Aktivitas belajar anak-anak Muslim di salah satu lembaga pendidikan di Thailand Selatan. Foto ist
Oleh: Dr. Nasirudin, Kaprodi S2 PAI UIN Walisongo
EDUKASIA.ID – Lima hari berada di Thailand Selatan, khususnya di kawasan Yala, atau yang oleh masyarakat lokal disebut Jala, memberi saya kesempatan untuk melihat langsung bagaimana pendidikan anak-anak Muslim dijalankan.
Dari sejumlah wawancara yang saya lakukan, terlihat bahwa masyarakat Muslim di kawasan ini menghadapi tantangan yang khas. Pendidikan anak harus berjalan di antara tuntutan sistem pendidikan negara dan kewajiban memperdalam ilmu agama.
Di satu sisi, terdapat kewajiban mengikuti pendidikan yang ditetapkan Kerajaan Thailand bagi anak usia 6 hingga 15 tahun, atau jenjang yang setara SD hingga SMP.
Di sisi lain, tradisi tafaqquh fiddin, yakni pendalaman ilmu agama, telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Muslim di Thailand Selatan. Tradisi tersebut berkaitan erat dengan sejarah Kesultanan Patani sejak abad ke-15.
Keduanya kemudian dijalankan melalui pembagian waktu yang cukup teratur. Anak-anak mengikuti pendidikan umum sesuai kurikulum pemerintah, sementara pendidikan agama ditempuh melalui lembaga keagamaan di luar sekolah umum.
Di sekolah yang menggunakan kurikulum pemerintah, masyarakat setempat menyebutnya sebagai kurikulum akademik untuk membedakannya dari kurikulum agama.
Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Thai atau Siyam. Dari sekolah yang saya kunjungi, pendidikan agama tidak menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah umum tersebut.
Salah satu sekolah dasar yang saya datangi menerapkan lima hari sekolah, Senin hingga Jumat, mulai pukul 08.00 hingga 16.00. Waktu tersebut digunakan untuk menyelesaikan kurikulum nasional.
Lalu, bagaimana dengan pendidikan agama? Di sinilah TADIKA mengambil peran.
TADIKA (Taman Didikan Kanak-Kanak) bukan PAUD atau TK sebagaimana yang umum dikenal di Indonesia. Lembaga ini merupakan tempat pendidikan agama bagi anak-anak Muslim, umumnya berusia 4 hingga 12 tahun.
Modelnya memiliki kemiripan dengan Madrasah Diniyah (Madin) di Indonesia. Saya bahkan teringat istilah yang pernah digunakan masyarakat Indonesia pada masa lalu, yakni "sekolah Arab" atau "sekolah sore".
Disebut sekolah Arab karena sebagian literatur dan pembelajarannya menggunakan tulisan Arab. Sementara istilah sekolah sore merujuk pada waktu pelaksanaannya setelah sekolah formal.
Di Thailand Selatan, TADIKA umumnya memiliki pola yang berbeda. Kegiatan belajar banyak dilaksanakan pada Sabtu dan Ahad dan lokasinya menyatu dengan kompleks masjid.
Selain menjadi tempat pendidikan agama, TADIKA juga memiliki fungsi dalam mempertahankan identitas Melayu masyarakat Muslim setempat.
Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar, dengan Aksara Jawi, yakni huruf Arab yang telah disesuaikan untuk penulisan Bahasa Melayu, digunakan dalam berbagai literatur keagamaan dan penanda lokal.
Saya juga menemukan pola berbeda ketika mengunjungi sebuah sekolah tingkat Mutawasithah, yang setara dengan jenjang sekolah menengah.
Di sekolah tersebut, pendidikan agama justru diberikan pada pagi hari. Sementara pendidikan umum dimulai pada siang hari, sekitar pukul 13.00.
Belajar di TADIKA memang bukan kewajiban hukum yang ditetapkan pemerintah. Namun, kedudukannya cukup kuat dalam norma sosial masyarakat Muslim setempat.
"Bagi masyarakat Muslim di Thailand Selatan, anak yang tidak bersekolah TADIKA—meski tidak ada kewajiban legal formal—merupakan kewajiban moral masyarakat. Sehingga mereka akan dipandang aneh dan sangat tidak elok oleh tetangga," ujar Saifuddin, salah satu guru di Ma’had Ar-Rasyidin.
