Foto tangkap layar.
Semarang, EDUKASIA.ID – Lembaga Falakiyah PBNU mengumumkan awal bulan Muharram 1448 Hijriah setelah menggelar rukyatul hilal akhir Dzulhijjah 1447 H di berbagai daerah pada Senin 15 Juni 2026.
Pemantauan dilakukan di 21 titik yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Lokasi tersebut melibatkan lembaga falakiyah NU, pesantren, hingga perguruan tinggi yang selama ini aktif mengembangkan kajian ilmu falak.
Seluruh lokasi yang melaporkan hasil rukyat menyatakan tidak berhasil melihat hilal.
Kondisi cuaca di lapangan bervariasi. Ada lokasi yang melaporkan cuaca cerah sempurna, sebagian berawan, berkabut, hingga mendung yang menutupi ufuk barat.
"Awal bulan Muharram 1448 H bertepatan dengan Rabu Kliwon 17 Juni 2026 M (mulai malam Rabu) atas dasar istikmal," demikian pengumuman Lembaga Falakiyah PBNU Nomor 146/PB.08/A.II.11.13/13/06/2026.
Penetapan melalui istikmal dilakukan karena tidak ada satu pun laporan yang menyatakan berhasil melihat hilal.
Dalam rekapitulasi yang diterbitkan PBNU, kolom laporan melihat hilal tercatat nihil.
Sejumlah titik rukyat berada di lingkungan pendidikan dan pesantren.
Di antaranya Lantai 5 GSG Ma'had Aly TBS Kudus yang bekerja sama dengan Lembaga Falakiyah PCNU Kudus.
Ada pula Observatorium Jokotole UIN Madura yang menjadi salah satu lokasi pemantauan di Jawa Timur.
Di Aceh, rukyat dilaksanakan di Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang Lhoknga dan Observatorium Malikussaleh Kampus UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Sementara itu, sejumlah pesantren juga terlibat dalam observasi hilal, seperti Pondok Pesantren An-Nuriyyah, Pondok Pesantren Al-Falah Jakarta Barat, Pondok Pesantren Al-Islam Joresan, hingga Pondok Pesantren Mambaus Sholihin.
Bagi kalangan pendidikan falak, kegiatan rukyatul hilal merupakan laboratorium lapangan yang berlangsung secara nyata.
Santri dan mahasiswa tidak hanya mempelajari teori hisab-rukyat di ruang kelas, tetapi juga mengamati langsung proses observasi benda langit yang menjadi dasar penentuan kalender hijriah.
Hasil rukyat kali ini juga menunjukkan bahwa cuaca yang cerah belum tentu membuat hilal dapat diamati.
Selain faktor atmosfer, keberhasilan rukyat juga dipengaruhi posisi astronomis bulan saat pengamatan dilakukan.
Lembaga Falakiyah PBNU menyampaikan apresiasi kepada seluruh nahdliyin yang berpartisipasi dalam pelaksanaan rukyatul hilal.
Jajaran Lembaga Falakiyah PWNU dan PCNU se-Indonesia juga diminta aktif menyebarluaskan informasi penetapan awal Muharram 1448 H kepada masyarakat dan warga Nahdlatul Ulama di daerah masing-masing.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.