Pakar UMY Ingatkan Orang Tua, Mendidik Remaja Tak Cukup dengan Larangan

Arifah
0




Pakar Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Anita Aisah, M.Psi., Psikolog. Foto UMY.

YOGYAKARTA, EDUKASIA.ID - Mengasuh remaja di tengah pesatnya perkembangan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Menetapkan aturan saja dinilai tidak cukup.

Anak juga membutuhkan keteladanan dan komunikasi yang baik agar memahami alasan di balik aturan tersebut.

Pakar Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Anita Aisah, M.Psi., Psikolog, mengatakan pola pengasuhan perlu memadukan kasih sayang, ketegasan, dan konsistensi. Dengan pendekatan tersebut, remaja diharapkan mampu mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan prinsip hidup.

Hal itu disampaikan Anita dalam seminar parenting bertajuk Mendidik Remaja yang Adaptif Tanpa Kehilangan Nilai. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Grand Launching Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMP Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS), di Gedung SD MSUS, Gatak, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Menurut Anita, perubahan teknologi dan lingkungan pergaulan membuat tantangan yang dihadapi remaja saat ini berbeda dari generasi sebelumnya. Orang tua perlu menyesuaikan cara mendidik anak, tetapi tetap menjaga nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam keluarga.

Anita menilai kemampuan beradaptasi penting bagi remaja. Namun, kemampuan tersebut harus dibarengi dengan pegangan nilai yang jelas agar anak tidak mudah kehilangan arah saat menghadapi perubahan lingkungan.

Orang tua juga diminta tidak terus-menerus membandingkan anak dengan pengalaman mereka ketika masih muda. Perbedaan zaman perlu dipahami agar komunikasi antara orang tua dan anak tidak terhambat.

“Meskipun kondisinya sudah berubah, teknologinya semakin canggih, anak tetap adaptif, bisa menyesuaikan diri, tapi ada nilai yang dipegang,” ujar Anita.

Ia menjelaskan, nilai yang ditanamkan dalam keluarga akan memengaruhi cara anak membedakan perilaku yang pantas dan tidak pantas. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya menuntut kepatuhan, tetapi juga menerangkan alasan di balik aturan yang dibuat.

Dalam menghadapi perilaku remaja, orang tua perlu memahami perbedaan antara menerima perasaan anak dan membenarkan semua tindakannya.

Anak tetap boleh mengungkapkan kekecewaan atau ketidaksetujuan. Meski begitu, mereka perlu memahami batasan perilaku yang dapat diterima.

Anita mengingatkan, keberhasilan pengasuhan tidak hanya ditentukan oleh pesan yang disampaikan, tetapi juga cara orang tua menyampaikannya.

“Pengasuhan itu bukan hanya kalimatnya saja yang sampai ke anak. Tapi bagaimana kalimat itu diberikan” katanya.

Menurutnya, komunikasi yang tenang dan aturan yang jelas dapat membantu anak memahami batasan. Orang tua tidak harus selalu menggunakan kemarahan untuk menghentikan perilaku yang dianggap keliru.

Pendekatan tersebut juga memberi kesempatan kepada anak untuk memahami konsekuensi dari tindakannya, bukan sekadar takut terhadap teguran orang tua.

Anak Lebih Mudah Meniru daripada Mendengar Nasihat

Dosen Program Studi Psikologi UMY itu juga menekankan pentingnya keteladanan dalam keluarga. Orang tua perlu memastikan perilaku sehari-hari sejalan dengan nasihat yang diberikan kepada anak.

Anita mencontohkan orang tua yang melarang anak merokok, tetapi justru merokok di rumah. Hal serupa terjadi ketika orang tua membatasi penggunaan ponsel anak, sementara dirinya sendiri terus menggunakan perangkat tersebut.

“Anak itu lebih mudah melihat kegiatan sehari-harinya daripada ucapan orang tuanya,” ujar Anita.

Ia menjelaskan, perbedaan antara perkataan dan tindakan orang tua bisa membuat anak menerima pesan yang bertentangan. Anak diminta mengikuti aturan tertentu, tetapi tidak melihat contoh nyata dari orang yang menyampaikan aturan tersebut.

Karena itu, pembentukan perilaku anak perlu dimulai dari kebiasaan orang tua di rumah.

Ayah Jangan Hanya Bertugas Mencari Nafkah

Anita turut menyoroti keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Menurutnya, tanggung jawab mendidik anak tidak seharusnya hanya dibebankan kepada ibu, sementara ayah sebatas menjalankan peran sebagai pencari nafkah.

Ia mengajak keluarga mengevaluasi kebiasaan yang membuat pekerjaan rumah dan pendampingan anak dianggap sebagai tanggung jawab perempuan semata.

“Meskipun putra kita laki-laki ya memang kita didik sebagai pemimpin ya, tapi pemimpin yang ringan tangan membantu pekerjaan istrinya. Dan terlibat di dalam pengasuhan,” ujarnya.

Keterlibatan ayah dan ibu dinilai penting untuk menciptakan pola pengasuhan yang konsisten. Keduanya perlu bekerja sama dalam menetapkan aturan, memberikan contoh, serta mendampingi anak ketika menghadapi masalah.

Orang Tua Juga Harus Terus Belajar

Anita mengingatkan bahwa proses mendidik remaja bukan hanya tentang memperbaiki perilaku anak. Orang tua juga perlu mengevaluasi diri, mulai dari kebiasaan berkomunikasi hingga cara menyelesaikan konflik di rumah.

Pengalaman masa lalu yang kurang tepat sebaiknya tidak terus diwariskan melalui pola pengasuhan. Sebaliknya, orang tua perlu membangun kedekatan dengan anak, menunjukkan kasih sayang, sekaligus menerapkan batasan secara tegas dan konsisten.

Dalam konteks pendidikan Islam, Anita juga menekankan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai bagian dari pengasuhan.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top