Selain melalui TADIKA, pendidikan agama juga ditempuh melalui pesantren. Kegiatan tersebut biasanya berlangsung pada malam hari setelah anak-anak mengikuti sekolah umum pada siang hari.
Pola ini menunjukkan bagaimana masyarakat mengatur waktu agar pendidikan umum dan pendidikan agama tetap berjalan beriringan.
Dukungan Pemerintah untuk Sekolah Swasta
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah dukungan finansial dari Kerajaan Thailand terhadap pendidikan.
Bantuan pemerintah tidak hanya diberikan kepada sekolah negeri, tetapi juga menjangkau sekolah swasta berbasis Islam.
Seorang pengasuh pesantren yang juga mengelola sekolah dasar swasta menjelaskan sejumlah bentuk subsidi yang diterima sekolah.
Menurutnya, terdapat bantuan sekitar 9.000 baht per anak setiap tahun untuk kebutuhan pendidikan, termasuk di antaranya pembiayaan guru.
Selain itu, sekolah juga memperoleh dukungan untuk kebutuhan makan harian siswa. Pengelolaannya dilakukan oleh sekolah dengan mempekerjakan juru masak.
Ada pula bantuan berupa susu, buku pelajaran, buku tulis, seragam lengkap hingga sepatu, serta biaya rekreasi atau piknik tahunan yang disesuaikan dengan tingkat kelas.
Dukungan tersebut juga disebut berpengaruh terhadap kesejahteraan tenaga pendidik.
Salah seorang warga lokal menceritakan bahwa istrinya yang mengajar di sekolah swasta tersebut memperoleh gaji sekitar Rp8 juta per bulan.
Bagi saya, pengalaman selama lima hari di Thailand Selatan memperlihatkan satu hal penting: pendidikan masyarakat Muslim di kawasan ini tidak hanya berbicara tentang sekolah.
Ada upaya untuk memenuhi tuntutan pendidikan nasional sekaligus mempertahankan pendidikan agama dan identitas Melayu yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Perpaduan antara tradisi masyarakat dan dukungan fasilitas pendidikan dari pemerintah menjadi bagian dari cara masyarakat Muslim Thailand Selatan menyiapkan generasi muda mereka di tengah perubahan zaman.
EDUKASIA.ID – Lima hari berada di Thailand Selatan, khususnya di kawasan Yala, atau yang oleh masyarakat lokal disebut Jala, memberi saya kesempatan untuk melihat langsung bagaimana pendidikan anak-anak Muslim dijalankan.
Dari sejumlah wawancara yang saya lakukan, terlihat bahwa masyarakat Muslim di kawasan ini menghadapi tantangan yang khas. Pendidikan anak harus berjalan di antara tuntutan sistem pendidikan negara dan kewajiban memperdalam ilmu agama.
Di satu sisi, terdapat kewajiban mengikuti pendidikan yang ditetapkan Kerajaan Thailand bagi anak usia 6 hingga 15 tahun, atau jenjang yang setara SD hingga SMP.
Di sisi lain, tradisi tafaqquh fiddin, yakni pendalaman ilmu agama, telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Muslim di Thailand Selatan. Tradisi tersebut berkaitan erat dengan sejarah Kesultanan Patani sejak abad ke-15.
Keduanya kemudian dijalankan melalui pembagian waktu yang cukup teratur. Anak-anak mengikuti pendidikan umum sesuai kurikulum pemerintah, sementara pendidikan agama ditempuh melalui lembaga keagamaan di luar sekolah umum.
Sekolah Umum dan TADIKA
Di sekolah yang menggunakan kurikulum pemerintah, masyarakat setempat menyebutnya sebagai kurikulum akademik untuk membedakannya dari kurikulum agama.
Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Thai atau Siyam. Dari sekolah yang saya kunjungi, pendidikan agama tidak menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah umum tersebut.
Salah satu sekolah dasar yang saya datangi menerapkan lima hari sekolah, Senin hingga Jumat, mulai pukul 08.00 hingga 16.00. Waktu tersebut digunakan untuk menyelesaikan kurikulum nasional.
Lalu, bagaimana dengan pendidikan agama? Di sinilah TADIKA mengambil peran.
TADIKA (Taman Didikan Kanak-Kanak) bukan PAUD atau TK sebagaimana yang umum dikenal di Indonesia. Lembaga ini merupakan tempat pendidikan agama bagi anak-anak Muslim, umumnya berusia 4 hingga 12 tahun.
