Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru untuk wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Foto Kemendikdasmen.
Kupang. EDUKASIA.ID – Pemerintah resmi memperluas akses pendidikan dokter spesialis di kawasan Indonesia timur.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru untuk wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali, Jumat, 13 Februari 2026.
Peluncuran ini menjadi bagian dari Program Akselerasi Pemenuhan dan Distribusi Tenaga Medis yang dilakukan secara serentak. Tiga perguruan tinggi menjadi pusat pengembangan, yakni Universitas Nusa Cendana, Universitas Udayana, dan Universitas Mataram.
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Togar Mangihut Simatupang, menegaskan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait kekurangan serta ketimpangan distribusi dokter spesialis dan subspesialis.
Ia menyebut, pemerintah memberikan perhatian khusus pada wilayah Indonesia bagian timur melalui kerja sama lintas sektor, termasuk dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, serta para pemangku kepentingan lainnya.
“Hingga saat ini Kemdiktisaintek telah mencapai target. Dengan dibukanya 160 Prodi baru yang terdiri dari 128 Prodi dokter spesialis dan 32 Prodi dokter subspesialis. Dengan demikian jumlah Prodi PPDS meningkat menjadi 526 Prodi dari sebelumnya 366 Prodi,” tutur Sesjen Togar.
Menurutnya, pembukaan PPDS di wilayah Indonesia timur dan 11 provinsi lainnya diharapkan menjadi solusi percepatan pemerataan layanan kesehatan nasional. Namun, hal itu membutuhkan kolaborasi kuat lintas institusi.
“Kami juga mengharapkan adanya kolaborasi yang lebih erat antara Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit milik pemerintah,” tambah Sesjen Kemditisintek.
Peluncuran program ini turut dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena. Ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran PPDS dan subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Bali–Nusa Tenggara yang dipusatkan di Universitas Nusa Cendana.
Emanuel menyoroti kondisi geografis NTT yang didominasi wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), sehingga kebutuhan dokter spesialis dinilai sangat mendesak, terutama spesialis anestesiologi serta obstetri-ginekologi.
“Program kehadiran pendidikan dokter spesialis dan subspesialis di wilayah Bali-Nusa Tenggara ini sangat strategis dan relevan untuk menjembatani akses anak-anak NTT terhadap pendidikan dokter spesialis dapat dilakukan dengan lebih baik,” tegas Gubernur Emanuel.
Ia juga memastikan dukungan pemerintah daerah, baik dari sisi pembiayaan maupun kebijakan, serta mendorong agar lulusan PPDS dapat kembali mengabdi di NTT demi menjamin layanan kesehatan spesialistik yang berkelanjutan.
Sementara itu, Rektor Universitas Nusa Cendana, Jefri S. Bale, menyebut kesehatan sebagai fondasi utama pembangunan daerah. Menurutnya, lahirnya dokter spesialis dari Undana diharapkan mampu memutus keterbatasan akses layanan kesehatan di NTT scara bertahap.
Ia juga menegaskan bahwa penguatan SDM kesehatan tidak berhenti pada PPDS.
“Kita harus memastikan bahwa kehadiran prodi spesialis ini, nantinya mampu menyentuh akar persoalan kesehatan di NTT baik fisik maupun psikologis hingga komunitas terkecil. Lebih jauh saya sampaikan bahwa visi Undana dalam memenuhi kebutuhan tenaga medis tidak berhenti di sini. Dalam waktu dekat, kami tengah mempersiapkan kehadiran program studi kedokteran gigi, dan juga program studi dokter gigi,” tegas Rektor Jefri Bale.



.png)



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.