Dr. Ramdhan Yurianto (kiri, berkaos merah) berpose bersama rekannya saat menjadi pengemudi ojek online sebelum meraih gelar doktor. Foto ist.
Ujian terbuka yang dipimpin langsung Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. itu menetapkan Ramdhan lulus dan memberinya gelar Doktor Studi Islam
"Kepadanya diberi gelar Doktor Studi Islam, dan merupakan doktor ke-456 yang telah diluluskan oleh UIN Walisongo," kata Prof. Musahadi.
Capaian tersebut menjadi penutup perjalanan akademik yang telah dijalaninya selama 12 tahun di UIN Walisongo, mulai jenjang sarjana, magister, hingga doktor. Di balik keberhasilan itu, tersimpan cerita perjuangan seorang mahasiswa yang sejak kuliah harus membagi waktu antara belajar dan bekerja.
Sebelum menjadi dosen, Ramdhan pernah menjalani berbagai pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan. Saat menempuh pendidikan sarjana, ia berjualan bubur bayi sehat di kawasan Ngaliyan pada 2015 hingga 2017. Setelah itu, ia bekerja membantu usaha katering pada akhir pekan, menjadi pengemudi ojek online pada 2017 hingga 2019, serta mengajar les bagi anak-anak sekolah.
"Saya memang terbiasa kuliah sambil bekerja. Apa pun pekerjaan yang halal saya jalani untuk membantu kebutuhan hidup dan pendidikan," ujarnya.
Pada 2016, Ramdhan juga memperoleh kesempatan mengikuti program kewirausahaan di Universitas Kebangsaan Malaysia melalui program yang difasilitasi UIN Walisongo.
Setelah lulus sarjana pada 2019, ia melanjutkan pendidikan magister di kampus yang sama sambil bekerja di Indosat Semarang sebagai customer service. Kesibukan kuliah dan pekerjaan dijalaninya hampir setiap hari.
"Saya kerja dari jam 16.00 sampai sekitar jam 02.00 dini hari. Sampai kos sekitar jam 02.30, tidur sebentar, lalu pagi kuliah lagi. Saya tidur secukupnya karena harus kuliah sambil bekerja," kenangnya.
Situasi tersebut bahkan masih berlangsung setelah ia menikah.
"Saya tidur istri sudah tidur, saya bangun istri sudah tidak ada karena sudah berangkat mengajar. Hampir satu tahun seperti itu," katanya.
Kerja keras itu membuahkan hasil. Ramdhan menyelesaikan pendidikan magister sebagai mahasiswa terbaik dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi doktoral.
Pada 2022, karier akademiknya mulai berkembang. Ia diterima sebagai dosen luar biasa Bahasa Arab di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dan dosen tetap di Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto. Pada waktu yang hampir bersamaan, ia juga dipercaya menjadi Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Arab serta tutor Universitas Terbuka.
Namun, kesibukan akademik dan tanggung jawab pekerjaan sempat membuat studinya berjalan lambat. Sepanjang 2023 hingga 2024, fokusnya banyak tersita untuk mengembangkan program studi baru, mengurus akreditasi, mengajar, meneliti, melakukan pengabdian kepada masyarakat, hingga menjadi reviewer jurnal dan juri berbagai kegiatan bahasa Arab.
"Saya sempat down dan hampir menyerah," ungkapnya.
Dalam kondisi tersebut, ia mengaku mendapat dukungan dari orang tua, istri, dan mertua untuk kembali menyelesaikan studinya.
"Bagi saya, kerja keras, ridho orang tua, dan pasrah kepada Allah adalah kunci menjalani semua proses ini," ujarnya.
Pada tahap akhir penyusunan disertasi, Ramdhan harus bolak-balik Purwokerto-Semarang untuk menyelesaikan berbagai tahapan akademik.
"Saya sering begadang sampai malam bahkan sampai pagi untuk memastikan disertasi selesai. Dari ujian proposal, komprehensif sampai ujian terbuka saya jalani dengan semangat. Sudah tidak terhitung tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan. Semata-mata mengharap ridho Allah," katanya.
