Tradisi Nyapu Pagi, Sekolah Pancasila Paling Jujur dari Dusun Teguhan

Redaksi
0
Emblem garuda pancasila di sebuah gedung. Foro Pexels.

Oleh: Fathur Rochman, Mahasiswa PJJ PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

EDUKASIAID - Pukul 05.30 WIB, ketika sebagian orang masih bergelung dalam selimut, sekitar 200 ibu di Dusun Teguhan, Desa Sidokerto, Kecamatan Sidorejo, Kabupaten Magetan, sudah keluar rumah membawa sapu lidi. Setiap Sabtu pagi mereka membersihkan jalan dusun bersama-sama, tanpa honor dan tanpa paksaan.

Jika Pancasila hanya diajarkan lewat hafalan, maka yang terjadi di Teguhan adalah pelajaran Pancasila yang sesungguhnya. Di tengah gempuran individualisme digital, warga justru memilih merawat sesuatu yang sering terlupakan: kepentingan bersama. Dari kunjungan dan wawancara dengan warga pada Sabtu, 24 Oktober 2026 di Dusun Teguhan, saya melihat tiga nilai penting dalam kebiasaan yang berjalan sejak 2024 ini.

Pertama, gotong royong yang tidak dibuat-buat. Di banyak desa, kegiatan bersih-bersih ramai menjelang lomba desa lalu sepi kembali. Di Teguhan, kesadaran itu tumbuh dari bawah. "Semenjak ada rutinan nyapu tiap hari Sabtu ini, membuat ibu-ibu makin memperhatikan kebersihan," tutur Bu Munjariyah, salah satu warga.

Yang mereka sapu bukan hanya halaman sendiri, tetapi jalan umum yang dilalui anak sekolah dan para petani. Di sinilah Sila ke-3, Persatuan Indonesia, bekerja: warga merasa memiliki ruang bersama. Sila ke-5, Keadilan Sosial, juga hadir. Jalan yang bersih dinikmati semua orang, kaya maupun miskin, sehingga setiap orang ikut menjaga manfaat yang dirasakan bersama. Mendahulukan kepentingan bersama tidak harus dimulai dari hal besar.

Kedua, musyawarah sebagai fondasi. Bu Sumini, koordinator kegiatan, menegaskan bahwa keputusan diambil bersama. "Kalau mau bagi lokasi atau beli sapu baru, kita rembug bareng di arisan ibu-ibu. Jadi semua sepakat, tidak ada yang merasa dipaksa," katanya.

Meski ada koordinator, keputusan tetap dirembug. Peran koordinator di sini lebih sebagai penghubung dan penggerak, bukan penentu tunggal. Inilah Sila ke-4 yang hidup, pelajaran demokrasi paling sederhana yang kerap hilang di ruang-ruang formal.

Ketiga, keberlanjutan nilai. Harapan Bu Munjariyah sederhana tetapi dalam: "Harapannya kegiatan ini terus jalan, biar anak cucu kita juga terbiasa gotong royong. Kalau lingkungan bersih, hatinya juga ikut rukun." Kalimat itu menunjukkan bahwa yang dibersihkan bukan hanya debu jalan, tetapi juga sekat-sekat sosial antarwarga.

Bagi saya, apa yang dilakukan ibu-ibu Teguhan adalah kritik halus bagi kita di dunia pendidikan. Sebagian dari kita terlalu sibuk menyusun modul Pancasila yang tebal, sementara esensinya justru terlihat pada sapu-sapu yang bergerak serempak setiap Sabtu pagi.

Pemerintah desa telah memulai dengan baik sejak 2024. Tugas berikutnya adalah memastikan kebiasaan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia perlu didokumentasikan, diceritakan ke sekolah-sekolah, dan diwariskan sebagai kurikulum hidup. Misalnya, sekolah di sekitar Magetan dapat mengajak siswa mengikuti nyapu pagi bersama warga, atau menjadikannya bahan projek penguatan profil pelajar Pancasila.

Pada akhirnya, Pancasila tidak butuh lebih banyak penghafal. Ia butuh lebih banyak pelaku. Dan Dusun Teguhan telah memberikan contoh yang paling jujur.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top