Menemukan Oase Ketenangan Batin di Kuliah Subuh TPQ Sunan Kalijaga

Redaksi
0
Jamaah mengikuti Kuliah Subuh di TPQ Sunan Kalijaga, Buntaran, Rejotangan, Tulungagung, setiap Ahad pagi sebagai ruang memperdalam ilmu agama sekaligus merawat ketenangan batin. Foto M. Ni'am Masrukhil Hadi.

Oleh: M. Ni'am Masrukhil Hadi, Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

EDUKASIA.ID - Bagi sebagian orang, hari Minggu identik dengan waktu untuk beristirahat setelah menjalani rutinitas yang padat selama sepekan. Ada yang memilih memperpanjang waktu tidur, ada pula yang menghabiskan pagi dengan menelusuri media sosial. Namun, tidak semua bentuk istirahat mampu menghadirkan ketenangan batin. Di tengah derasnya arus informasi digital, pikiran justru kerap dipenuhi berbagai distraksi yang membuat hati semakin penat.

Di sudut Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, terdapat cara sederhana untuk mengawali hari dengan lebih bermakna. Setiap Ahad selepas Subuh, TPQ Sunan Kalijaga menjadi tempat berkumpulnya warga yang ingin memperkaya ilmu agama sekaligus menenangkan jiwa melalui zikir dan kajian keislaman.

Udara pagi yang masih sejuk menyambut langkah para jamaah menuju pendopo TPQ. Tanpa hiruk pikuk, mereka duduk bersaf, melantunkan zikir, menyimak ayat-ayat suci Al-Qur'an, lalu mendengarkan kajian yang disampaikan dengan suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Di tengah kesunyian pagi, majelis ilmu itu menghadirkan ruang jeda dari rutinitas yang selama ini menyita perhatian.

Barangkali, inilah bentuk detoks digital yang sesungguhnya. Selama mengikuti kajian, perhatian tidak lagi tersita oleh notifikasi telepon genggam ataupun derasnya informasi yang berseliweran di media sosial. Pikiran diajak kembali fokus pada diri sendiri, memperbaiki hubungan dengan Allah Swt., sekaligus merenungkan perjalanan hidup yang sering kali terlupakan di tengah kesibukan.

Yang menarik, mayoritas jamaah justru berasal dari kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu. Mereka hadir hampir setiap Ahad dengan semangat yang tidak surut. Konsistensi itu menjadi pengingat bahwa belajar agama bukanlah aktivitas yang mengenal batas usia. Menuntut ilmu merupakan perjalanan sepanjang hayat yang selalu layak diperjuangkan.

Semangat para jamaah juga menghadirkan pelajaran sederhana. Bangun lebih awal ketika banyak orang masih menikmati waktu libur ternyata bukan sekadar soal disiplin, melainkan latihan untuk mengalahkan rasa malas dan memberi ruang bagi kebutuhan ruhani. Dari majelis seperti inilah seseorang dapat mengawali hari dengan hati yang lebih lapang sebelum kembali menghadapi berbagai aktivitas duniawi.

Sering kali kita menganggap ketenangan harus dicari melalui perjalanan jauh, suasana pegunungan, atau liburan yang menghabiskan biaya tidak sedikit. Padahal, kedamaian bisa hadir begitu dekat, melalui majelis ilmu yang rutin diselenggarakan di lingkungan sekitar. Tidak ada kemewahan, tetapi ada kehangatan, kebersamaan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kuliah Subuh di TPQ Sunan Kalijaga menjadi contoh bahwa kegiatan keagamaan di tingkat lokal tidak hanya berfungsi sebagai sarana menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat kesehatan batin. Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan bising, majelis ilmu seperti ini layak dipertahankan sebagai oase yang menyegarkan hati sekaligus mempererat ikatan sosial masyarakat.

Mungkin, sebelum kembali disibukkan dengan agenda hari Senin dan rutinitas sepanjang pekan, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah akhir pekan ini digunakan untuk memberi asupan bagi jiwa, sebagaimana kita memenuhi kebutuhan raga setiap hari?

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top