Dalam ujian terbuka tersebut, Ramdhan mempertahankan disertasi berjudul Pemerolehan Maharah Al-Kalam Berbasis Bi'ah Lugawiyyah dan Interaksi Sosial: Studi Kasus Pondok Pesantren Modern Darunnajat Pruwatan Brebes.
Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. selaku ketua sidang dan Prof. Dr. H. Suparman, M.Ag. sebagai sekretaris sidang. Disertasi tersebut dibimbing Prof. Dr. Ahmad Ismail, M.Ag., M.Hum. sebagai promotor dan Dr. H. Ahmad Maghfurin, M.Ag., M.A. sebagai kopromotor. Tim penguji terdiri atas Dwi Santoso, Ph.D., Dr. H. Alis Asikin, M.A., Dr. H. Mahfudz Siddiq, Lc., M.A., dan Dr. Naifah, S.Pd.I., M.S.I.
Penelitian itu berangkat dari pertanyaan sederhana. Mengapa ada pesantren yang berhasil membuat santrinya aktif berbicara bahasa Arab, sementara banyak pesantren lain yang memiliki program serupa namun hasilnya berbeda?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ramdhan meneliti praktik pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Darunnajat Pruwatan Brebes. Ia melakukan observasi, wawancara, dan pengumpulan data yang melibatkan pengasuh, ustaz, pengurus bahasa, serta para santri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berbicara bahasa Arab tidak hanya dibentuk melalui kegiatan belajar di ruang kelas. Faktor yang tidak kalah penting adalah lingkungan pesantren yang membuat santri menggunakan bahasa Arab dalam aktivitas sehari-hari.
Di pesantren tersebut, santri tidak hanya belajar teori bahasa Arab. Mereka juga menggunakan bahasa Arab dalam percakapan harian, pidato, debat, pemberian kosakata, hingga berbagai kegiatan kebahasaan lainnya.
Penelitian itu menemukan lima kegiatan yang paling berperan dalam meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab, yakni muhadatsah atau percakapan, muhadharah atau pidato, ilqa' al-mufradat atau pemberian kosakata, tasyji' al-lughah atau penguatan penggunaan bahasa, dan munazarah atau debat bahasa Arab.
Menurut Ramdhan, kombinasi berbagai kegiatan tersebut membuat santri lebih terbiasa menggunakan bahasa Arab, lebih percaya diri berbicara, dan lebih mampu menyampaikan gagasan secara lisan.
Berdasarkan temuan tersebut, ia merumuskan Model Language Immersion Pesantren, yaitu model pembelajaran yang menekankan pentingnya keterpaduan lingkungan bahasa, interaksi sosial, dan praktik komunikasi dalam kehidupan sehari-hari santri.
Gelar doktor yang diraihnya menjadi hasil dari perjalanan panjang yang tidak lepas dari kerja keras dan dukungan keluarga. Dari berjualan bubur bayi, menjadi pengemudi ojek online, bekerja di perusahaan telekomunikasi, hingga akhirnya mengajar sebagai dosen, seluruh proses itu menjadi bagian dari perjalanan yang mengantarkannya menyandang gelar doktor.
"Kerja keras, ridho orang tua, dan pasrah kepada Allah merupakan kunci yang selalu saya pegang sampai hari ini," pungkasnya.
Secara terpisah, Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Dr. Ramdhan Yurianto menyelesaikan studi doktoralnya. Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi selama menempuh pendidikan telah membentuk Ramdhan menjadi pribadi yang tangguh, ulet, dan tidak mudah menyerah.
Prof. Muhyar menilai perjalanan hidup Ramdhan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Berbagai pekerjaan yang pernah dijalaninya di sela-sela kuliah menunjukkan bahwa keberhasilan tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan.
"Jangan pernah percaya dengan jalan pintas. Jalan pintas hanya akan menjadikan segalanya melintas tanpa bekas. Sebaliknya, proses yang benar dalam belajar menjadikan seseorang tumbuh secara normal dan penuh penghayatan. Setiap pengalaman adalah pembelajaran untuk masa depan," ujar Prof. Muhyar.
Menurutnya, pengalaman hidup yang beragam justru menjadi modal penting bagi seseorang untuk berkembang dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat. Karena itu, ia berharap semakin banyak generasi muda yang memiliki semangat belajar dan daya juang seperti yang ditunjukkan Dr. Ramdhan.
