Tradisi Lebaran Picu Lonjakan Konsumsi, Pakar UNAIR Ingatkan Skala Prioritas

Redaksi
0
Ilustrasi belanja lebaran. FOto Pixabay.

EDUKASIA.ID - Masyarakat biasanya meningkatkan konsumsi menjelang Hari Raya Idulfitri. Berbagai kebutuhan dibeli untuk menyambut momen kebersamaan, mulai dari pakaian baru, kue kering, hingga perlengkapan mudik.

Tradisi halal bihalal, reuni, hingga silaturahmi keluarga besar juga membuat pengeluaran meningkat dibandingkan hari biasa.

Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Tika Widiastuti SE MSi menilai peningkatan konsumsi menjelang hari besar merupakan hal yang wajar. Menurutnya, masyarakat menjalankan berbagai aktivitas khas hari raya yang tidak terjadi pada hari-hari biasa.

Menurutnya, kegiatan seperti mudik, halal bihalal, hingga reuni keluarga membuat masyarakat mengeluarkan lebih banyak biaya. Kebutuhan yang meningkat biasanya terkait pakaian baru, kue kering, hingga berbagai suguhan untuk tamu.

“Konsumsi tidak selalu bersifat konsumtif. Kalau dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh tren, keinginan untuk meningkatkan status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan,” jelas Prof. Tika.

Ia juga menyoroti kesalahan finansial yang sering terjadi menjelang hari besar, yakni tidak memprioritaskan kebutuhan utama. Dalam praktiknya, masyarakat sering langsung memenuhi berbagai kebutuhan tanpa menyusun skala prioritas.

“Kalau di ekonomi Islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). Kesalahannya itu adalah cenderung pada pemenuhan atau pemuasan keinginan. Karena, yang disebut keinginan itu apabila dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan benefitnya,” imbuhnya.

Untuk menghindari pengeluaran berlebihan, Prof Tika menekankan pentingnya perencanaan keuangan sebelum Lebaran. Ia menyarankan masyarakat menyusun daftar kebutuhan wajib, seperti biaya transportasi mudik, makanan saat Lebaran, atau oleh-oleh untuk keluarga.

“Kalau kalian punya pemasukan tambahan, yang boleh dipakai hanya sekitar 70 persen untuk kebutuhan Lebaran. Sementara sisanya bisa disimpan untuk kebutuhan tidak terduga. Kalian bisa mulai dengan mencatat kebutuhan Lebaran apa saja, lalu pisahkan anggaran kebutuhan Lebaran dari rekening utama agar pengeluaran lebih terkontrol,” tegasnya.

Di akhir, Prof Tika mengingatkan bahwa makna Lebaran tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama.

“Rezeki yang kita miliki itu bukan hanya untuk diri kita sendiri. Sebagiannya adalah titipan yang bisa kita gunakan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan. Dengan begitu, perayaan Lebaran ini menjadi lebih bermakna dan berharga,” pesannya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)
aio

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top