
Dr. Ahmad Bahauddin berfoto bersama rekan-rekan usai dinyatakan lulus dalam ujian terbuka promosi doktor di Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Kamis 11 Juni 2026. Foto: ist.
Semarang. EDUKASIA.ID - Siapa sangka, keisengan menulis deretan gelar pada nama ternyata bisa mengantarkan seseorang meraih apa yang ditulisnya.
Itulah yang dialami Ahmad Bahauddin, anak pasangan guru swasta asal Manna, Bengkulu Selatan yang baru saja menyandang gelar doktor dengan predikat Cumlaude dari UIN Walisongo Semarang pada Kamis, 11 Juni 2026.
Cerita unik ini bermula sekitar tahun 2004, saat Bahauddin tengah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Layaknya anak muda di pesantren, Bahauddin dan teman-temannya sering berkumpul sambil menuliskan cita-cita mereka di buku catatan.
Di tengah momen santai itu, salah seorang temannya dengan iseng menuliskan nama lengkap Ahmad dengan tambahan gelar mentereng di depannya: “Prof. Dr. Ahmad Bahauddin. AM”.
"Saat itu kami hanya tertawa dan menganggapnya sebagai gurauan khas para santri yang sedang bermimpi tentang masa depan," kenang Bahauddin.
Waktu itu, tidak ada satu pun dari mereka yang membayangkan bahwa tulisan iseng tersebut akan menjadi kenyataan. Namun bagi Bahauddin, gurauan itu rupanya menjelma menjadi doa yang terus hidup dan menemani perjalanan panjangnya di dunia akademik.
Meskipun berawal dari candaan, jalan yang ditempuh Bahauddin untuk mewujudkannya penuh dengan kerja keras. Tumbuh di keluarga sederhana, ia sadar betul pentingnya sebuah ketekunan.
Peluang besar akhirnya datang pada tahun 2022 ketika ia berhasil lolos Program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dari Kementerian Agama RI. Beasiswa ini mengantarkannya kuliah di Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, mengambil program Doktor Studi Islam dengan Konsentrasi Hukum Keluarga Islam.
Di sana, ia menyelesaikan disertasi ilmiah berjudul "Koeksistensi Hukum dan Harmoni Keluarga dalam Sistem Kewarisan Adat Semende". Proses ini diakuinya menguras energi dan penuh dengan tekanan akademik.
"Ada saat-saat lelah, ada masa-masa penuh tekanan. Tetapi setiap langkah selalu diiringi doa kedua orang tua, dukungan keluarga, bimbingan para dosen, serta semangat dari sahabat," ujarnya.
Tersisa Satu Kata: Profesor
Setelah berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan penguji, dosen UIN Raden Fatah Palembang ini resmi meraih gelar doktornya.
Bagi Bahauddin, capaian ini adalah hadiah untuk orang-orang yang telah mendukungnya, sekaligus menjadi awal dari tanggung jawab baru sebagai seorang akademisi.
"Gelar akademik bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mendidik generasi muda," tegasnya.
Menariknya, jika melihat kembali catatan tahun 2004 di Tambakberas, separuh dari tulisan iseng temannya kini sudah terwujud. Gelar doktor sudah di tangan dan profesi dosen sudah ia jalani.
Kini, Bahauddin tinggal menyimpan satu kata tersisa dari coretan masa lalu tersebut sebagai target dan doa berikutnya: Profesor.
Bahauddin berpesan kepada para santri dan generasi muda untuk tidak takut menuliskan impian mereka, sekecil apa pun itu.
"Jangan pernah meremehkan sebuah tulisan, sebuah doa, atau sebuah mimpi. Bisa jadi, apa yang hari ini hanya tertulis di selembar kertas, kelak menjadi kenyataan yang bahkan melampaui apa yang pernah kita bayangkan," pungkasnya.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.