
Tim Riset MoRA UIN Walisongo menggelar Workshop Penulisan Buku Cerita Anak berbasis moderasi beragama untuk memperkuat literasi spiritual keluarga melalui budaya read aloud. Foto Ist.
Semarang, EDUKASIA.ID – Tim Riset MoRA (Ministry of Religious Affairs Research Grant) UIN Walisongo Semarang mengembangkan buku cerita anak berbasis nilai moderasi beragama sebagai media literasi spiritual keluarga.
Inovasi tersebut dihadirkan melalui budaya read aloud atau membacakan cerita kepada anak sebagai upaya menguatkan peran ayah dalam pendidikan karakter sejak usia dini.
Program itu merupakan bagian dari penelitian berjudul Transformasi Moderasi Beragama Berbasis Keluarga: Revitalisasi Peran Ayah sebagai Agen Literasi Spiritual melalui Kegiatan Read Aloud Anak Usia Dini.
Penelitian dipimpin Prof. Dr. Moh. Erfan Soebahar, M.Ag. bersama Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag., Azizaturrahma, S.S., M.A., Chyndy Febrindasari, M.A., Arief Darmawan, M.Pd., dan Fajar Aditya, M.M.
Salah satu tahapan penelitian diwujudkan melalui Workshop Penulisan Buku Cerita Anak Berbasis Nilai Moderasi Beragama yang digelar di The Azana Hotel Airport Semarang.
Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Moh. Erfan Soebahar, M.Ag., mengatakan keluarga merupakan ruang pertama dan utama dalam menanamkan nilai keagamaan, kemanusiaan, serta kebangsaan kepada anak.
Menurutnya, peran ayah tidak berhenti sebagai pencari nafkah, tetapi juga memiliki tanggung jawab membangun kedekatan emosional dengan anak.
"Ayah tidak hanya berfungsi sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang menginspirasi, membimbing, serta membangun kedekatan emosional dengan anak melalui aktivitas sederhana seperti membacakan buku cerita," ujar Prof. Erfan ddkfm keterangannya, Rabu 29 Juli 2026.
Ia menjelaskan, kegiatan read aloud menjadi cara yang sederhana namun efektif untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak.
Anggota tim peneliti, Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag., menilai fungsi pendidikan keluarga saat ini semakin banyak bergeser kepada sekolah, lembaga penitipan anak, maupun gawai. Kondisi tersebut membuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan semakin berkurang.
"Karena itu penelitian ini berupaya menghadirkan model yang praktis dan mudah diterapkan keluarga, yaitu menjadikan kegiatan read aloud sebagai media penanaman nilai moderasi beragama sekaligus mempererat hubungan antara ayah dan anak," kata Prof. Fatah.
Workshop menghadirkan penulis buku anak Dwi Astutik sebagai narasumber utama. Ia membimbing peserta menyusun picturebook atau buku cerita bergambar yang dirancang sesuai tahap perkembangan anak.
Menurut Dwi, picturebook bukan sekadar buku yang dilengkapi ilustrasi.
"Picturebook merupakan karya sastra anak yang memadukan teks dan gambar untuk membangun makna secara utuh. Dalam jenis buku ini, ilustrasi memegang peran dominan, sedangkan teks hadir secara ringkas untuk memperkuat cerita," jelasnya.
Ia menambahkan, penulis buku anak juga harus memahami karakteristik pembaca sesuai jenjang usia. Mulai dari pemilihan kosakata, panjang kalimat, jumlah halaman, hingga tingkat kompleksitas cerita perlu disesuaikan dengan kemampuan membaca anak.
Dwi juga menguraikan proses kreatif penyusunan buku cerita anak dimulai dari menemukan ide, melakukan riset, menyusun konsep cerita, menentukan tokoh, konflik, dan penyelesaian, kemudian dituangkan dalam storyboard sebelum masuk ke tahap ilustrasi.
"Dengan proses tersebut, cerita yang dihasilkan tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki dasar pengetahuan yang kuat dan sesuai perkembangan psikologis anak," tuturnya.
Dalam workshop tersebut, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung mempraktikkan penyusunan konsep cerita.
Mereka membuat sinopsis, merancang karakter, menentukan nilai moderasi beragama yang akan disampaikan, hingga menyusun storyboard sebagai rancangan visual buku.
Buku-buku yang dikembangkan mengangkat tema toleransi, kasih sayang, penghormatan terhadap keberagaman, kerja sama, tanggung jawab, serta penyelesaian konflik secara damai.
Seluruh nilai tersebut dikemas melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak sehingga mudah dipahami tanpa terkesan menggurui.
Melalui riset ini, Tim Riset MoRA UIN Walisongo berharap lahir model literasi keluarga yang dapat diterapkan secara luas di Indonesia. Dengan menghidupkan kembali budaya membaca bersama, keluarga diharapkan menjadi ruang pertama yang melahirkan generasi religius, moderat, cinta damai, dan menghargai keberagaman sejak usia dini.






Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.