Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dalam satu kesempatan. Pemkot Semarang meningkatkan penerima bisyaroh pendidik keagamaan menjadi 9.992 orang pada 2026, naik 52 persen. Dukungan pesantren juga diperkuat. Foto ist.
Semarang. EDUKASIA.ID - Pemerintah Kota Semarang meningkatkan jumlah penerima bisyaroh bagi pendidik keagamaan dan pelayan umat menjadi 9.992 orang pada 2026. Jumlah tersebut meningkat 3.420 orang atau 52,04 persen dibandingkan 2025 yang tercatat sebanyak 6.572 penerima.
Peningkatan dukungan tersebut disampaikan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng melalui Plt Asisten 2 Yudi Hardianto Wibowo saat membuka Istighosah Akbar dan Napak Tilas Sejarah Santri Kota Semarang di Pondok Pesantren Salafi Luhur Dondong, Mangkang, Jumat 20 Oktober 2026. Kegiatan yang mengusung tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas ini diikuti sekitar 2.700 peserta, terdiri atas 2.600 santri dan jemaah serta 100 tamu VIP.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PCNU Kota Semarang KH Anasom, jajaran Forkopimda, serta para tokoh agama. Rangkaian acara diisi pembacaan manaqib oleh KH Zamahsyari, istighosah dan doa yang dipimpin Gus Nasiruddin, serta mauidhoh hasanah oleh KH Ahmad Haris Shodaqoh, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen.
Dalam sambutannya, Yudi menegaskan bahwa napak tilas di Pesantren Dondong bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan mengambil inspirasi perjuangan ulama untuk menjawab tantangan masa kini. Pesantren, menurutnya, merupakan mata air yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat serta bangsa.
Ia mendorong pesantren agar terus beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui penguasaan teknologi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan penguatan kemandirian ekonomi berbasis kewirausahaan atau santripreneur.
Dia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan bermartabat. Pencegahan perundungan dan segala bentuk kekerasan harus menjadi tanggung jawab bersama. Setiap santri berhak memperoleh perlindungan dan penghormatan.
Terkait dukungan pemerintah, Perda Kota Semarang Nomor 15 Tahun 2025 tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren menjadi landasan penguatan kelembagaan pesantren. Pemkot juga telah mengukuhkan Forum Fasilitasi Pengembangan Pesantren periode 2026–2031 sebagai ruang koordinasi dan keberlanjutan program.
Selain istighosah, kegiatan juga diwarnai penyerahan hadiah umrah kepada dua santriwati berprestasi, yakni Nasywa Jamilah, penghafal 30 juz Al-Qur'an, dan Nurlita Nasucha, atlet santri berprestasi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para santri menjadikan sejarah sebagai inspirasi, ilmu sebagai bekal, akhlak sebagai pegangan, dan pengabdian sebagai jalan kehidupan.
Ketua PCNU Kota Semarang KH Anasom mengapresiasi peningkatan jumlah penerima insentif bagi marbot, penjaga rumah ibadah, guru ngaji, dan pendidik keagamaan lainnya. Terlebih, Pemkot Semarang juga memberikan penghargaan kepada guru Madin dan TPQ melalui program umrah gratis. Menurutnya, berbagai program tersebut merupakan bentuk perhatian nyata terhadap kesejahteraan dan pengabdian para pejuang pendidikan keagamaan.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.