Forum IGIC 2026, Rektor UIN SATU Tawarkan Reposisi Masjid sebagai Pusat Peradaban

Moh. Miftahul Arief
0
Rektor UIN SATU mengenalkan model pemberdayaan masjid kampus, termasuk program TPQ Dewasa, dalam seminar menuju IGIC 2026 di Surabaya. Foto ist.

Surabaya. EDUKASIA.ID – Rektor Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I., menawarkan gagasan reposisi masjid sebagai pusat peradaban sekaligus memperkenalkan model pemberdayaan masjid kampus dalam Seminar Nasional bertema Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu 2 Juli 2026.

Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, forum pra-acara menuju konferensi internasional para imam masjid yang akan digelar pada September mendatang.

Kegiatan diikuti sekitar 1.000 mahasiswa dari tujuh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Jawa Timur. Seminar berlangsung beriringan dengan Istighatsah dan Tabligh Akbar yang dipimpin Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Dalam paparannya bertajuk Reposisi Masjid dalam Arsitektur Diplomasi Religi: Perspektif Intelektual Islam bagi Perdamaian Dunia, Prof. Abd. Aziz menilai fungsi masjid selama ini kerap diposisikan secara reduksionis, yakni sebatas ruang ritual peribadatan.

Padahal, menurutnya, tradisi intelektual Islam menunjukkan bahwa sejak berdirinya Masjid Nabawi di Madinah, masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas.

Ia menjelaskan, masjid berperan sebagai dar al-hikmah atau ruang pengetahuan, dar al-qadha sebagai ruang penyelesaian sengketa, dan dar al-siyasah sebagai ruang musyawarah kebijakan publik.

Ketiga fungsi genealogis tersebut, kata dia, perlu dihidupkan kembali agar masjid mampu berperan dalam arsitektur diplomasi keagamaan global sekaligus menjawab tantangan geopolitik dan fragmentasi identitas sosial yang dihadapi dunia saat ini.

Prof. Abd. Aziz juga menegaskan bahwa kekuatan diplomasi masjid tidak bertumpu pada bangunan fisiknya.

"Daya diplomatik masjid tidak lahir dari bangunan fisiknya semata, melainkan dari otoritas keilmuan (sanad al-'ilmi) para imam dan ulama yang mengelolanya," ujarnya.

Menurutnya, legitimasi moral dan keilmuan itulah yang membedakan diplomasi berbasis masjid dengan diplomasi yang bertumpu pada kekuasaan.
Model Pemberdayaan Masjid Kampus

Gagasan tersebut, lanjut Prof. Abd. Aziz, tidak berhenti pada tataran konseptual. UIN SATU Tulungagung telah menerjemahkannya melalui berbagai program pemberdayaan masjid yang melibatkan dosen dan mahasiswa.

Ia menjelaskan, kampus memfokuskan pengabdian masyarakat pada penguatan masjid, musala, dan majelis taklim di lingkungan sekitar. Program tersebut dijalankan melalui kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen maupun Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan ialah Taman Pendidikan Al-Qur'an Dewasa (TPQ-D), yaitu program pembelajaran baca tulis Al-Qur'an bagi warga lanjut usia.

Program tersebut lahir dari kesadaran bahwa layanan pendidikan Al-Qur'an selama ini lebih banyak menyasar anak-anak dan remaja. Sementara itu, kelompok lanjut usia yang belum memperoleh kesempatan belajar pada masa mudanya kerap belum terlayani.

Melalui model tersebut, UIN SATU menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam dapat menjadi motor penggerak revitalisasi fungsi masjid. Tidak hanya pada level wacana diplomasi global, tetapi juga melalui pemberdayaan masyarakat yang nyata dan menjangkau kelompok yang selama ini kurang mendapat perhatian.
 

Tiga Rekomendasi


Berangkat dari pengalaman tersebut, Prof. Abd. Aziz menawarkan tiga rekomendasi untuk memperkuat posisi masjid dalam arsitektur diplomasi religi.

Pertama, memperkuat jejaring otoritas keilmuan ulama lintas negara (ulama' diplomacy network).

Kedua, merevitalisasi fungsi masjid sebagai ruang musyawarah dan penyelesaian persoalan bersama dengan merujuk pada preseden Piagam Madinah.

Ketiga, memperkuat fungsi strategis masjid sebagai pusat dialog antariman, simpul respons kemanusiaan, dan wahana edukasi wasathiyah melalui pemberdayaan generasi muda sebagai peace ambassadors.

"Reposisi masjid bukanlah agenda modernisasi yang tercerabut dari akar tradisinya, melainkan upaya mengembalikan masjid pada khittah genealogisnya sebagai dar al-hikmah wa al-hadharah—ruang kebijaksanaan dan peradaban," tegasnya di hadapan sekitar seribu mahasiswa PTKIN se-Jawa Timur.

Kehadiran Rektor UIN SATU melengkapi jajaran narasumber dan tokoh yang terlibat dalam rangkaian Bridging to IGIC 2026. Hadir pula Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua SC IGIC 2026 Irjen Pol. Dr. M. Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.Si., serta Ketua Panitia IGIC 2026 H. Faried F. Saenong, Ph.D.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi langkah awal menuju penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang akan mempertemukan para imam masjid dari berbagai negara pada September mendatang.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top