5 Pahlawan Nasional Asal Papua dan Perjuangannya

Arifah
0

Frans Kaisiepo. Foto: KPU Kab Nduga.

EDUKASIA.ID - Bulan Agustus menjadi momentum untuk mengenang kembali jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk Indonesia.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga datang dari berbagai daerah, termasuk Papua.

Sejumlah tokoh asal Papua bahkan turut berperan dalam memperjuangkan persatuan dan keutuhan Indonesia. Mereka berjuang melalui pergerakan politik, perjuangan bersenjata hingga jalur diplomasi.

Dikutip dari berbagai catatan sejarah, berikut lima tokoh asal Papua yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

1. Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, pada 10 Oktober 1921. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan penyatuan Papua dengan Indonesia.

Sejak muda, Frans aktif dalam pergerakan nasional. Pada 1946, ia ikut dalam Konferensi Malino dan mewakili Papua dalam pembahasan pembentukan Republik Indonesia Serikat.

Dalam konferensi tersebut, Frans mengusulkan penggunaan nama "Irian". Istilah yang berasal dari bahasa Biak itu berarti "tanah yang beruap" atau "tanah yang hangat".

Frans juga dikenal sebagai tokoh yang mengibarkan Merah Putih di tanah Papua. Ia wafat pada 10 April 1979.

Atas perjuangannya, Frans Kaisiepo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1993. Namanya kemudian diabadikan menjadi Bandara Frans Kaisiepo di Biak dan KRI Frans Kaisiepo (368).

Wajah Frans Kaisiepo juga pernah menghiasi uang kertas pecahan Rp 10.000 tahun emisi 2016.

2. Marthen Indey

Marthen Indey lahir di Doromena, Papua, pada 14 Maret 1912. Ia merupakan salah satu pejuang Papua yang berani menentang pemerintahan kolonial Belanda.

Marthen awalnya bekerja sebagai polisi pada masa pemerintahan Belanda. Namun, pada 1945 ia berbalik melawan penjajahan dan memimpin perlawanan.

Perjuangan tersebut dilakukan untuk menolak upaya Belanda memisahkan Irian Barat dari Indonesia. Akibat aktivitasnya, Marthen beberapa kali ditangkap dan dipenjara.

Setelah Indonesia merdeka, ia tetap aktif dalam perjuangan politik. Marthen kemudian dipercaya menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Marthen Indey wafat pada 17 Juli 1986. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 077/TK/1993 pada 14 September 1993.

3. Johannes Abraham Dimara

Johannes Abraham Dimara lahir di Korem, Biak Utara, pada 16 April 1916. Ia dikenal sebagai perwira TNI yang ikut memperjuangkan integrasi Irian Barat ke Indonesia.

Pada 1946, Johannes turut mengibarkan bendera Merah Putih di Namlea, Pulau Buru. Ia kemudian memimpin Organisasi Pemberantasan Irian Barat (OPI) pada 1950.

Gerakan tersebut bertujuan membebaskan Irian Barat dari kekuasaan Belanda. Perjuangannya membuat Johannes ditangkap dan ditahan oleh pasukan Belanda.

Setelah bebas, ia kembali aktif dalam perjuangan, baik melalui jalur diplomasi maupun militer. Perjuangan tersebut terus dilakukan hingga Irian Barat resmi menjadi bagian dari Indonesia.

Johannes Abraham Dimara wafat pada 20 Oktober 2000. Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 2011.

4. Silas Papare

Silas Papare lahir di Serui pada 18 Desember 1918. Ia dikenal sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan penyatuan Irian Barat dengan Republik Indonesia.

Pada Oktober 1949, Silas mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta. Organisasi tersebut menjadi salah satu upayanya membantu perjuangan Indonesia dalam menghadapi persoalan status Irian Barat.

Silas juga dipercaya Presiden Soekarno menjadi salah satu delegasi Papua dalam Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962.

Perjanjian tersebut menjadi salah satu dasar penyelesaian persoalan Irian Barat hingga wilayah tersebut kemudian menjadi bagian dari Indonesia.

Silas Papare wafat pada 7 Maret 1979. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 077/TK/1993 pada 14 September 1993.

Namanya kini diabadikan sebagai nama KRI Silas Papare (386).

5. Machmud Singgirei Rumagesan

Machmud Singgirei Rumagesan lahir di Kokas, Fakfak, pada 27 Desember 1885. Ia merupakan tokoh adat sekaligus pemimpin politik yang ikut memperjuangkan persatuan Indonesia.

Pada usia muda, Machmud telah menjadi Raja Sekar dengan gelar Raja Al Alam Ugar Sekar.

Sebagai pemimpin lokal, ia menentang dominasi kolonial dan memperjuangkan persatuan. Pada 1953, Machmud memimpin Gerakan Tjendrawasih Revolusioner Irian Barat (GTRIB) dan Organisasi Pemuda Cendrawasih Muda.

Karena aktivitas perjuangannya, Machmud beberapa kali ditangkap Belanda.

Setelah bebas, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1959-1965.

Machmud Singgirei Rumagesan wafat pada 5 Juli 1964. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2020 melalui Keputusan Presiden Nomor 117/TK/2020.

Kelima tokoh tersebut menunjukkan bahwa perjuangan untuk Indonesia juga datang dari tanah Papua. Mereka mengambil peran melalui berbagai jalan, mulai dari perlawanan, organisasi, politik hingga diplomasi.

Itulah lima Pahlawan Nasional asal Papua yang kisah perjuangannya patut dikenang. 

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top