ILUSTRASI. Santri menyalami kyainya, Foto ist.
Oleh: Muhammad Thohir (Kang Thohir), penulis asal Brebes, Jawa Tengah, yang aktif menulis puisi, cerpen, dan karya sastra lainnya.
EDUKASIA.ID - Bekal santri ketika terjun di masyarakat ada tiga, yaitu: 1) berakhlak mulia, 2) jujur (amanah), dan 3) memiliki ilmu yang bermanfaat untuk umat dan masyarakat.
Santri adalah panutan umat di masyarakat (pengayom). Maka dari itu, santri harus bersikap baik, memiliki sifat jujur atau amanah untuk mengemban amanah dan tanggung jawab ketika terjun di masyarakat. Sehingga harus bersikap jujur dalam apa yang disampaikannya ketika diberi amanah, sekecil apa pun dan seberat apa pun tanggung jawab kita di masyarakat.
Sedangkan ilmu itu untuk diajarkan atau disebarluaskan kepada umat dan masyarakat dari ilmu yang kita dapat ketika di pondok. Walaupun sedikit ilmu yang kita dapat, harus disampaikan.
Sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad SAW:
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
(HR Bukhari dan Muslim).
Meski sedikit ilmu yang kita sampaikan di masyarakat, yang penting kita bisa bermanfaat dan berkah bagi orang lain dan umat.
Ada istilah pepatah: "Biar ilmu sedikit asalkan terus-menerus (istiqamah), maka lama-kelamaan akan menjadi bukit." Atau "Istiqamah lebih baik dari seribu karamah."
Dan menjadi santri ketika dibutuhkan oleh masyarakat, jangan mengharapkan upah (imbalan) atau ingin dihormati, tetapi jadilah santri yang ikhlas dan tulus melayani umat dan masyarakat.
Berdakwah harus tulus apa adanya, seperti yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW melalui ajaran atau sifat-sifat beliau (tindak lakunya).
Kita harus meniru (mencontoh) akhlak Baginda Nabi SAW sebagai suri teladan yang baik ketika berdakwah di tengah masyarakat dan umat. Walau hanya setengah dari akhlak beliau, sekiranya itu yang bisa kita tiru.
Seperti dalam sabda Nabi Muhammad SAW riwayat Imam At-Tirmidzi. Rasulullah SAW bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
(HR At-Tirmidzi).
Dan sabda Nabi Muhammad SAW yang lainnya:
مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
(HR At-Tirmidzi).
إنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا
(HR Ahmad).
Dan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an (Surat Ali Imran ayat 110):
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ
Surat An-Nahl ayat 125:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
Dan dalam hadis riwayat Imam Ath-Thabrani:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Kita pun harus banyak belajar dan terus belajar untuk berbuat baik. Jangan sampai merasa lebih baik dari orang lain. Karena itu bukan sifat seorang santri yang baik, melainkan sifat yang tercela, tidak baik di masyarakat, dan tidak pantas menjadi contoh bagi masyarakat.
Kita harus berbuat baik meski dianggap buruk oleh orang lain, mungkin karena iri dengki atau merasa terusik oleh kehadiran kita.
Seperti dalam kutipan yang saya dapat dari sebuah artikel, beliau berkata:
"Hendaklah kamu tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu." — Lukman Hakim
Artinya, kita harus tetap berbuat baik walau sering dijelek-jelekkan atau disakiti oleh orang lain. Jangan berhenti menjadi orang baik kepada sesama dan jangan ada rasa dendam. Kita harus sabar, terus berusaha, dan memasrahkan diri kepada-Nya. Biarlah Allah yang akan membalasnya.
Tetap berlapang dada dan semangat membara untuk berdakwah kepada umat dan masyarakat.
Maka dari itu, tetap konsisten dalam berdakwah dan terus belajar menuntut ilmu guna memperbanyak ilmu supaya semakin bertambah, walaupun hanya sebentar. Karena pada dasarnya santri akan menjadi penerus kiai (ulama) dan penerus dakwah Nabi Muhammad SAW.
Pada hakikatnya, santri adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi penerus dari generasi ke generasi dalam sanad keilmuan, walau hanya sebagian orang yang benar-benar matang dan mantap.
Mbah Hasyim Asy'ari pernah dawuh:
"Barangsiapa yang datang ke Tebuireng dengan niat thalab al-'ilmi (mencari ilmu), meskipun hanya sebentar, maka ia sudah menjadi santriku."
Artinya, seseorang akan diangkat menjadi santri beliau apabila menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Kelak ia akan menjadi penerus sanad keilmuan beliau (Mbah Hasyim Asy'ari).
Karena beliau adalah salah satu mahaguru ulama Nusantara dan pencetak ulama-ulama besar di Nusantara.
Semoga kelak kita diakui sebagai santri Mbah Kiai Hasyim Asy'ari. Aamiin.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.