Profesor Sorbonne Franck Lavigne hadir di UIN Walisongo membahas etnosains, kearifan lokal, pendidikan fisika, dan mitigasi bencana. Foto ist.
Semarang. EDUKASIA.ID - Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo Semarang menghadirkan Prof. Franck Lavigne, Ph.D. dari Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne, Prancis, dalam International Guest Lecture di Gedung Saintek UIN Walisongo, Jumat 6 November 2026.
Kuliah tamu internasional yang diikuti dosen, laboran, serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika dan Program Studi Fisika FST UIN Walisongo Semarang itu membahas integrasi kearifan lokal dengan ilmu pengetahuan alam untuk memperkuat pendidikan fisika dan ketahanan menghadapi bencana.
Dekan FST UIN Walisongo, Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag., mengapresiasi kehadiran Prof. Franck Lavigne dalam kegiatan bertema Ethnoscience, Physics Education, and Disaster Resilience: Integrating Local Wisdom with Natural Hazard Science tersebut.
Menurutnya, integrasi pengetahuan lokal dan pendekatan ilmiah penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana.
"Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana alam yang cukup tinggi. Karena itu, penting mengintegrasikan kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah dalam memperkuat literasi kebencanaan," ujarnya.
Dalam pemaparannya, Franck Lavigne membahas hubungan antara pengetahuan lokal dan kajian ilmiah kebencanaan. Salah satu contoh yang diulas adalah sejarah letusan Gunung Samalas di Lombok.
Ia juga menyoroti peluang pengembangan penelitian kebencanaan melalui kajian geofisika, rekonstruksi perubahan garis pantai, serta analisis endapan sedimen laut (marine core).
Menurutnya, penting menguji pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun melalui penelitian lapangan dan bukti empiris. Cerita rakyat maupun catatan sejarah dapat menjadi sumber informasi awal untuk menelusuri fenomena geologi dan sejarah kebencanaan.
Dengan pendekatan tersebut, kearifan lokal tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian ilmiah. Pengetahuan yang berkembang di masyarakat perlu dikaji dan diuji agar dapat dipahami melalui perspektif ilmu pengetahuan.
Untuk diketahui, FST UIN Walisongo mendorong pengembangan pembelajaran fisika berbasis etnosains, memperluas wawasan multidisipliner, serta membuka peluang kolaborasi penelitian internasional di bidang pendidikan fisika dan mitigasi bencana.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.