Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana, Rektor UIN Walisongo Tekankan Kualitas Layanan

Moh. Miftahul Arief
0
Peserta Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana UIN Walisongo Semarang bersama jajaran pimpinan Pascasarjana berfoto bersama, di Ruang Teater Gedung Rektorat UIN Walisongo, Jumat 28 Agustus 2026. Foto Arief.

Semarang. EDUKASIA.ID - Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., menegaskan pentingnya peningkatan kualitas layanan akademik, ia meminta pengelola Pascasarjana memastikan mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu.

Hal itu disampaikan Prof. Musahadi saat memberikan arahan pada 203 mahasiswa baru jenjang Magister (S2) dan Doktor (S3) dalam Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 di Ruang Teater, Gedung Rektorat UIN walisongo, Jumat 28 Agustus 2026.

Prof. Musahadi meminta jajaran Pascasarjana tidak hanya menjalankan layanan administratif, tetapi juga mengawal mahasiswa sejak awal agar proses pendidikan mereka terprogram dengan baik.

"Saya minta kepada Pak Direktur, Pak Wakil Direktur, Pak Kaprodi, untuk betul-betul mengawal penyelesaian studi itu bisa tepat waktu. Kita buatkan skema-skema program yang dengan baik supaya mereka itu terprogramkan,” imbuhnya.

Ia juga menekankan pentingnya respons cepat dari pegawai dan dosen ketika berkomunikasi dengan mahasiswa. Menurutnya, kualitas pelayanan menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran studi mahasiswa pascasarjana.

“Saya sering ingatkan adalah selalu fast respon," tegas Rektor.

Selain persoalan layanan, Prof. Musahadi meminta mahasiswa pascasarjana meningkatkan level berpikirnya. Menurutnya, mahasiswa S2 dan S3 tidak cukup hanya menguasai pengetahuan aktual, tetapi harus mampu berpikir pada level filosofis dan metodologis.

"Visi kita itu menjadi universitas riset. Universitas Islam riset ke depan berbasis pada kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban pada tahun 2028," ujar Prof. Musahadi.

Ia menjelaskan, visi UIN Walisongo sebagai universitas riset harus tercermin dalam proses pendidikan pascasarjana. Karena itu, mahasiswa S2 dan S3 perlu memiliki cara berpikir dan kompetensi sesuai dengan level Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

"Aspek filosofis (mabda’) dan metodologis (manhaj) jauh lebih ditekankan daripada sekadar pengetahuan aktual (akwal)," jelasnya.

Mahasiswa Pascasarjana sebagai “Batu Akik”


Pesan mengenai kualitas mahasiswa kemudian diperkuat Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag. Ia menganalogikan peran pengelola Pascasarjana seperti "tukang akik" yang bertugas memoles potensi mahasiswa hingga menjadi ilmuwan yang bersinar.

"Saya mengingatkan diri saya sendiri. Tukang akik. Bapak Ibu setiap kepala adalah batu akik yang akan kami produksi. Bagaimana agar akik itu mengkilap? Nah, maka harus kami gosok, kami gerinda, kami pecah agar nanti mengkilap dan bisa aduhai dilihat orang lain," seloroh Prof. Muhyar disambut tawa hadirin.

Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag. Foto Arief.

Analogi tersebut menggambarkan proses pembentukan mahasiswa pascasarjana yang tidak berhenti pada penguasaan materi. Prof. Muhyar mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir dari tingkat retorika (khattabi) dan dialektika (jadali) menuju tingkat kemampuan mencipta (burhan).

Ia juga mengingatkan lima sikap ilmiah yang perlu dimiliki mahasiswa pascasarjana, yaitu rasa ingin tahu (curiosity), spekulatif (speculativeness), terbuka, menunda kesimpulan, dan bersifat sementara (tentatif).

AI Boleh Digunakan, tetapi Bukan Pengganti Pikiran


Perkembangan teknologi juga menjadi bagian dari pesan Direktur Pascasarjana. Prof. Muhyar memperbolehkan mahasiswa menggunakan Artificial Intelligence (AI), dengan syarat tetap berpikir kritis, menjaga kejujuran akademik (kepemilikan bersama), dan adil.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan teknologi sebagai pengganti proses berpikir.

"AI hanyalah alat, bukan tujuan Bapak Ibu dalam belajar. AI sama dengan kertas dan pena. Bapak Ibu tidak akan pintar jika tangan Bapak Ibu terus menulis, sementara pikiran Bapak Ibu tidak pernah berpikir. Bangunlah konsepsi mu sendiri tentang segalanya," pesan Prof. Muhyar.

Dalam aspek teknis perkuliahan, Direktur Pascasarjana juga menjelaskan proporsi pembelajaran daring dan tatap muka. Sesuai regulasi, kuliah daring (online) dibatasi maksimal 40 persen, sedangkan 60 persen sisanya wajib dilaksanakan secara tatap muka (offline).

Bagi mahasiswa yang berasal dari luar pulau, fleksibilitas kehadiran fisik dapat diatur bersama dosen pengampu menggunakan skema analogi fikih seperti "jamak takdim" atau "jamak takhir" di awal atau akhir semester.

Prof Muhyar juga menegaskan, agar mahasiswa pascasarjana tak ragu-ragu untuk bertanya segala hal padanya dan jajaran. Dirinya memahami banyak mahasiswa pasca yang berasal dari luar kota, dan tak ingin mengecawaknnya.

"Dari pagi habis subuh ingin ketemu direkturnya, ternyata pintunya tutup, saya tidak ingin. Sepanjang ada di kantor, ruangan saya buka. Siapapun boleh masuk, termasuk penghuni tetap gedung pascasarjana, yaitu kucing yang jumlahnya tidak berhingga," pungkasnya disertai tawa hadirin.

203 Mahasiswa dari 11 Program Studi


Sementara itu, Ketua Panitia, Dr. Alis Asikin, dalam laporan akademiknya menyampaikan bahwa sebanyak 203 mahasiswa diterima pada semester gasal tahun akademik 2026/2027.

Dari jumlah tersebut, 76 mahasiswa berada di jenjang S3 (Doktor), sedangkan 127 mahasiswa menempuh jenjang S2 (Magister).

Rinciannya, S3 Studi Islam sebanyak 60 mahasiswa, S3 PAI 16 mahasiswa, S2 PBA 13 mahasiswa, S2 PAI 26 mahasiswa, S2 MPI 19 mahasiswa, S2 KPI 13 mahasiswa, S2 PAUD 12 mahasiswa, S2 IAT 9 mahasiswa, S2 IAI 21 mahasiswa, S2 Hukum 7 mahasiswa, dan S2 Ekonomi Islam 7 mahasiswa.

Selama orientasi, mahasiswa juga dibekali lima materi utama, yakni Sistem Informasi Akademik, Sistem Layanan Perpustakaan, Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI), Pengenalan Plagiarism Checker & Etika AI, serta Orientasi Program Studi.

Kegiatan orientasi tersebut menjadi tahap awal bagi 203 mahasiswa baru Pascasarjana UIN Walisongo untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus memahami tuntutan studi di jenjang magister dan doktor.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top