Programnya Sih Sama Saja, Kenapa PSB Tutup Sehari?

Redaksi
0
Ilustrasi. Siswa madrasah bersiap pulang. Foto ist.
Oleh: HM. Miftahul Arief, Pemred EDUKASIA/ Kandidat Doktor Manajemen Pemasaran Pendidikan Islam

EDUKASIA.ID - Februari datang, musim SPMB dimulai. Sekolah dan Madrasah perang spanduk, feed Instagram rapi, live TikTok siang malam. Jargon seperti unggul, terpadu, atau jargon 'kecap nomer satu' lain kembali berseliweran.

Namun di tengah riuh, ada satu MI di Kota Semarang (salah satu locus riset disertasi saya) yang justru menutup pendaftaran hanya dalam satu hari. Pagi dibuka, sore ditutup. Kuota habis. Yang tersisa hanya daftar inden.

Menariknya, programnya biasa saja. Tahfidz ada. Mengaji ada. Shalat dhuha ada. Penguatan akhlak juga ada. Tak ada label internasional, embel-embel futuristik, atau lainnya.

Bahkan satu fakta lain yang mencolok, yakni biayanya relatif lebih tinggi dibanding sebagian MI swasta lain di sekitarnya.

Ya, mahal! Tapi orang tua tetap berebut.

Di sinilah poinnya. Yang dibeli bukan nama program, melainkan sistem.

Menurut saya (ini refleksi yang sedang saya sintesiskan dalam riset) pembeda utamanya ada pada totalitas eksekusi dan kedisiplinan. Program boleh sama, tetapi cara menjalankan bisa beda kelas.

Tahfidz di MI ini tidak berhenti pada simbolik. Target hafalan dirumuskan jelas per jenjang. Progres dicatat dan dilaporkan rutin ke orang tua. Guru tak sekedear menerima setoran ayat, tetapi memastikan kualitas bacaan dan konsistensi murojaah. Jika ada siswa tertinggal, ada pendampingan, bukan pembiaran atas nama 'yang penting nyaman'.

Disiplin juga ditegakkan konsisten. Jam masuk jelas. Agenda akademik berjalan sesuai kalender. Evaluasi berkala. Para PTK memulai dari diri sendiri sebelum menuntut siswa. Memang tidak mudah, tapi di situlah kultur dibentuk.

Sanya Mehta (2022) menjelaskan, pemasaran telah berevolusi dari sekadar orientasi produk menuju orientasi nilai dan kemanusiaan. Dalam konteks pendidikan, orang tua tidak lagi hanya membeli layanan, tetapi memilih komitmen dan integritas. Maka tahfidz di brosur saja tidak cukup. Yang dicari adalah konsistensi nyata.

Pemasaran pendidikan, menyitir Jane Hemsley-Brown dan Shivonne Goonawardana (2007), adalah soal positioning yang selaras dengan pengalaman. Jika mengklaim ‘madrasah disiplin dan bermutu’, maka itu harus terasa setiap hari. Positioning bukan slogan. Ia adalah pengalaman berulang yang konsisten.

Praktik lain yang sangat menentukan adalah penanganan masalah siswa. Jika terjadi persoalan, orang tua dipanggil dan dijelaskan kronologinya secara terbuka. Prinsipnya sederhana: jangan sampai orang tua mendengar dari pihak lain sebelum dari madrasah sendiri.

Secara manajerial, ini kontrol reputasi. Secara pemasaran, ini investasi trust.

Kotler, Kartajaya, dan Setiawan (2008) melalui konsep STV Triangle menjelaskan, pemasaran berkelanjutan harus mengintegrasikan Strategy, Tactic, dan Value. Pada level Strategy, MI ini jelas segmentasinya, yaitu orang tua urban kelas menengah yang ingin kualitas dengan kontrol yang tegas. Pada level Tactic, sistem dijalankan serius, bukan sekadar janji. Sedangkan pada level Value, kepercayaan dibangun lewat transparansi dan konsistensi.

Harga yang relatif mahal pun menjadi rasional, karena orang tua merasa sedang berinvestasi, bukan sekadar membayar.

PSB sehari tutup bukan soal keberuntungan. Itu akumulasi dari positioning yang jelas, sistem yang rapi, dan reputasi yang terjaga.

Sebagai praktisi yang pernah memimpin MI lebih dari satu dekade dan kini meneliti urban marketing secara akademik, saya makin yakin, di pasar pendidikan urban, yang dicari bukan lembaga paling berisik, tetapi paling kredibel.

Jika mutu, disiplin, dan transparansi berjalan dalam satu sistem yang utuh, promosi tidak perlu berteriak panjang-lebar. Publik yang akan mengetuk pintu (bahkan sebelum spanduk sempat dipasang).

Ini bukan satu-satunya rahasia sukses, masih ada rahasia lain tentunya. Akan saya post di kesempatan lain.

Selamat berkompetisi. Ma’an najah!

Daftar Baca
  • Jane Hemsley-Brown dan Shivonne Goonawardana, “Brand Harmonization in the International Higher Education Market,” Journal of Business Research 60, no. 9 (2007).
  • Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan, Rethinking Marketing: Sustainable Marketing Enterprise in Asia, 2nd ed. (Singapore: Pearson Education South Asia, 2008).
  • Sanya Mehta, “The Evolution of Marketing 1.0 to Marketing 5.0,” International Journal of Law Management & Humanities 5, no. 4 (2022).

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top