Tampung 2.692 Siswa, Taj Yasin Sebut Sekolah Rakyat di Jateng Putus Rantai Kemiskinan

Moh. Miftahul Arief
0
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menerima Tim Deputi Bidang Pencegahan dan Monitoring KPK RI, di Semarang, Rabu 5 Agustus 2026. Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID – Program Sekolah Rakyat di Jawa Tengah menampung 2.692 siswa pada tahun ajaran 2026/2027, tersebar di 10 Sekolah Rakyat permanen dan enam sekolah rintisan.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menilai program tersebut menjadi salah satu jalan untuk memutus rantai kemiskinan sekaligus menekan angka putus sekolah.

“Sekolah Rakyat ini jalan untuk memutus rantai kemiskinan. Karena bagaimana pun juga angka kemiskinan di Jawa Tengah masih relatif tinggi,” kata Taj Yasin di Semarang, Rabu 5 Agustus 2026.

Pernyataan itu disampaikan saat ia mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menerima Tim Deputi Bidang Pencegahan dan Monitoring KPK RI. Pertemuan tersebut membahas perencanaan dan pelaksanaan Program Sekolah Rakyat di Jawa Tengah.

Menurut Taj Yasin, Pemprov Jateng berkomitmen mengawal program tersebut. Sekolah Rakyat diharapkan membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

“Harus kita kawal karena ini adalah gagasan presiden kita yang tujuannya untuk memuliakan keluarga miskin, sehingga sekolah rakyat ini benar-benar memfasilitasi kebangkitan orang-orang kecil,” katanya.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu mengatakan, Jawa Tengah telah memiliki pengalaman mengelola sekolah berasrama bagi siswa dari keluarga kurang mampu.

Saat ini, terdapat tiga sekolah berasrama penuh di Kabupaten Pati, Kabupaten Semarang, dan Purbalingga. Selain itu, terdapat 15 sekolah semi-boarding.

“Dengan adanya Program Sekolah Rakyat kami tentu senang, karena ini sejalan dengan rintisan yang telah kami lakukan sekitar 10 tahun terakhir,” katanya.

Kuota Jenjang SD Belum Terpenuhi

Kepala Dinas Sosial Jawa Tengah Imam Maskur menjelaskan, sebanyak 2.692 siswa Sekolah Rakyat terdiri atas 380 siswa SD, 1.038 siswa SMP, dan 1.274 siswa SMA.

Seluruh siswa telah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 31 Juli 2026.

Sebanyak 10 Sekolah Rakyat permanen berada di Kabupaten Pati, Banyumas, Wonosobo, Sragen, Jepara, Brebes, Cilacap, Sukoharjo, Rembang, dan Kota Semarang.

Adapun enam Sekolah Rakyat rintisan telah berjalan di Banjarnegara, Temanggung, Blora, Kota Magelang, Kabupaten Magelang, dan Kebumen.

Imam mengatakan, penerimaan siswa jenjang SMP dan SMA hampir seluruhnya telah memenuhi kuota. Namun, penerimaan siswa Sekolah Rakyat Dasar (SRD) masih menghadapi kendala.

Banyak orang tua belum siap melepas anak berusia enam hingga tujuh tahun untuk tinggal di asrama.

Untuk mengoptimalkan kapasitas sekolah, Kementerian Sosial memperbolehkan kuota jenjang SD yang belum terisi dialihkan menjadi tambahan rombongan belajar pada jenjang SMP dan SMA.

Imam menambahkan, pengembangan Sekolah Rakyat di Jawa Tengah akan terus dilakukan seiring kesiapan lahan di sejumlah daerah. Pemerintah kini juga memproses pembangunan sekolah di sejumlah kabupaten agar jangkauan layanan pendidikan semakin luas.

Apabila seluruh 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah memiliki Sekolah Rakyat, program tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 35 ribu siswa.

Kapasitas itu belum mencakup seluruh anak dari keluarga miskin maupun anak putus sekolah. Karena itu, pengembangan Sekolah Rakyat akan dilakukan secara bertahap.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top