Tak Mau Terjebak Gaya Hidup, Begini Cara Hanin Kelola Uang Beasiswa

Arifah
0

Hanin, mahasiswa UMBY Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Foto Kemendiktisaintek.

Yogyakarta, EDUKASIA.ID - Kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS) sempat membuat Hanin khawatir soal biaya.

Namun, kekhawatiran itu sirna setelah mahasiswa UMBY tersebut mendapat Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

Hanin memilih UMBY setelah mendapat rekomendasi dari orang terdekat. Ia juga semakin yakin setelah mengetahui kualitas lulusan Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UMBY.

"Bahkan ada alumni sini yang pernah membimbing mahasiswa PTN ternama dalam proyek pemodelan pemrograman. Dari situ saya makin yakin dengan kualitas UMBY," ungkap Hanin, ditulis Rabu 19 Agustus 2026.

Bagi Hanin, KIP-K sangat membantu. Seluruh biaya pendidikan berupa SPP/UKT disalurkan langsung kepada universitas. Selain itu, ia mendapat bantuan biaya hidup setiap bulan.

Meski begitu, Hanin menyadari beasiswa tidak berarti semua kebutuhan selama kuliah otomatis terpenuhi. Justru kebutuhan operasional sehari-hari dan penunjang tugas menjadi pengeluaran yang harus ia atur dengan cermat.

"Selama bisa menjaga gaya hidup tetap terukur dan tidak tergiur perilaku konsumtif, pengeluaran bulanan sebenarnya masih sangat bisa dikendalikan. Rasa terasing atau kena FOMO jujur tidak terlalu saya rasakan. Keinginan buat ikut tren atau gaya hidup tertentu itu wajar di usia mahasiswa, tapi saya selalu ingat batas dan prioritas kebutuhan utama," jelasnya.

Selain mengatur keuangan, Hanin juga harus mempertahankan prestasi akademik. KIP-K yang diterimanya mensyaratkan IPK minimal 2,75.

Alih-alih menganggapnya sebagai beban, Hanin menjadikan syarat tersebut sebagai motivasi. Ia membagi waktu antara kuliah dan berbagai kegiatan.

Hanin terlibat dalam tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan mengikuti sejumlah lomba inovasi digital.

Kerja keras itu berbuah hasil. Pada semester 4, Hanin berhasil memperoleh IP 3,88.

Tak hanya aktif di kampus, Hanin juga mulai mencari penghasilan tambahan. Ia memilih belum mengambil pekerjaan penuh waktu agar kuliah dan kegiatan organisasi tetap menjadi prioritas.

Salah satu pekerjaan yang dijalaninya adalah menjadi asisten dosen. Selain mendapat penghasilan tambahan, pekerjaan itu membuat Hanin bisa memperdalam materi perkuliahan.

Namun, membagi waktu antara kuliah dan mencari uang ternyata tidak selalu mudah. Hanin sempat berada di fase hampir burnout.

"Dari situ saya sadar, memaksakan diri berlebihan justru bikin hasil merosot. Kuncinya kembali ke skala prioritas dan menyusun jadwal harian agar kesehatan serta nilai kuliah tidak dikorbankan," tuturnya.

Untuk menghindari pengeluaran berlebihan, Hanin memiliki dua cara sederhana. Ia mencatat arus keuangan melalui aplikasi di ponsel dan menerapkan aturan Jeda 7 Hari sebelum membeli barang non-esensial.

Jika setelah seminggu keinginan membeli barang tersebut sudah hilang, Hanin menganggap barang itu memang tidak benar-benar dibutuhkan.

Menurut Hanin, mahasiswa seharusnya lebih fokus pada karya dan pencapaian daripada barang yang digunakan.

Ia juga punya pandangan sendiri soal makna Merdeka Keuangan Pendidikan Kuliah. Baginya, kondisi itu tercapai ketika mahasiswa bisa fokus belajar dan mengejar cita-cita tanpa terhambat persoalan biaya.

"Bisa kuliah tenang tanpa memikirkan tagihan SPP atau uang gedung adalah bentuk kemerdekaan belajar yang sangat nyata buat saya," tegasnya.

Hanin mengingatkan calon mahasiswa agar tidak menganggap beasiswa sebagai jalan pintas. Ada tanggung jawab yang tetap harus dijalankan, terutama dalam mengelola biaya hidup.

"Mulailah bergerak dari sekarang. Rajin cari informasi beasiswa, asah manajemen waktu, dan terus upgrade kapasitas diri. Jangan cuma menunggu, karena doa yang kuat harus diimbangi dengan aksi nyata," pesannya.

Ke depan, Hanin ingin lulus tepat waktu dengan IPK memuaskan. Ia juga berharap ilmu yang didapat selama kuliah bisa diterapkan untuk masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top