Teliti Toleransi Mahasiswa NU dan Muhammadiyah, Muwahidah Raih Gelar Doktor

Redaksi
0
Teliti toleransi mahasiswa NU dan Muhammadiyah, dosen STIT Muhammadiyah Ngawi Muwahidah Nurhasanah meraih gelar Doktor UIN Walisongo dengan predikat cumlaude. Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID – Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Ngawi, Muwahidah Nurhasanah, resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Kamis 23 Juli 2026.

Muwahidah dinyatakan lulus dengan predikat cum laude dan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,83. Ia tercatat sebagai Doktor ke-448 UIN Walisongo, dari Prodi Studi Islam konsentrasi Pendidikan Islam.

Dalam disertasinya, Muwahidah mengangkat tema "Pengaruh Afiliasi Organisasi Keagamaan terhadap Toleransi Intern Beragama: Analisis Kontrol Keimanan, Ibadah, Interaksi dengan Kelompok Lain dan Konformitas (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Wahid Hasyim dan Universitas Muhammadiyah Semarang)."

Penelitian tersebut berangkat dari anggapan bahwa latar belakang organisasi keagamaan kerap memengaruhi cara pandang seseorang terhadap kelompok lain. Namun, hasil riset justru menunjukkan bahwa afiliasi organisasi keagamaan bukan faktor yang menentukan tingkat toleransi intern beragama mahasiswa.

Riset yang melibatkan 348 mahasiswa Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) dan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) itu menemukan bahwa mahasiswa dari kedua kampus memiliki tingkat toleransi yang relatif setara. Perbedaan afiliasi organisasi keagamaan tidak terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap sikap toleransi setelah dianalisis menggunakan pendekatan statistik.

Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa kualitas keimanan, pelaksanaan ibadah, serta intensitas interaksi dengan kelompok lain justru menjadi faktor yang lebih berpengaruh dalam membangun sikap toleran di kalangan mahasiswa.

Berdasarkan temuan tersebut, Muwahidah mengembangkan Model Penguatan Toleransi Intern Beragama Berbasis Kapasitas Religius Internal. Model ini menempatkan keimanan sebagai fondasi, ibadah sebagai proses internalisasi nilai, dan interaksi sosial sebagai ruang untuk mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, afiliasi organisasi keagamaan dipandang hanya sebagai konteks sosial, bukan penentu utama perilaku toleran.

Penelitian ini juga merekomendasikan agar perguruan tinggi memperkuat pendidikan moderasi beragama melalui peningkatan literasi keagamaan, pemahaman fikih ikhtilaf, penguatan budaya akademik yang inklusif, pengembangan empati, literasi digital, serta keteladanan dari sivitas akademika.

Ujian promosi doktor dipimpin Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. selaku ketua sidang. Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed., St., Prof. Dr. Eva Latifah, S.Ag., S.Psi., M.Psi. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H. Abdurrahman, M.Ag., Dr. Agus Sutiyono, M.Ag., M.Pd., serta Dr. H. Ismail, M.Ag.

Adapun promotor disertasi adalah Prof. Dr. H. Ibnu Hadjar, M.Ed., dengan ko-promotor Prof. Dr. Hj. Fihris, M.Ag. Sidang tersebut sekaligus mengukuhkan Muwahidah sebagai Doktor ke-448 yang diluluskan UIN Walisongo Semarang.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top