"Negeri ini membutuhkan lebih banyak pemuda seperti Dr. Ramdhan. Pemuda seperti Dr. Ramdhan inilah yang bisa diandalkan untuk memajukan bangsa dan negara kita saat ini," pungkasnya.
Sebelum menjadi dosen, Ramdhan pernah menjalani berbagai pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan. Saat menempuh pendidikan sarjana, ia berjualan bubur bayi sehat di kawasan Ngaliyan pada 2015 hingga 2017. Setelah itu, ia bekerja membantu usaha katering pada akhir pekan, menjadi pengemudi ojek online pada 2017 hingga 2019, serta mengajar les bagi anak-anak sekolah.
"Saya memang terbiasa kuliah sambil bekerja. Apa pun pekerjaan yang halal saya jalani untuk membantu kebutuhan hidup dan pendidikan," ujarnya.
Pada 2016, Ramdhan juga memperoleh kesempatan mengikuti program kewirausahaan di Universitas Kebangsaan Malaysia melalui program yang difasilitasi UIN Walisongo.
Setelah lulus sarjana pada 2019, ia melanjutkan pendidikan magister di kampus yang sama sambil bekerja di Indosat Semarang sebagai customer service. Kesibukan kuliah dan pekerjaan dijalaninya hampir setiap hari.
"Saya kerja dari jam 16.00 sampai sekitar jam 02.00 dini hari. Sampai kos sekitar jam 02.30, tidur sebentar, lalu pagi kuliah lagi. Saya tidur secukupnya karena harus kuliah sambil bekerja," kenangnya.
Situasi tersebut bahkan masih berlangsung setelah ia menikah.
"Saya tidur istri sudah tidur, saya bangun istri sudah tidak ada karena sudah berangkat mengajar. Hampir satu tahun seperti itu," katanya.
Kerja keras itu membuahkan hasil. Ramdhan menyelesaikan pendidikan magister sebagai mahasiswa terbaik dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi doktoral.
Pada 2022, karier akademiknya mulai berkembang. Ia diterima sebagai dosen luar biasa Bahasa Arab di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dan dosen tetap di Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto. Pada waktu yang hampir bersamaan, ia juga dipercaya menjadi Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Arab serta tutor Universitas Terbuka.
Namun, kesibukan akademik dan tanggung jawab pekerjaan sempat membuat studinya berjalan lambat. Sepanjang 2023 hingga 2024, fokusnya banyak tersita untuk mengembangkan program studi baru, mengurus akreditasi, mengajar, meneliti, melakukan pengabdian kepada masyarakat, hingga menjadi reviewer jurnal dan juri berbagai kegiatan bahasa Arab.
"Saya sempat down dan hampir menyerah," ungkapnya.
Dalam kondisi tersebut, ia mengaku mendapat dukungan dari orang tua, istri, dan mertua untuk kembali menyelesaikan studinya.
"Bagi saya, kerja keras, ridho orang tua, dan pasrah kepada Allah adalah kunci menjalani semua proses ini," ujarnya.
Pada tahap akhir penyusunan disertasi, Ramdhan harus bolak-balik Purwokerto-Semarang untuk menyelesaikan berbagai tahapan akademik.
"Saya sering begadang sampai malam bahkan sampai pagi untuk memastikan disertasi selesai. Dari ujian proposal, komprehensif sampai ujian terbuka saya jalani dengan semangat. Sudah tidak terhitung tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan. Semata-mata mengharap ridho Allah," katanya.
Teliti Rahasia Santri Lancar Berbahasa Arab
Dalam ujian terbuka tersebut, Ramdhan mempertahankan disertasi berjudul Pemerolehan Maharah Al-Kalam Berbasis Bi'ah Lugawiyyah dan Interaksi Sosial: Studi Kasus Pondok Pesantren Modern Darunnajat Pruwatan Brebes.
Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. selaku ketua sidang dan Prof. Dr. H. Suparman, M.Ag. sebagai sekretaris sidang. Disertasi tersebut dibimbing Prof. Dr. Ahmad Ismail, M.Ag., M.Hum. sebagai promotor dan Dr. H. Ahmad Maghfurin, M.Ag., M.A. sebagai kopromotor. Tim penguji terdiri atas Dwi Santoso, Ph.D., Dr. H. Alis Asikin, M.A., Dr. H. Mahfudz Siddiq, Lc., M.A., dan Dr. Naifah, S.Pd.I., M.S.I.
Penelitian itu berangkat dari pertanyaan sederhana. Mengapa ada pesantren yang berhasil membuat santrinya aktif berbicara bahasa Arab, sementara banyak pesantren lain yang memiliki program serupa namun hasilnya berbeda?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ramdhan meneliti praktik pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren Modern Darunnajat Pruwatan Brebes. Ia melakukan observasi, wawancara, dan pengumpulan data yang melibatkan pengasuh, ustaz, pengurus bahasa, serta para santri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berbicara bahasa Arab tidak hanya dibentuk melalui kegiatan belajar di ruang kelas. Faktor yang tidak kalah penting adalah lingkungan pesantren yang membuat santri menggunakan bahasa Arab dalam aktivitas sehari-hari.
Di pesantren tersebut, santri tidak hanya belajar teori bahasa Arab. Mereka juga menggunakan bahasa Arab dalam percakapan harian, pidato, debat, pemberian kosakata, hingga berbagai kegiatan kebahasaan lainnya.
Penelitian itu menemukan lima kegiatan yang paling berperan dalam meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab, yakni muhadatsah atau percakapan, muhadharah atau pidato, ilqa' al-mufradat atau pemberian kosakata, tasyji' al-lughah atau penguatan penggunaan bahasa, dan munazarah atau debat bahasa Arab.
Menurut Ramdhan, kombinasi berbagai kegiatan tersebut membuat santri lebih terbiasa menggunakan bahasa Arab, lebih percaya diri berbicara, dan lebih mampu menyampaikan gagasan secara lisan.
Berdasarkan temuan tersebut, ia merumuskan Model Language Immersion Pesantren, yaitu model pembelajaran yang menekankan pentingnya keterpaduan lingkungan bahasa, interaksi sosial, dan praktik komunikasi dalam kehidupan sehari-hari santri.
Gelar doktor yang diraihnya menjadi hasil dari perjalanan panjang yang tidak lepas dari kerja keras dan dukungan keluarga. Dari berjualan bubur bayi, menjadi pengemudi ojek online, bekerja di perusahaan telekomunikasi, hingga akhirnya mengajar sebagai dosen, seluruh proses itu menjadi bagian dari perjalanan yang mengantarkannya menyandang gelar doktor.
"Kerja keras, ridho orang tua, dan pasrah kepada Allah merupakan kunci yang selalu saya pegang sampai hari ini," pungkasnya.
Tidak Ada Jalan Pintas Menuju Keberhasilan
Secara terpisah, Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Dr. Ramdhan Yurianto menyelesaikan studi doktoralnya. Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi selama menempuh pendidikan telah membentuk Ramdhan menjadi pribadi yang tangguh, ulet, dan tidak mudah menyerah.
Prof. Muhyar menilai perjalanan hidup Ramdhan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Berbagai pekerjaan yang pernah dijalaninya di sela-sela kuliah menunjukkan bahwa keberhasilan tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan.
"Jangan pernah percaya dengan jalan pintas. Jalan pintas hanya akan menjadikan segalanya melintas tanpa bekas. Sebaliknya, proses yang benar dalam belajar menjadikan seseorang tumbuh secara normal dan penuh penghayatan. Setiap pengalaman adalah pembelajaran untuk masa depan," ujar Prof. Muhyar.
Menurutnya, pengalaman hidup yang beragam justru menjadi modal penting bagi seseorang untuk berkembang dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat. Karena itu, ia berharap semakin banyak generasi muda yang memiliki semangat belajar dan daya juang seperti yang ditunjukkan Dr. Ramdhan.
"Negeri ini membutuhkan lebih banyak pemuda seperti Dr. Ramdhan. Pemuda seperti Dr. Ramdhan inilah yang bisa diandalkan untuk memajukan bangsa dan negara kita saat ini," pungkasnya.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.