Ramadhan, Madrasah Tak Perlu Pesantren Kilat

Redaksi
0
Ilustrasi siswa madrasah sedang belajar. Foto ist.

Oleh: HM. Miftahul Arief, Pemred EDUKASIA/ Kandidat Doktor Manajemen Pemasaran Pendidikan Islam.

EDUKASIA.ID - Setiap memasuki bulan Ramadhan, ada fenomena yang konsisten berulang: madrasah kita mendadak sibuk menjadi 'fotokopi' sekolah umum. Mulai dari jam masuk yang digeser lebih siang hingga jam pulang yang dipercepat dengan alasan efisiensi.

Bahkan, materi pelajaran dikemas dalam bungkus 'pesantren kilat' yang kegiatannya biasanya hanya repetisi administratif tahunan. Bukankah madrasah selama ini memang sudah pesantren mini? duh.

Pertanyaannya sederhana, mengapa madrasah yang punya basis nilai kuat justru terjebak dalam arus ikut-ikutan? Padahal, dalam kacamata pemasaran, Ramadhan adalah panggung utama untuk menunjukkan jati diri.

Jika semua polanya serupa, lantas apa alasan logis bagi orang tua untuk memilih madrasah di tengah gempuran sekolah negeri yang gratis?

Keluar dari kolam persaingan yang sesak

Merujuk strategi pemasaran yang dipopulerkan oleh W. Chan Kim dan Renée Mauborgne (2005) melalui konsep Blue Ocean Strategy, lembaga yang sukses adalah mereka yang berani keluar dari persaingan berdarah-darah di pasar yang sudah sesak.

Madrasah yang hanya meniru jam belajar atau kalender akademik sekolah umum sebenarnya sedang bertarung di kolam yang sama, di mana fasilitas fisik biasanya menjadi satu-satunya alat ukur.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum menciptakan 'Samudra Biru'. Jika sekolah umum memangkas durasi belajar, madrasah justru harus masuk ke celah diferensiasi produk.

Maestro pemasaran Philip Kotler mendefinisikannya sebagai tindakan merancang perbedaan nyata dalam tawaran lembaga agar memiliki nilai tinggi di mata pelanggan.

Alih-alih sekadar memberi diskon jam pelajaran, madrasah bisa mendesain ulang kurikulumnya menjadi lebih spesifik dan solutif.

Misalnya, penguatan literasi Arab Pegon, pendalaman Kitab Kuning, atau target hafal 2 juz selama Ramadhan. Ini tak butuh effort lebih, sangat bisa dilakukan dengan memanfaatkan SDM madrasah.

Madrasah juga bisa masukkan program kreatif seperti pelatihan desain Canva Islami bertema Ramadhan. Kita tahu, Saat ini banyak orang tua pusing menghadapi anak yang adiktif terhadap gadget. Program ini bisa jembatan cerdas agar teknologi tetap produktif dan bernafas religi.

Madrasah juga bisa mengajarkan hal-hal detail yang sering luput, seperti etika bersalaman yang benar, hingga integrasi sains dan fikih, misalnya penjelasan medis mengenai siklus haid yang diselaraskan dengan hukum wajib mandi janabah.
 
Maka, durasi belajar bukan lagi soal angka jam yang dikurangi, melainkan kualitas kinerja (performance quality) yang ditawarkan.

Jebakan marketing semu

Kekeliruan lain yang sering muncul adalah kebijakan pakaian muslim selama Ramadhan. Kadang madrasah secara heroik mengumumkan 'siswa wajib berbusana muslim', padahal secara eksisting seragam madrasah memang sudah islami, allahu akbar!

Dalam pemasaran pendidikan, ini adalah langkah mubazir yang tidak memberikan nilai tambah. Memang kesannya no cost, tapi hasilnya juga cuma no impact.

Diferensiasi harus membangun keunggulan melalui layanan yang unik. Mengubah kebijakan pakaian tanpa meningkatkan kualitas program adalah pemborosan energi pemasaran.

Orang tua tidak butuh pengumuman seragam yang sudah mereka tahu, mereka butuh kepastian bahwa selama Ramadhan, anak mereka mendapatkan servis spiritual dan pembentukan attitude yang tidak didapatkan di sekolah umum.

Memahami niat ortu memilih sekolah

Mengapa pemasaran berbasis pembeda ini begitu krusial? Karena keputusan orang tua tidak muncul tiba-tiba. Mengacu pada Theory of Planned Behavior yang dikembangkan oleh Icek Ajzen (1991), niat seseorang untuk memilih sebuah layanan ditentukan oleh persepsi manfaat nyata yang mereka rasakan.

Jika citra (image) madrasah hanya dianggap sebagai versi alternatif sekolah negeri, maka nilai jualnya rendah.

Namun, jika madrasah mampu membangun citra sebagai lembaga yang punya reputasi mencetak generasi religius-modern melalui program Ramadhan yang otentik, maka secara otomatis niat orang tua untuk memilih madrasah akan meningkat.

Strategi ini adalah kunci untuk membangun posisi solid yang mampu menarik minat masyarakat tanpa harus "berdarah-darah" dalam promosi.

Muhasabah dari 'orang dalam'


Tulisan ini adalah sebuah muhasabah/refleksi agar menjadi perbaikan untuk kita semua. Kritik ini sama sekali tidak lahir dari rasa tidak suka. Justru sebaliknya, saya bagian dari madrasah, pernah 12 tahun memimpin salah satu Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Semarang, merasakan denyut nadi dan tantangan di dalamnya.

Menjadi pimpinan madrasah di era kompetisi tinggi memang menuntut keberanian untuk tampil beda. Menjadi pengikut (follower) memang minim risiko, namun menjadi pembeda (differentiator) adalah satu-satunya jalan agar madrasah tetap dilirik dan dicintai umat.

Ramadhan ini adalah momentum emas. Jika madrasah masih saja sibuk meniru pola sekolah umum, bahkan hingga urusan kebijakan seragam yang tidak substantif, maka jangan salahkan publik jika mereka memandang madrasah hanya sebagai pilihan kedua.

Saatnya berhenti mengekor arus. Mari mulai mendesain pemasaran yang bernilai, agar madrasah tidak lagi hanya jadi pelengkap, tapi menjadi penentu standar pendidikan masa depan.

Selamat berpuasa Ramadhan.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top