Modelnya memiliki kemiripan dengan Madrasah Diniyah (Madin) di Indonesia. Saya bahkan teringat istilah yang pernah digunakan masyarakat Indonesia pada masa lalu, yakni "sekolah Arab" atau "sekolah sore".
Disebut sekolah Arab karena sebagian literatur dan pembelajarannya menggunakan tulisan Arab. Sementara istilah sekolah sore merujuk pada waktu pelaksanaannya setelah sekolah formal.
Di Thailand Selatan, TADIKA umumnya memiliki pola yang berbeda. Kegiatan belajar banyak dilaksanakan pada Sabtu dan Ahad dan lokasinya menyatu dengan kompleks masjid.
Selain menjadi tempat pendidikan agama, TADIKA juga memiliki fungsi dalam mempertahankan identitas Melayu masyarakat Muslim setempat.
Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar, dengan Aksara Jawi, yakni huruf Arab yang telah disesuaikan untuk penulisan Bahasa Melayu, digunakan dalam berbagai literatur keagamaan dan penanda lokal.
Saya juga menemukan pola berbeda ketika mengunjungi sebuah sekolah tingkat Mutawasithah, yang setara dengan jenjang sekolah menengah.
Di sekolah tersebut, pendidikan agama justru diberikan pada pagi hari. Sementara pendidikan umum dimulai pada siang hari, sekitar pukul 13.00.
Malu Jika Tidak Belajar Agama
Belajar di TADIKA memang bukan kewajiban hukum yang ditetapkan pemerintah. Namun, kedudukannya cukup kuat dalam norma sosial masyarakat Muslim setempat.
"Bagi masyarakat Muslim di Thailand Selatan, anak yang tidak bersekolah TADIKA—meski tidak ada kewajiban legal formal—merupakan kewajiban moral masyarakat. Sehingga mereka akan dipandang aneh dan sangat tidak elok oleh tetangga," ujar Saifuddin, salah satu guru di Ma’had Ar-Rasyidin.
Selain melalui TADIKA, pendidikan agama juga ditempuh melalui pesantren. Kegiatan tersebut biasanya berlangsung pada malam hari setelah anak-anak mengikuti sekolah umum pada siang hari.
Pola ini menunjukkan bagaimana masyarakat mengatur waktu agar pendidikan umum dan pendidikan agama tetap berjalan beriringan.
Dukungan Pemerintah untuk Sekolah Swasta
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah dukungan finansial dari Kerajaan Thailand terhadap pendidikan.
Bantuan pemerintah tidak hanya diberikan kepada sekolah negeri, tetapi juga menjangkau sekolah swasta berbasis Islam.
Seorang pengasuh pesantren yang juga mengelola sekolah dasar swasta menjelaskan sejumlah bentuk subsidi yang diterima sekolah.
Menurutnya, terdapat bantuan sekitar 9.000 baht per anak setiap tahun untuk kebutuhan pendidikan, termasuk di antaranya pembiayaan guru.
Selain itu, sekolah juga memperoleh dukungan untuk kebutuhan makan harian siswa. Pengelolaannya dilakukan oleh sekolah dengan mempekerjakan juru masak.
Ada pula bantuan berupa susu, buku pelajaran, buku tulis, seragam lengkap hingga sepatu, serta biaya rekreasi atau piknik tahunan yang disesuaikan dengan tingkat kelas.
Dukungan tersebut juga disebut berpengaruh terhadap kesejahteraan tenaga pendidik.
Salah seorang warga lokal menceritakan bahwa istrinya yang mengajar di sekolah swasta tersebut memperoleh gaji sekitar Rp8 juta per bulan.
Bagi saya, pengalaman selama lima hari di Thailand Selatan memperlihatkan satu hal penting: pendidikan masyarakat Muslim di kawasan ini tidak hanya berbicara tentang sekolah.
Ada upaya untuk memenuhi tuntutan pendidikan nasional sekaligus mempertahankan pendidikan agama dan identitas Melayu yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Perpaduan antara tradisi masyarakat dan dukungan fasilitas pendidikan dari pemerintah menjadi bagian dari cara masyarakat Muslim Thailand Selatan menyiapkan generasi muda mereka di tengah perubahan zaman.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.