahwa kerja sama produktif selama 10 tahun ini telah teruji memberikan kontribusi besar bagi kompetensi lulusan. Bahkan, tak jarang lulusan FH Unissula yang akhirnya berkarier di dunia kewartawanan.

"Sebagai Dekan, saya memandang kerja sama ini sangat produktif dan memberikan wawasan tambahan bagi mahasiswa. Di era digitalisasi, masyarakat butuh informasi yang benar dan objektif. Kegiatan ini selaras dengan capaian FH Unissula sebagai penyelenggara pendidikan, yaitu memberikan impact atau dampak langsung bagi masyarakat," tutur Prof. Jawade.

Mengingat pentingnya program ini dan dinamisnya perkembangan dunia informasi, Prof Jawade berharap kolaborasi dengan PWI Jateng dapat terus diperpanjang dan diperbarui nota kerjasamanya untuk lima tahun serta menghadirkan berbagai inovasi baru ke depan.

Pelatihan berdurasi padat ini diboboti oleh materi-materi krusial yang dibawakan langsung oleh jajaran pengurus dan pemateri kompeten PWI Jateng.

Ketua DK PWI Jateng Amir Machmud NS yang mengawali materi mengangkat tajuk Etika Jurnalistik dan Etika Bermedia. Dia menekankan bahwa di tengah persaingan ketat antara media arus utama dan media sosial, persoalan utama bermedia saat ini bermuara pada etika.

"Perkembangan bermedia saat ini sangat komplikatif. Karena itu, Kode Etik Jurnalistik saja tidak cukup, tetapi harus dilengkapi dengan Etika Bermedia secara luas agar masyarakat ikut bijak dan tidak saling menyinggung dalam berkomunikasi digital," urainya.

Sedangkan Alkomari dengan materi Konvergensi Media mengupas tuntas bagaimana digitalisasi memaksa media konvensional melakukan transformasi fundamental pada tiga aspek: pola produksi, model bisnis, dan cara berinteraksi dengan audiens agar tetap relevan.

Praktisi hukum Budi Sutomo membekali peserta dengan teknik penyusunan Legal Opinion (pendapat hukum) secara sistematis dan aplikatif untuk menjawab berbagai permasalahan hukum klien maupun perusahaan.

Sedangkan R Widiyartono membedah strategi mengemas gagasan menjadi artikel yang enak dibaca, mulai dari teknik menyusun outline, menentukan jenis artikel, hingga trik meracik intro (alinea pembuka) yang memikat pembaca.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top