Jejak Intelektual Abdul Basir, dari Guru Jadi Doktor Sejarah Haji

Redaksi
0
Dr. Abdul Basir (tengah) berfoto bersama dewan penguji usai Sidang Terbuka Promosi Doktor di Unusia, Jakarta pada Sabtu 14 Februari 2026. Foto UNUSIA.

EDUKASIA.ID - Kadang kesibukan birokrasi menjadikan pendidikan nomor sekian. Namun bagi Dr. Abdul Basir, pendidikan adalah pengabdian yang tidak boleh berhenti di meja kantor. Kepala Bagian Pengelolaan Sumber Daya Manusia pada Sekretariat Jenderal Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) itu membuktikan, riset mendalam bisa lahir dari tangan seorang praktisi.

Pria kelahiran Grobogan, 7 Maret 1978 tersebut resmi menyandang gelar Doktor Sejarah Peradaban Islam, setelah disertasi tentang sejarah sosial manajemen haji Indonesia periode 1950-1980 berhasil dipertahankannya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Aula Jakob Oetama Unusia, Sabtu 14 Februari 2026.

Jauh sebelum duduk di kementerian, langkah Basir dimulai sebagai seorang guru di MAN 1 Wonosobo pada 2003. Selama lebih dari satu dekade mengajar, ia mengasah ketajaman analisisnya. Pengalaman mengabdi di daerah memberinya pemahaman bahwa pendidikan dan sejarah adalah dua pilar yang membentuk karakter masyarakat.

Semangat belajarnya tak pernah padam. Setelah menuntaskan S1 di Universitas Negeri Semarang dan S2 di Universitas Negeri Yogyakarta, ia tidak berhenti. Baginya, memahami masa lalu adalah kunci memperbaiki masa depan.

Membedah 'Tarbiyah' di Atas Kapal Laut


Dilansir dari BeritaHaji.id, Abdul Basir mengungkapkan temuan menarik tentang fungsi edukasi dalam perjalanan haji masa lalu. Pada era 1950-an hingga 1970-an, ketika kapal uap masih mendominasi, perjalanan haji memakan waktu yang sangat lama. Namun, durasi panjang itu justru menjadi ruang kelas raksasa di tengah samudra.

Namun, zaman berubah. Masuknya pesawat terbang sejak 1952 mengubah pola tersebut. Meski singkat, pesawat memberikan kesan mendalam sebagai simbol modernitas. Basir mencatat, sejak 1979, era kapal laut berakhir, dan sejak 1980 sepenuhnya beralih ke udara.

Menggunakan teori Monica Wilson, Basir menekankan bahwa seorang yang melakukan perjalanan ke tempat suci akan mengalami perubahan status sosial. Di sinilah relevansi pendidikan haji menjadi krusial.

Hal ini, menurutnya, harus didukung oleh manajemen yang mumpuni. Ia mengkritisi sejarah di mana pada 1961 jumlah jemaah pernah menurun tajam akibat kondisi ekonomi dan politik yang tidak stabil, serta penghapusan sistem kuota saat itu.

Dr. Abdul Basir merekomendasikan pemerintah untuk membangun pusat unggulan (center of excellence) kajian haji berbasis riset guna memperkuat tata kelola yang modern dan kompetensi manasik jemaah. Selain itu, diperlukan diplomasi strategis dengan Arab Saudi untuk mewujudkan kebijakan kuota dan pengelolaan antrean yang lebih berkeadilan serta inovatif demi memperpendek masa tunggu.

Sekai itu, Basir juga mendorong peran aktif kalangan akademik sebagai mitra strategis dalam menyediakan model manajemen yang berkelanjutan, sekaligus menekankan pentingnya penguatan literasi regulasi agar masyarakat lebih kritis terhadap tawaran haji ilegal yang merugikan publik.

Bagi Dr. Abdul Basir, gelar ini adalah awal baru. Kini memiliki tanggung jawab lebih besar: memastikan sumber daya manusia di lingkungan perhajian memiliki landasan historis dan intelektual yang kuat.
Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top